Video of the day

Search This Blog

Saturday, April 10, 2010

KILAS SEJARAH FILSAFAT BARAT





1. Masa Kuno
A. Permulaan: Filsafat Pra-Sokrates di Yunani
Bebicara masalah filsafat barat, berarti kita membicarakan hamper seluruh bagian sejarah filsafat. Karena, sebagian besar sejarah filsafat adalah dating dari dunia barat.
Sejarah filsafat Barat dimulai dari Milete, di Asia kecil, sekitar tahun 600 S.M. Pada waktu itu Milete merupakan kota yang penting, di mana banyak jalur perdagangan bertemu di Mesir, Itali, Yunani dan Asia. Juga banyak ide bertemu di sini, sehingga Milete juga menjadi suatu pusat intelektual. Pemikir-pemikir besar di Milete lebih-lebih menyibukkan diri dengan filsafat alam. Mereka mencari suatu unsur induk ("archè") yang dapat dianggap sebagai asal segala sesuatu. Menurut Thales (± 600 S.M.) air-lah yang merupakan unsur induk ini. Menurut Anaximander (± 610-540 S.M.), segala sesuatu berasal dari "yang tak terbatas", dan menurut Anaximenes (± 585-525 S.M.) udara-lah yang merupakan unsur induk segala sesuatu. Pythagoras (± 500 S.M.) yang mengajar di Itali Selatan, adalah orang pertama yang menamai diri "filsuf". Ia memimpin suatu sekolah filsafat yang kelihatannya sebagai suatu biara di bawah perlindungan dari dewa Apollo. Sekolah Pythagoras sangat penting untuk perkembangan matematika .
Dua nama lain yang penting dari periode ini adalah Herakleitos (± 500 S.M.) dan Parmenides (515-440 S.M.). Herakleitos mengajarkan bahwa segala sesuatu "mengalir" ("panta rhei"): segala sesuatu berubah terus-menerus seperti air dalam sungai. Parmenides mengatakan bahwa kenyataan justru memang tidak berubah. Segala sesuatu yang betul-betul ada, itu kesatuan mutlak yang abadi dan tak terbagikan.

B. Puncak Kejayaan Jaman Klasik: Sokrates, Plato, Aristoteles
Puncak filsafat Yunani dicapai pada Sokrates, Plato dan Aristoteles. Sokrates (± 470-400 S.M.), guru Plato, mengajar bahwa akal budi harus menjadi norma terpenting untuk tindakan kita. Sokrates sendiri tidak menulis apa-apa. Pikiran-pikirannya hanya dapat diketahui secara tidak langsung melalui tulisan-tulisan dari cukup banyak pemikir Yunani lain, terutama melalui karya Plato. Plato (428-348 S.M.) menggambarkan Sokrates sebagai seorang alim yang mengajar bagaimana manusia dapat menjadi berbahagia berkat pengetahuan tentang apa yang baik .
Plato sendiri menentukan, bersama Aristoteles, bagi sebagian besar dari seluruh sejarah filsafat Barat selama lebih dari dua ribu tahun. Dunia yang kelihatan, menurut Plato, hanya merupakan bayangan dari dunia yang sungguh-sungguh, yaitu dunia ide-ide yang abadi. Jiwa manusia berasal dari dunia ide-ide. Jiwa di dunia ini terkurung di dalam tubuh. Keadaan ini berarti keterasingan. Jiwa kita rindu untuk kembali ke "surga ide-ide". Kalau jiwa "mengetahui" sesuatu, pengetahuan ini memang bersifat "ingatan". Jiwa pernah berdiam dalam kebenaran dunia ide-ide, dan oleh karena itu pengetahuan mungkin sebagai hasil "mengingat". Filsafat Plato merupakan perdamaian antara ajaran Parmenides dan ajaran Herakleitos . Dalam dunia ide-ide segala sesuatu abadi, dalam dunia yang kelihatan, dunia kita yang tidak sempurna, segala sesuatu mengalami perubahan. Filsafat Plato, yang lebih bersifat khayal daripada suatu sistem pengetahuan, sangat dalam dan sangat luas dan meliputi logika, epistemolgi, antropologi, teologi, etika, politik, ontologi, filsafat alam dan estetika.
Aristoteles (384-322 S.M.), pendidik Iskandar Agung, adalah murid Plato. Tetapi dalam banyak hal ia tidak setuju dengan Plato. Ide-ide menurut Aristoteles tidak terletak dalam suatu "surga" di atas dunia ini, melainkan di dalam benda-benda sendiri. Setiap benda terdiri dari dua unsur yang tak terpisahkan, yaitu materi ("hylè") dan bentuk ("morfè"). Bentuk-bentuk dapat dibandingkan dengan ide-ide dari Plato. Tetapi pada Aristoteles ide-ide ini tidak dapat dipikirkan lagi lepas dari materi. Materi tanpa bentuk tidak ada. Bentuk-bentuk "bertindak" di dalam materi. Bentuk-bentuk memberi kenyataan kepada materi dan sekaligus merupakan tujuan dari materi. Filsafat Aristoteles sangat sistematis. Sumbangannya kepada perkembangan ilmu pengetahuan besar sekali. Tulisan-tulisan Aristoteles meliputi bidang logika, etika, politik, metafisika, psikologi dan ilmu alam.

