Video of the day

Search This Blog

Showing posts with label Ilmu Komunikasi. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Komunikasi. Show all posts

Tuesday, May 18, 2010

JURNALISTIK DASAR

PENDAHULUAN
Radio menempatkan diri sebagai medium penyiaran berita aetara dengan media strategi lainnya, seperti media cetak dan televise. Perkembangan jurnalistik radio di indonesiadari segi umur masih bayi, bahkan baru “lahir kembali” ketika mentri penerangan M Yunus yosfiah mengeluarkan surat edara nomer 134/ SK/MENPEN/1998 tertanggal 5 juni 1998, yang berisi pengurangan”kewajiban”relay warta berita RRi dari empat belas kali menjadi tiga kali sehari, pemberian izin bagi radio swasta untuk membuat dan menyiarkan berita sendiri, intonasi maupun gaya bahasa jurnalistik yang sesuai dengan sekmen pendengar radio bersangkutan.

Dengan adanya jurnalistik radio mahasiswa dapat berlatih menjadi reporter yang sekaligus penyiar radio dan penyiar yang juga reporter radio, tercakup tiga komponen yang esensial yaitu kemauan mahasiswa untuk berlatih, keinginan instruktur untuk memeriksa tugas, dan modul yang bisa dipakai berlatih sendiri. Bila ketiga komponen ini dialamatkan kepengajaran jurnalistik radio di perguruan tinggi, kita akan sedih, sebab ketiganya tidak tersedian dengan baik. Kita lihat jarang sekali mahasiswa yang mau mengalami pertubian (drilling) dalam waktu yang cukup lama mereka cendrung berlatih hannya untuk memenuhi kewajiban yang diberikan instuktur, mereka seolah-olah berpendapat bahwa latihan bukan untuk mereka melainkan untuk isntruktur.

Gambaran instruktur dalam mengajarkan jurmalistik radio dipergururan tinggi juga tak kalah suramnya. Tidak banyak diantara mereka yang bersedia memeriksa tugas mahsiswa secara rinci hingga sebuah tugas dikerjakan oleh mahasiswa secara benar. Tidak banyak diantara mereka yang dengan penuh penahanan diri menunjukkan kelemahan mahasiswa dalam mengerjakan tugas dan memperlihatkan bagaimana sebuah tugas tersebut harus dikerjakan secara sempurna. Maka mahasiswa pun merasa tidak nyaman dalam mengerjakan tugas-tugas mereka.

A. Definisi Berita Radio
Radio merupakan media auditif (hanya bisa didengar), tetapi murah, merakyat, dan bisa dibawa atau didengarkan dimana-mana. Radio berfungsi sebagai media ekspresi, komunikasi, informasi, pendididikan dan hiburan. Radio memiliki kekuatan terbesar sebagai media imajinasi, sebab sebagai media yang buta radio menstimulasi begitu banyak suara, dan berupaya menvisualisasikan suara penyiar ataupun informasi faktual melalui telinga pendengarnya.
Jurnalistik adalah segala hal yang menyangkut proses perencanaan, meliput, memproduksi dan melaporkan sebuah fakta menjadi berita .jika dalam media cetak pengertian berita adalah peristiwa yang di ulangi, maka dalam radio berita adalah peristiwa yang dikomunikasikan kepada pendengar pada saat yang bersamaan dengan peristiwanya. Jika proses mengulangi itu menyangkut rekonstruksi itu berlangsung secara spontan, dalam hitungan detik, sehingga dibutuhkan ketajaman mengendus substansi berita yang menarik dan keahlian menyampaikannya secara langsung dan interaktif.
Sebetulnya belum ada definisi yang sangat tepat untuk mengartikan istilah radio news, kecuali kesepakatan bahwa News is business. Sebagai bahan perbandingan, ada beberapa pendapat pakar radio yang bisa diacu yaitu:
1. Paul D. Maessenner, dalam bukunya Here’s the news. News adalah sebuah informasi yang baru tentang suatu peristiwa yang penting dan menarik perhatian serta minat pendengar berita radio dapat pula berarti apa yang terjadi saat ini, apa yang segera terjadi dan apa yang akan terjadi.