C. Helenisme
Iskandar Agung mendirikan kerajaan raksasa, dari India Barat sampai Yunani dan Mesir. Kebudayaan Yunani yang membanjiri kerajaan ini disebut Hellenisme (dari kata "Hellas", "Yunani"). Helenisme yang masih berlangsung juga selama kerajaan Romawi, mempunyai pusat intelektualnya di tiga kota besar: Athena, Alexandria (di Mesir) dan Antiochia (di Syria). Tiga aliran filsafat yang menonjol dalam jaman Helenisme, yaitu Stoisisme, Epikurisme dan Neo-platonisme.
Stoisisme (diajar oleh a.l. Zeno dari Kition, 333-262 S.M.) terutama terkenal karena etikanya. Etika Stoisisme mengajarkan bahwa manusia menjadi berbahagia kalau ia bertindak sesuai dengan akal budinya. Kebahagiaan itu sama dengan keutamaan. Kalau manusia bertindak secara rasional, kalau ia tidak dikuasai lagi oleh perasaan-perasaannya, maka ia bebas berkat ketenangan batin yang oleh Stoisisme disebut "apatheia".
Epikurisme (dari Epikuros, 341-270 S.M) juga terkenal karena etikanya. Epikurisme mengajar bahwa manusia harus mencari kesenangan sedapat mungkin. Kesenangan itu baik, asal selalu sekadarnya. Karena "kita harus memiliki kesenangan, tetapi kesenangan tidak boleh memiliki kita". Manusia harus bijaksana. Dengan cara ini ia akan memperoleh kebebasan batin.
Neo-platonisme. Seorang filsuf Mesir, Plotinos (205-270 M.), mengajarkan suatu filsafat yang sebagian besar berdasarkan Plato dan yang kelihatan sebagai suatu agama. Neo-platonisme ini mengatakan bahwa seluruh kenyataan merupakan suatu proses "emanasi" ("pendleweran") yang berasal dari Yang Esa dan yang kembali ke Yang Esa, berkat "eros": kerinduan untuk kembali ke asal ilahi dari segala sesuatu.

2. Jaman Patristik dan Skolastik (Masa Pertengahan)
A. Jaman Patristik, atau pemikiran para Bapa Gereja
Patristik (dari kata Latin "Patres", "Bapa-bapa Gereja") dibagi atas Patristik Yunani (atau Patristik Timur) dan Patristik Latin (atau Patristik Barat). Tokoh-tokoh dari Patristik Yunani antara lain Clemens dari Aleksandria (150-215), Origenes (185-254), Gregorius dari Nazianze (330-390), Basillus (330-379), Gregorius dari Nizza (335-394) dan Dionysios Areopagita (± 500). Tokoh-tokoh dari Patristik Latin terutama Hilarius (315-367), Ambrosius (339-397), Hieronymus (347-420) dan Augustinus (354-430).
Ajaran falsafi-teologis dari Bapa-Bapa Gereja menunjukkan pengaruh Plotinos. Mereka berusaha untuk memperlihatkan bahwa iman sesuai dengan pikiran-pikiran paling dalam dari manusia. Mereka berhasil membela ajaran Kristiani terhadap tuduhan dari pemikir-pemikir kafir. Tulisan-tulisan Bapa-bapa Gereja merupakan suatu sumber yang kaya dan luas ynng sekarang masih tetap memberi inspirasi baru.

B. Jaman Skolastik
Sekitar tahun 1000 peranan Plotinos diambil alih oleh Aristoteles. Aristoteles menjadi terkenal kembali melalui beberapa filsuf Islam dan Yahudi, terutama melalui Avicena (Ibn sina, 980-1037), Averroes (Ibn Rushd, 1126-1198) dan Maimonides (1135-1204). Pengaruh Aristoteles lama-kelamaan begitu besar sehingga ia disebut "Sang Filsuf", sedangkan Averroes disebut "Sang komentator". Pertemuan pemikiran Aristoteles dengan iman Kristiani menghasilkan banyak filsuf penting. Mereka sebagian besar berasal dari kedua ordo baru yang lahir dalam Abad Pertengahan, yaitu para Dominikan dan Fransiskan.
Filsafat mereka disebut Skolastik (dari kata Latin, "scholasticus", "guru"). Karena, dalam periode ini filsafat diajarkan dalam sekolah-sekolah biara dan universitas-universitas menurut suatu kurikulum yang tetap dan yang bersifat internasional. Tokoh-tokoh dari Skolastik itu lebih-lebih Albertus Magnus O.P. (1220-1280), Thomas Aquinas O.P. (1225-1274), Bonaventura O.F.M. (1217-1274) dan Yohanes Duns Scotus O.F.M. (1266-1308). Tema-tema pokok dari ajaran mereka itu: hubungan iman-akal budi, adanya dan hakikat Tuhan, antropologi, etika dan politik

3. Masa Modern
A. Jaman Renaissance
Jembatan antara Abad Pertengahan dan Jaman Modern, periode antara sekitar 1400 dan 1600, disebut quot;renaissance" (jaman "kelahiran kembali"). Dalam jaman renaissance, kebudayaan klasik dihidupkan kembali. Kesusasteraan, seni dan filsafat mencapi inspirasi mereka dalam warisan Yunani-Romawi. Filsuf-filsuf terpenting dari rainassance itu adalah Nicollo Macchiavelli (1469-1527), Thomas Hobbes (1588-1679), Thomas More (1478-1535) dan Francis Bacon (1561-1626).
Pembaharuan terpenting yang kelihatan dalam filsafat renaissance itu "antroposentris"-nya. Pusat perhatian pemikiran itu tidak lagi kosmos, seperti dalam jaman kuno, atau Tuhan, seperti dalam Abad Pertengahan, melainkan manusia. Mulai sekarang manusia-lah yang dianggap sebagai titik fokus dari kenyataan.

B. Jaman Barok
Filsuf-filsuf dari Jaman Barok: René Descartes (1596-1650), Barukh de Spinoza (1632-1677) dan Gottfried Leibniz (1646-1710). Filsuf-filsuf ini menekankan kemungkinan-kemungkinan akal budi ("ratio") manusia. Mereka semua juga ahli dalam bidang matematika.

C. Aufklarung
Abad ke delapan belas memperlihatkan perkembangan baru lagi. Setelah reformasi, setelah renaissance dan setelah rasionalisme dari Jaman Barok, manusia sekarang dianggap "dewasa". Periode ini dalam sejarah Barat disebut "Jaman Pencerahan" atau "Fajar Budi" (dalam bahasa Inggris, "Enlightenment", dalam bahasa Jerman, "Aufkl&0228;rung"). Filsuf-filsuf besar dari jaman ini di Inggris "empirikus-empirikus" seperti John Locke (1632-1704), George Berkeley (1684-1753) dan David Hume (1711-1776). Di Perancis Jean Jacque Rousseau (1712-1778) dan di Jerman Immanuel Kant (1724-1804), yang menciptakan suatu sintesis dari rasionalisme dan empirisme dan yang dianggap sebagai filsuf terpenting dari jaman modern.

D. Jaman Romantik
Filsuf-filsuf besar dari Romantik lebih-lebih berasal dari Jerman, yaitu J. Fichte (1762-1814), F. Schelling (1775-1854) dan G.W.F. Hegel (1770-1831). Aliran yang diwakili oleh ketiga filsuf ini disebut "idealisme". Dengan idealisme di sini dimaksudkan bahwa mereka memprioritaskan ide-ide, berlawanan dengan "materialisme" yang memprioritaskan dunia material. Yang terpenting dari para idealis kedua puluh harus dianggap sebagai lanjutan dari filsafat Hegel, atau justru sebagai reaksi terhadap filsafat Hegel.