2. Prof mitchel V. Charnley, dalam bukunya”Reporting” News adalah laporan tentang fakta atau opini yang menarik perhatian dan penting, yang dibutuhkan sekolompok masyarakat. Jeams M. Neal dan mitchel V. Chanrley mengartikan berita radio sebagai laporan tentang suatu peristiwa, opini kecendrungan situasi, kondisi, interpretasi yang penting, menarik, masih baru, dan harus secepatnya disampaikan kepada khalayak.

3. Curtis Beckmann, Post president RTND. News diartikan sebagai laporan atau opini atau peristiwa yang penting bagi sejumlah besar khalayak. Berita yang besar adalah liputan opini atau peristiwa yang sangat dibutuhkan pula oleh orang .

Dari beberapa literature diatas dapat dikatakan bahwa definisi berita radio adalah suatu kajian laporan berupa fakta dan opini yang mempunyai nilai berita penting dan menarik bagi sebanyak mungkin orang, dan disiarkan melalui media radio secara berkala. Berita radio menjawab persoalan apa yang terjadi, dan bagaimana peristiwa tersebut berlangung.

B. Karakter Berita Radio.
Karater berita radio dapat ditentukan menjadi empat macam :
1. segera dan cepat; laporan berita/opini di radio sesegera mungkin dilakukan untuk mencapai kepuasan pendengar dan mengoptimalkan sifat kesegeraannya sebagai kekuatan radio.
2. actual dan factual; berita radio adalah hasil liputan peristiwa /opini yang segar dan akurat sesuai fakta yang sebelumnya tidak diketahui banyak khalayak.
3. penting bagi masyarakat luas; harus ada kekuatan dan nilai berita (news value) yang berlaku dalam pengertian jurnalistik secara umum, guna memenuhi kepentingan masyarakat.
4. relevan dan berdampak luas; masyarakat sebagai pendengar merasa membutuhkannya dan akan mendapatkan manfaat dari berita radio, yaitu pengetahuan, pengertian dan kemampuan bersikap/ mengambil keputusan tertentu sebagai respons atas sebuah berita

C. fungsi Sosial Radio

Di dalam proses komunikasi social, peran ideal radio sebagai media publik adalah mewadahi sebanyak mungkin kebutuhan dan kepentingan pendengarnya. Ada tiga bentuk kebutuhan, yaitu inforrmasi, pendidikan, dan hiburan. Tidak terpenuhinya salah atu kebutuhan tersebut akan membuat radio kehilangan fungsi social, kehilangan pendengar, dan pada akhirnya akan digugat masyarakat sebab tidak berguna bagi mereka. Para insane radio dewasa ini sadar betul bahwa puisi social mereka sedang di sorot. Program hiburan sebagai primadona harus dikaji ulang kembali, guna disinergikan dengan program informasi, sekecil apapun persentasinya. Konsep acara infotaiment menjadi jawaban awal terhadap upaya kolaborasi musik sebagai symbol program hiburan dengan berita sebagai symbol informasi pendidikan. Hanya saja, pendengar dan juga insan radio sendiri tentu tidak pernah merasa puas jika hanya berhenti sampai disitu. Apalagi jika idealismenya tidak tersalurkan secara maksimal pada satu bentuk program saja.
Ada beberapa tingkatan tingakatan peran social yang diemban radio dalam kapasitasnya sebagai media public, atau yang dikenal dalam konsep radio for society.
Pertama radio sebagai media penyampaian informasi dari satu pihak kepihak lain. Kedua,radio sebagai sarana mobilisasi pendapat public untuk mempengaruhi kebijakan. Ketiga, radio sebagai sarana untuk mempertemukan dua pendapat berbeda atau diskusi untuk mencari solusi bersama yang saling menguntungkan. Keempat, radio sebagai sarana untuk mengikat kebersamaan dalam semangat kemanusiaan dan kejujuran. Beberapa fungsi tersebut bisa di emban sekaligus, tetapi ada kalanya hanya salah satu saja. Yang penting adalah konsistensi dan optimalisasi pada suatu peran.