E. Masa Kini
Dalam abad ketujuh belas dan kedelapan belas sejarah filsafat Barat memperlihatkan aliran-aliran yang besar, yang mempertahankan diri lama dalam wilayah-wilayah yang luas, yaitu rasionalisme, empirisme dan idealisme. Dibandingkan dengan itu, filsafat Barat dalam abad kesembilan belas dan kedua puluh kelihatan terpecah-pecah. Macam-macam aliran baru muncul, dan aliran-aliran ini sering terikat pada hanya satu negara atau satu lingkungan bahasa.
Aliran-aliran yang paling berpengaruh yaitu positivisme, marxisme, eksistensialisme, pragmatism dan lainnya.
Aliran-aliran paling baru
Pada sekarang ini ada dua aliran filsafat yang mempunyai peranan besar, tetapi yang belum dapat dianggap sebagai aliran yang "membuat sejarah", karena mereka masih terlalu baru. Kedua aliran ini adalah filsafat analitis dan strukturalisme.
Filsafat analitis merupakan aliran terpenting di Inggris dan Amerika Serikat, sejak sekitar tahun 1950. Filsafat analitis (yang juga disebut analitic philosophy dan linguistic philosophy) menyibukkan diri dengan analisis bahasa dan analisis konsep-konsep. Analisis ini dianggap sebagai "terapi": menurut filsuf-filsuf analitis, banyak soal falsafi (dan juga soal teologis dan ilmiah) dapat "sembuh" kalau, berkat analisis bahasa, bisa ditunjukkan bahwa soal-soal ini hanya diciptakan oleh pemakaian yang tidak sehat dari bahasa. Filsafat analitis sangat dipengaruhi oleh L. Wittgenstein
Strukturalisme berkembang di Perancis, lebih-lebih sejak tahun 1960. Strukturalisme merupakan suatu sekolah dalam filsafat, linguistik, psikiatri, fenomenologi agama, ekonomi dan politikologi. Sturukturalisme menyelidiki "patterns" (pola-pola dasar yang tetap) dalam bahasa-bahasa, agama-agama, sistem-sistem ekonomi dan politik, dan dalam karya-karya kesusasteraan. Tokoh-tokoh terkenal dari strukturalisme antara lain Cl. Lévi-Strauss, J. Lacan dan Michel Foucault
Akhirnya, dalam sejarah filsafat kita bertemu dengan hasil penyelidikan semua cabang filsafat. Sejarah filsafat mengajarkan jawaban-jawaban yang diberikan oleh pemikir-pemikir besar, tema-tema yang dianggap paling penting dalam periode-periode tertentu, dan aliran-aliran besar yang menguasai pemikiran selama suatu jaman atau di suatu bagian dunia tertentu. Cara berpikir tentang manusia, tentang asal dan tujuan, tentang hidup dan kematian, tentang kebebasan dan cinta, tentang yang baik dan yang jahat, tentang materi dan jiwa, alam dan sejarah. Tetapi ada banyak pertanyaan dan jawaban yang selalu kembali, di segala jaman dan di semua sudut dunia. Oleh karena itu sejarah filsafat sesuatu yang sangat penting. Karena dalam sejarah filsafat seakan-akan suatu dialog antara orang dari semua jaman dan kebudayaan tentang pertanyaan-pertanyaan yang paling penting.


KEPUSTAKAAN

Bertens, K.Cet ke-23..2007.Ringkasan Sejarah Filsafat.Yogyakarta : Kanisius.

Solihin, M.2007.Perkembangan Pemikiran Filsafat dari Klasik Hingga Modern.Bandung : Pustaka Setia

Surajiyo.2008.Ilmu Filsafat. Jakarta PT Bumi Aksara

Tafsir, Prof. Dr. Ahmad.2001.Filsafat Umum, Akal dan Hati sejak Thales Sampai Capra. Bandung : PT Remaja Rordakarya.

KILAS SEJARAH TEKNOLOGI KOMUNIKASI MANUSIA

Kalau kita berbicara tentang sejarah teknologi komunikasi manusia, sebenarnya tak bias lepas dari sejarah kehidupan manusia itu sendiri. Karena, perkembangan teknologi komunikasi manusia berkembang bersamaan dengan perkembangan kehidupan manusia.Ada empat unsur pokok perkembangan teknologimanusia (Varis, 1973), yaitu
a. perolehan bahasa
b. pengembangan seni tulisan
c. reproduksi kata-kata tertulis dengan menggunakan alat-alat cetak, yang memungkinkan mewujudkan komunikasi massa yang sebenarnya.
d. Munculnya komunikasi elektronik, mulai telegraf hingga satelit.
Dengan demikian, sejarah kehidupan manusia pada saat yang sama adalah sejarah komuikasi.
Manusia membutuhkan komunikasi yang bisa dilakukan dari jarak yang jauh atau bahkan sangat jauh. Dan hal ini telah muncul sejak zaman pra sejarah, untuk memberikan peringatan ketika ada peristiwa tertentu, yang biasanya dilakukan dengan berteriak sekuat-kuatnya.
Atau pada masa sejarah islam di makkah, dimana ummat islam menggunakan bukit yang sangat tinggi untuk dijadikan tempat mengumandangkan adzan sebagai tanda masuknya waktu shalat, agar semua ummat muslim mendengarnya. Dan ini merupakan langkah awal mekanisasi komunikasi manusia.
Seiring berjalannya waktu, kebudayaan manusia mulai berkembang dengan ditemukannya tulisan sebagai salah satu media komunikasi. Selain itu, tulisan juga membantu sen-save kejadian-kejadian penting ataupun ide-ide yang ada dan memungkinkan kita untuk berkomunikasi dalam ruang, dengan rahasia, tanpa diketahui orang lain maksud dan tujuan kita.
Namun sayangnya, pada saat itu tidak semua kalangan yang mengerti tulisan dan bahkan hanya segelintir orang saja yang mengetahuinya.
Pada abad pertengahan, terjadi ekspansi komunikasi yang menuntut teknik komunikasi yang sepenuhnya baru, karena jumlah pembaca mualai bertambah, sedangkan jika hanya menggunakan naskah surat saja tidak cukup. Sehingga, penemuan mesin cetak menjadi sarana utama teknologi komunikasi yang sangat mendukung saat itu dan juga menandai bermulanya riwayat komunikasi massa, karena sejak saat itulah ada kemungkinan untuk menyampaikan pesan kepada khalayak ramai yang panjang dan kompleks.
Sejak penemuan mesin cetak, perkembangan teknologi komunikasi semakin maju dan berkembang, karena tuntutan kehidupan manusia yang semakin kompleks.Penemuan ini juga menjadikan iteraksi sesame manusia bertambah mudah dan efektif.
Ditemukannya alat komunikasi elektronik, dari telegraph hingga satelit saat ini, pada pertengahan abad XIX menjadikan proses komunikasi menjadi sangat mudah dan memungkinkan komunikasi jarak jauh.
Bahkan, saat ini orang-orang menyebutnya sebagai era kebanjiran informasi, karena saking mudahnya dilakukannya sebuah proses komunikasi.
Sekarang yang menjadi pertanyaan bukan lagi bagaimana kita harus berkomunikasi? Tapi, apa yang harus dikomunikasikan?

BANJIR INFORMASI DAN MASYARAKAT INDONESIA

Pendahuluan

Tak ada satupun proses yang bisa menghentikan proses komunikasi, statment inilah yang selalu dikeluarkan oleh pakar komunikasi dimanapun. Perkembangan teknologi komunikasi yang sangat pesat saat ini menimbulkan banjir informasi di seluruh belahan dunia, termasuk juga di Indonesia. Sehingga, seakan-akan tak ada batas waktu dan ruang saat ini.
Ketika kemajuan di atas bersinggungan dengan masyarakat indonesia yang mayoritas masih terbelakang dan tinggal di pedesaan, maka muncullah kondisi baru dimana ada ketidak cocokan antara “stok informasi” yang datang dengan “wadah pengetahuan” masyarakat Indonesia yang menyebabkan mereka semakin terpuruk.

Televesi misalnya, yang merupakan salah satu celah yang dialiri banjir informasi, pada awalnya berfungsi sebagai penyela kesibukan. Akan tetapi sekarang malah menjadi penambah kesibukan dan bahkan sangat menyibukkan.
Banjir apapun dan apapun yang datang pada suatu komunitas atau masyarakat akan tetapi masyarakat itu siap dengan “bendungan luas” maka tak akan ada korban yang jatuh dalam “bencana” tersebut.

A. Perkembangan Teknologi Komunikasi Sebagai Faktor Banjir Informasi

Komunikasi sebagai suatu proses yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia mengawali sejarahnya bersamaan denga awal kehidupan manusia itu sendiri. Dan teknologi proses ini berkembang dari awal kehidupan hingga sekarang. Pengguunaan simbol-simbol sebagai media mengantarkan pesan serta penggunaan alat-alat yang memungkinkan bisa dimengerti oleh orang lain merupakan awal sejarah perkembangan tekniologi komunikasi.
Kemudian dilanjutkan dengan penemuan bahasa dan tulisan serta ditemukannya alat-alat yang bisa digunakan untuk menulis. Sejak saat inilah teknologi berkembangan dengan pesat,lebih-legih setelah alat cetak manual dan elektronik ditemukan yang terus berlanjut dengan telegram, telepon hingga satelit saat ini.

Perkembangan teknologi komunikasi yang sangat cepat membuat orang-orang semakin mudah berkomunikasi antara satu tempat yang sangat jauh dengan tempat lain di belahan dunia.
Perkembangan ini menjadikan dunia semakin kecil dan waktupun semakin singkat. Sehingga, seolah-olah kita hanya hidup di satu kamar kecilo yang sangat luas.

B. Banjir Informasi vs Sosial Kultur Masyarakat Indonesia

Indonesia adalah negeri yang heterogen dengan variasi suku, ras dan budaya yang sangat banyak. Negeri yang terletak di antara samudra hindia dan samudra pasifik ini hampir 80 % masyarakatnya hidup di pedesaan, dan kebanyakan dari mereka masih awam akan teknologi komunikasi . Lingkungan mereka masih sederhana dan cara berpikir merekapun masih kemiotos-mitosan .
Masyarakat indonesia pada umumnya masih terikat kuat dengan budaya mereka masing-masing, serta kebanyakan mereka selalu mencari hal-hal baru di dalam dan di luar hidup mereka.

Era baru yang hampir seluruhnya berpaham kapitalisme ini dimana banjir informasi telah menerjang hampir seluruh belahan dunia termasuk juga “nyelonong” masuk dalam sosial budaya “ndeso” masyarakat Indonesia.
Informasi yang ada saat ini sangat tidak terbatas dan bervariasi serta membutuhkan kesiapan yang matang untuk menerimanya.