D. Sikap kritis masyarakat

Dalam pemahaman modern pendengar radio bukan lagi objek yang menggunakan telinga untuk menyimak sebuah acara. Mereka juga menggunakan nalar pikir dan sekaligus empati, sehingga membentuk sikap kritis, jika program yang ditayangkan radio tidak sesuai maka, sikap mereka tidak sekedar memindah channel atau gelombang ke stasiun lain, tetapi akan bersikap anti pati terhadap stasiun yang dinilai mengecewakan. Sebagai contoh, dominasi menu hiburan yang muncul diradio menimbulkan kebosanan jika tidak mampu menyuguhkan vareasi program. Dan salah satu pertimbangan untuk memfareasikan program adalah sikap memberdayakan pendengar dengan memberikan mereka suguhan informasi yang bersifat actual dan yang dapat mencerdaskan intelektual pendengarnya.
Sikap masyarakat terhadap radio makin kritis, bahkan diera reformasi ini cederung makin “brutal”. Fenomena ini seharusnya membuat stasiun radio tertantang untuk membenahi bagian-bagian yang masih “bolong” menuju radio yang professional dalam melayani kebutuhan masyarakat.
Berkaitan dengan fungsi social sebagai sarana diskusi, apakah mengudarakan sikap kritis masyarakat merupakan visi yang harus dipilih radio masa depan. Dengan cara seperti itu, sebuah radio bisa mengikuti pertumbuhan masyarakat yang dan ikut serta mengelola berbagai potensi distruktif yang mungkin timbul dari sikap kritis itu, menjadi arena diskusi yang hangat, bersahabat dan intelek, jauh dari kerusuhan massa. Radio bisa “memindahkan” kerusuhan dilapangan yang penuh darah menjadi kerusuhan diudara yang penuh perdebatan intelektual.

E. Tuntutan Pasar Komersial

Sejak radio informasi (news radio) menjamur di indonesia, khususnya Jakarta, yogyakarta, dan Surabaya; pemeo bahwa berita tidak bisa “menjual”dan “dijual”, dalam konotasi komersial, tidak berlaku lagi. Radio informasi ternyata mampu eksis bahkan menempati rating pendengar tertinggi dalam setiap survey. Jarang pula terdengar ada radio informasi yang gulung tikar, sebagaimana terjadipada radio hiburan. Persoalan informasi radio tidak bisa dijual ternyata bukan terletak pada isi informasinya, melainkan pada kemasan dan sasaran pendengar yang dituju. Oleh kaena itulah, pada saat iniberbagai pelatihan digelar bahkan melalui bantuan doanasi asing, denagan sasaran memperbaiki kinerja SDM jurnalis radio dfalam mengemas sajian berita. Pada saat yang sama, para pengiklan dan perusahaan besar menunggu hasilnya untuk diajak bekerja sama.

F. Pers Radio Makin Dilirik

Walaupun dibandingkan dengan media cetak dan televisi, jurnalistik radio dianggap sebagai “anak kecil”, namun menjelang dan sesudah reformasi, radio menjadi bagian yang sangat penting dalm kehidupan pers dan kehidupan masayarakat yang sadar akan informasi.
Keasadaran yang muncul dikalangan pengelola (owner) dan praktisi(broadcaster) bahwa radio merupakan media informasi strategis, mendapatkan momentum yang sangat tepat. Seperti menemukan kembali”anak hilang”, yaitu program informasi, radio berlomba menyajikan berita sebaik mungkin, baik dari segi materi maupun pengemasannya .
Gairah untuk menyajikan berita itu dapat dilihat dalam dua pendekatan sosiologis. Pertama, kesadaran makin berkembang dikalangan insane radio bahwa sebagai institusi social yang terikat dengan dinamika social masyarakat pendengarnya. Dinamika yang berkembang dimasyarakat merupakan sumber inspirasi yang terus menerus harus diikuti radio sebagai media publik, jika ia tidak mau ditinggalkan pendengar.
Kedua, perubahan sosial dimasyarakat layak dicatat sebagai pendorong utama berkiprahnya radio, terutama radio swasta dalam menyajikan informasi. Selain perubahan yang bersifat makro,yaitu meningkatnya sikap kritis masayarakat terhadap pemerintah dan media massa, perubahan itu juga menyangkut pergeseran budaya dengar sari pasif menjadi aktif, dan dari entertainment minded ke information minded. Sekarang ini makin sussah menemukan masyarakat pendengar yang suka dipanggil sebagai hanya pendengar musik. Merak lebih suka dipanggil sebagai pendengar warta dengan berbagai alas an rasional. Pada saatnya nanti, persepsi masyarakat akan berubah terhadap radio, dari media hiburan menjadi media informasi dan pendidikan.
Karena wujudnya yang bersifat melayani(serve) bukan sekadar menginformasikan (to inform) maka program jurnalistik di radio sangat terasa manfaatnya, misalnya; siaran informasi lebaran(Arus mudik dan Balik), baik yang digelar RRI maupun radio swasta.
Tiga alas an mengapa jurnalisme radio makin dilirik, karena sifat ketersegeraan (actuality), format kemasan (body style) dan lokalitasnya. Prinsipberita hari ini baca hari ini, mungkin masih bisa dikejar oleh media cetak, tetapi jika berita detik ini dengarkan detik ini juga, hanya radio yang bisa melakukannya. Media online seperti Detik.com sekalipun harus membutuhkan jeda waktu sejumlah detik untuk menayangkan berita dari reporter lapangannya. Sementara itu, reporter radio bia melaporkan secara langsung peristiwa serupa, bahkan mengajak pendengar untuk berinteraksi memberikan tanggapan terhadap peristiwa actual yang sedang dilaporkannya. Berita radio yang tersaji secara langsung menjadi primadona karena aktualitas dan objektivitasnya terejamin tanpa rekayasa ulang dari redaktur atau reporter lapangan.
kemasan berita radio dewasa ini makin bervariasi, sehingga memudahkan masyarakat pendengar untuk memilih kemasan yang pas buat mereka, dan mencatat waktu penyiaran yang sesuai dengan kesibukan mereka. Seperti halnya media cetak dan televise, program berita di radio tidak berhenti pada berita pendek(straight news), tetapi juga berbentuk bulletin, feature, bahkan investigative news. Diantara sekian bentuk itu, format interaktif merupakan pilihan pavorit, karena pendengar dapat berposisi ganda, sebagai responden sekaligus reporter. Jika dibandingkan dengan televisi, keunggulan berita radio adalah sifat imajinatifnya. Kemasan auditif yang tersaji kepada pendengar dapat merangsang mereka untuk membayangkan suasana peristiwa yang sebenarnya dan melibatkan mereka dalam peristiwa itu secara imajiner. Berita radio yang sukses adalah berita yang mampu menggugah emosi pendengarnya.
Kalaupun berita radio telah makin dilirik masyarakat, bukan berarti insan radio harus berbangga diri dan optimis. Sebabpersoalan krusial justru sedang menghadang dan memerlukan solusi dini. Persoalan itu menyangkut SDM dan etika jurnalistik. Sebagi “pendatang baru” dalam kancah reportase, reporter radio masih dihinggapi sejumlah penyakit, seperti minder dan kesulitan beradaptasi akibat miskin petualangan.
Sedangkan masalha etiak idak kalh krusialnya. Moralitas reporter yang baik selama dilapangan akan ditentukan oleh tingkat kesejahteraan, penghargaan terhadap karya, dan lingkungan perusahaan yang kondusif sebagai “kawah candradimuka” intelektual. Pada dasarnya, reporter adlah seorang intelektualyang berkaca pada hati nurani ketika meliput sebuah peristiwa dan menghadapi sebuah godaan seperti amplop dan teror fisik.
Kesediaaan untuk mengantisipasipersoalan tersebut akan mempermudah cara penyelesaiannya, sebab dari sudut jumlah dan budaya interaksi, reporter radio relative masih sedikit, sehingga dalam masalah pembinaan dan pengawasan relative lebih mudah pula. Akan tetapi, itu tentu hanya bisa terjadi jika aa niat baik dari pemilik perusahaan radio, dan reporter itu sendiri. Keduanya dapat belajar, baik dari “buruknya” cermin insane media cetak dan televisi, maupun dari mereka yang telah berhasil menjaga citra diri dengan baik di mata masyarakat.