Masyarakat indonesia yang mayoiritas masih awam tentang modernisme dan globalisasi tercenggang kala dihadapkan dengan “air bah informasi” yang datang dengan tiba-tiba. Lebih-lebih ketika media mengalir derasa dengar profit orientednya. Ketidak siapan ini menimbulkan banyak prinsip salah dalamkehidupan mereka. Kita ambil dua contoh yang mungking sagat familiar di telingan kita.
Prinsip yang pertama mengatakan“Yang baru itu baik” . Prinsip ini mejadikan mereka bebek yang hanya bisa ikut-ikutan. Semua barang dan informasi baru yang mereka dapat dianut dan ditelan mentah mentah tanpa ada filtrasi terlebih dahulu.

Susu bubuk merupakan barang baru dalam budaya indonesia. Dan banyak Ibu-ibu yang menggunakannya meski dalam keadaan terpaksa, tapi karena “yang baru itu baik” akhirnya mereka tetap memberikan susu bubuk meski dalam kondisi ekonomi yang sangat memperihatinkan, sehingga prosedur susu bubuk yang seharusnya lima sendok, malah dikasihkan dua atau satu sendok. Dan akibatnya bayi mereka terkena diare dan terkadang mematikan.
Prinsip yang kedua berbunyi “say no for an innovation is a false”, jadi, menolak sebuah inovasi itu salah . Prinsip ini sebenarnya sangat berkaitan dengan prinsip yang pertama. Pemahaman ini menganggap bahwa menolak inovasi dapat dipastikan sebagai gejala keterbelakangan dan kekolotan. Mungkin kita sudah paham kenapa orang-orang risih dikatakan tidak modern, terbelakang, ataupun konservatif, karena itulah terkadang orang-orang terpakasa menerima inovasi agar mereka tidak dikatakan terbelakang dan kolot.

Munculnya prinsip-prinsipdan keadaan yang saya kira kurang benar ini salah satu penyebabnya adalah kurang eksisnya media dalam menyadarnya masyarakat. Bahwa banjir informasi saat ini membutuhkan pengetahuan tentang informasi tersebut dan mengontrol mereka dalam mendapatkan informasi yang ada.
Sehingga, informasi yang pada awalnya berfungsi sebagai sosialisasi dunia lain dengan tujuan berbagi informasi, mendidik, transmisi budaya serta integrasi dan kemakmuran bangsa berada pada tempat yang seharusnya. Bukan malah menjadi kebingungan masyarakat dan melunturkan nilai-nilai budaya yang ada.

Onong Uchjana dalam bukunya Dinamika Komunikasi menulis. Komunikasi,terutama komunikasi massa, dengan fungsinya sebagai sarana hiburan,penerangan dan pendidikan menimbulkan pengaruh positif. Akan tetapi, jika kurang keterampilan, pengetahuan dan kewaspadaan pihak yang menanganinya, pengaruhnya yang negatif juga tidak sedikit. Melihat ketidak siapan masyarakat menerima pesan-pesan yang disampaikan yang pengaruhnya dapat merusak nilai-nilai yang seharusnya dipertahankan dan dikembangkan .

Dan ketika kita berkaca pada fenomena di atas, ternyata memang benar ketika Indonesia dikatakan sebagai “negeri bebek”.


KEPUSTAKAAN
• Effendi, Unong Uchjana, Dinamika Komunikasi, Bandung : Remaja Karya, 1986
• Mawardi dan Ir. Nur HIdayati, IAD-IBD-ISD, untuk UIN, IAIN dan PTAIS,
Bandung : Pustaka Setia, 2007

• Sutaryo, Sosiologi Komunikasi, Yogyakarta : Arti Bumi Intaran, 2005
• Ranjabar, Jacobus, Sistem Sosial Budaya Indonesia, Bogor : Ghalia Indonesia, 2006
• Wardana, Veven SP, apitalisme Televisi dan Strategi Budaya, Jogjakarta : Pustaka
Pelajar, 1997
• McQuail, Denis,Teori Komunikasi Massa,Suatu Pengantar, Jakarta : Erlangga, 1989

REALITA IMPLEMENTASI TAUHID SOSIAL DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT


Konsep awal dari tauhid adalah menempatkan Allah sebagai Rabb. Allah telah menciptakan alam semesta sebagai khaliq (pencipta), dan kita adalah makhluq (yang diciptakan). Sehingga, manusia harus tunduk pada penciptanya. Konsep ini merupakan konsep paling pokok dalam aqidah, sehingga jika seseorang belum mengimani hal ini ia tidak dapat dianggap sebagai seorang muslim yang lurus.
Akan tetapi, konsep tauhid dalam tataran yang lebih luas tidak cukup hanya dengan membenarkan bahwa Allah itu Maha Esa. Tauhid sejatinya memerlukan manifestasi dalam realitas empiris.
Jika tauhid kita artikan peng-esaan Tuhan, pengakuan kita bahwa Tuhan hanya ada satu. Dan artinya kita hanya fokus kepada satu Tuhan, tidak lebih tidak kurang, dan Dia tidak lain adalah Allah SWT. Seperti yang saya katakan tadi, pengesaan ini adalah konsep awal dan utama dalam tauhid. Maka menurut penulis, salah satu aplikasi sosialnya adalah tidak adanya peramal dan dukun, artinya kita hanya percaya bahwa Allah-lah yang bisa memberikan pertolongan, bukan dukun, bukan pula peramal.Karena jika kita tidak berpikiran demikian, maka berarti kita telah menduakan Dia sebagai Yang Maha memberikan pertolongan.
Akan tetapi, hal ini mulai terhapus dan dihapus pada masa ini, terutama bisa kita lihat munculnya dukun-dukun entertainer yang sering muncul di televisi, entah Mama laurent, Ki Bodo atau yang lainnya.
Tapi konsep pengesaan ini tidak hanya berhenti di sini saja, jika kita menariknya lebih dalam ia memiliki hal lain yang harus kita aplikasikan dalam kehidupan sosial juga, yaitu tadi dikatakan bahwa pengesaan Tuhan berarti hanya fokus kepada satu Tuhan, maka dalam kehidupan sehari-hari kita juga harus fokus tehadap kewajiban yang kita emban, tidak boleh menduakan kewajiban itu dengan kepentingan lain apalgi kepentingan pribadi.
Dan lagi-lagi, nampaknya makna ini juga sudah mulai tidak berlaku lagi dalam masyarakat kita. Contoh kecilnya adalah realita kehidupan para guru—terutama pns—saat ini. Kita tahu bahwa kewajiban utama seorang guru adalah mendidik anak didik mereka, menjadikan anak didik mereka berpendidikan yang sesungguhnya, memanusiakan anak-anak didik mereka. Akan tetapi hal ini berbanding terbalik dengan kenyataan saat ini, dimana banyak guru yang tidak hanya menjadi guru, ada yang merangkap pengusaha, wiraswasta atau profesi lain dan akhirnya waktu mereka untuk mengajar terkadang terenggut untuk hal-hal yang bukan dalam lingkup mendidika anak-anak mereka. Ini berarti bahwa mereka telah menduakan kewajiban mereka sebagai seorang guru, mereka tidak fokus terhadap satu kewajiban utama mereka, mereka termasuk orang-orang yang “musyrik sosial”, menyekutukan kewajiban mereka dengan kepentingan pribadi (setidaknya begitulah saya menyebutnya).
Makna lain—dan merupakan kelanjutan dari makna diatas—adalah bahwa tauhid bisa diartikan kesetiaan dan ketaatan kita terhadap Tuhan. Kita bertauhid berarti kita mengikat diri dengan janji kita dengan Tuhan; janji untuk taat terhadap segala aturan yang Dia berikan. Kita tidak bisa dikatan sebagai orang yang bertauhid ketika kita melanggar janji kita dengan Tuhan, ketika kita mengingkari perintahnya, meskipun kita tetap percaya dan teguh bahwa Tuhan itu esa. Artinya, tidak cukup dengan mengesakan Tuhan tanpa melakukan ibadah-ibadah yang di perintahkanNya, baik ibadah spiritual maupun sosial.
Tidak bisa kita pungkiri jika saat ini banyak orang percaya bahwa Tuhan itu Esa, mengaku bahwa Muhammad itu Nabi mereka, akan tetapi mereka tidak pernah sekalipun melakukan penyembahan terhadapNya baik melalu shalat ataupun puasa atau yang lainnya, mereka juga tidak peka terhadap kehidupan sekitarnya, mereka tidak menghiraukan ketimpangan-ketimpangan sosial yang terjadi didekatnya. Hal ini menunjukkan bahwa Tauhid hanya menjadi pajangan hati saja, tanpa implikasi sosial yang berarti.
Makna ini juga mempunya sisi lain yang dapat dan harus kita implementasikan dalam kehidupan sosial. Kesetiaan dan ketaatan adalah sebuah keniscayaan yang harus kita miliki selama kita menginginkan kehidupan yang tentram. Karena hanya dengan keduanya kita bisa menjalin relasi yang baik dengan orang lain, hanya dengan keduanya kita bisa membangun kepercayaan orang lain trhadap kita. Kita harus setia terhadap aturan dan hukum sosial yang ada, kita juga harus setia dan taat terhadap segala janji yang kita ucapkan terhadap orang lain. Ini adalah pondasi kita untuk menggapai kesejahteraan bersama sebagai mahluk yang oleh Plato disebut Zoon Politicon atau mahluk yang bermasyarakat.
Jika kita ingat sebuah perkataan Nabi yang menyatakan bahwa jika berjanji lalu kita mengingkari, maka itu berarti kita masuk dalam golongan orang-orang munafik. Maka sama dengan hal ini, jika kita tidak setia dan tidak taat terhadap janji kita dalam ranah sosial, maka itu berarti bahwa kita “munafik sosial”.
Tapi, lagi-lagi hal ini juga nampak mulai luntur dalam kehidupan masyarakat kita. Pengingkarana dan penghianatan telah banyak dilakukan oleh banyak orang, termasuk oleh para petinggi negeri yang megingkari janjinya dengan memakan uang yang seharusnya tidak mereka makan. Pengingkaran tauhid sosial ini juga dilakukan oleh para tullab—yang seharusnya jujur—dengan budaya “mengutip total” alias plagiat bin copy-tempel tugas-tugas mereka, agar mendapatkan nilai bagus yang mana hal ini juga berarti “musyrik” terhadap kewajiban utama mereka, krena menduakan kewajiban mencari ilmu dengan mencari nilai.
Seharusnya, dengan Tauhid Sosial tersebut, realita-realita menyedihkan di atas tidak muncul, dengan Tauhid Sosial umat Islam seharusnya mempraktikkan nilai-nilai Tauhid ke dalam realitas sosial secara benar. Seorang muslim tidak cukup hanya menjalankan tauhid dengan meyakini bahwa Allah itu esa, tetapi juga harus menjalankan perintahNya dan peka terhadap urusan kemanusiaan, sehingga muncul keseimbangan antara ibadah dan perilaku sosial. Hal inilah yang disebut sebagai amal shalih.

Sunday, March 21, 2010

BACKGROUND OF RESEARCH PROPOSAL


Background contains rationale or why the topic is important.
There are many method to make a background, and one of them is “spiderreason”.
What is that? I will not explain what it is, but I will give you the example. (and then you conclude, what is “spiderreason”)
Firstly, you must have a topic. Here I will take the topic “Using Facebook as the online media in learning English”. (very simple topic, but interesting! Ouh yah, this is not my own topic…I get it from a great friend in when we are in a writing class)
I have said that background contains rational or why it is important. So, why facebook can be the online media in learning English? How is the relationship? What are the reasons?
Now, we will make a spiderreason. From the topic, find as much as possible the reason (but of course it is not until 100 reason! :-)
For example:

1. FB is the most popular social networking media and easily accessible
2. the majority of students can operate and have FB account
3. it is easier to share idea and information with the “friends”
4. theories and previous researches show that practicing the language develop skills
5. there are features that enable students to communicate with English native speaker
6. the majority of students use English as the default language of their FB
7. from my experience and small interview with my friends, I learn that FB is fun

After you have got the reason, then, decide which reason has closer relation to the topic and rationalize it; relates it.

Rational
1. Learning language needs practice
FB enable students to practice communicating in English with friends and native speaker (refer to 4,6, and 3 reason above)
2. Pedagogical principle of language states that fun learning help the acquisition of language (refer to the last reason above)
3. Features in FB provide rooms for the students to use their English in two ways communication, between writer and reader
Then, choose the rational above to be included to the background. If you think that all of them are necessary to be included, so, include them. If not, do not do it.
And the last, f you have more than one rational, then arrange the order; which one must be in the first, second and so on.

Notes: how if the reader do not know FB? How if they ask what FB is? Must we explain it in the background? Is it necessary to be explained?
Necessary? maybe yes, maybe no. if you think that it is important to be explained, do not put it in the background, you can put it in data analysis, introduction, or better in literature review.

Saturday, March 20, 2010

THE COMMON PART OF RESEARCH PROPOSAL

I. Introduction
- Background (This sets out why you chose your topic - what prompted your interest in the topic)
- Problems (the issue that exists in the literature, theory, or practice that leads to a need for the study)
- Scope and limitation (A delimitation addresses how a study will be narrowed in scope, that is, how it is bounded. This is the place to explain the things that you are not doing and why you have chosen not to do them—the literature you will not review (and why not), the population you are not studying (and why not), the methodological procedures you will not use (and why you will not use them).)
- Significance (why the topic is important for the discipline or course)

II. Literature review
The review of the literature provides the background and context for the research problem. It should establish the need for the research and indicate that the writer is knowledgeable about the area

III. Research Method

- Design (This section outlines how you are going to get your data. By reading widely you will be familiar with methodologies followed by previous researchers and have explored possible research methods)
- data collection (Outline the general plan for collecting the data. This may include survey administration procedures, interview or observation procedures. Include an explicit statement covering the field controls to be employed.)
- subject
- data analysis (This section suggests what you are going to do with the data)

IV. Bibliography

About Me