G. Prinsip Penulisan

Pada prinsip penulisan radio terdapat antara lain;
A. ELF-(Easy listening formula). Susunan kalimat yang jika diucapkan enak didengar dan mudah dimengerti pada pendengaran pertama.
B. KISS(keep it simple and short).hemat kata, tidak mengumbar kata. Menggunakan kalimat-kalimat pendek dan tidak rumit. Gunakan sedikit mungkin kat sifat dan anak kaliat (adjectives).
C. WTYT(write the way you talk). Tulisan sebagaimana diucapkan. Menulis untuk “disuarakan”, bukan untuk dibaca.
D. Satu kalimat satu Nafas. Upayakan tidak ada anak kalimat. Sedapat mungkin tiap kalimat bisa disampaikan dalam satu nafas.

Jadi, radio merupakan media auditif (hanya bisa didengar), tetapi murah, merakyat, dan bisa dibawa atau didengarkan dimana-mana.
Jurnalistik adalah segala hal yang menyangkut proses perencanaan, meliput, memproduksi dan melaporkan sebuah fakta menjadi berita
Sebagai bahan perbandingan, ada beberapa pendapat pakar radio yang bisa diacu yaitu:
1. Paul D. Maessenner, dalam bukunya Here’s the news. News adalah sebuah informasi yang baru tentang suatu peristiwa yang penting dan menarik perhatian serta minat pendengar berita radio dapat pula berarti apa yang terjadi saat ini, apa yang segera terjadi dan apa yang akan terjadi.

2. Prof mitchel V. Charnley, dalam bukunya”Reporting” News adalah laporan tentang fakta atau opini yang menarik perhatian dan penting, yang dibutuhkan sekolompok masyarakat. Jeams M. Neal dan mitchel V. Chanrley mengartikan berita radio sebagai laporan tentang suatu peristiwa, opini kecendrungan situasi, kondisi, interpretasi yang penting, menarik, masih baru, dan harus secepatnya disampaikan kepada khalayak.

3. Curtis Beckmann, Post president RTND. News diartikan sebagai laporan atau opini atau peristiwa yang penting bagi sejumlah besar khalayak. Berita yang besar adalah liputan opini atau peristiwa yang sangat dibutuhkan pula oleh orang
Karater berita radio dapat ditentukan menjadi empat macam :
• Segera dan cepat
• Aktual dan factual
• Penting bagi masyarakat luas
• Relevan dan berdampak luas
Di dalam proses komunikasi social, peran ideal radio sebagai media publik adalah mewadahi sebanyak mungkin kebutuhan dan kepentingan pendengarnya. Ada tiga bentuk kebutuhan, yaitu inforrmasi, pendidikan, dan hiburan
Ada beberapa tingkatan tingakatan peran social yang diemban radio dalam kapasitasnya sebagai media public, atau yang dikenal dalam konsep radio for society.
Pertama: radio sebagai media penyampaian informasi dari satu pihak kepihak lain.
Kedua,radio sebagai sarana mobilisasi pendapat public untuk mempengaruhi kebijakan.
Ketiga, radio sebagai sarana untuk mempertemukan dua pendapat berbeda atau diskusi untuk mencari solusi bersama yang saling menguntungkan.
Keempat, radio sebagai sarana untuk mengikat kebersamaan dalam semangat kemanusiaan dan kejujuran. Beberapa fungsi tersebut bisa di emban sekaligus, tetapi ada kalanya hanya salah satu saja.
Sikap masyarakat terhadap radio makin kritis, bahkan diera reformasi ini cederung makin “brutal”.
Radio informasi ternyata mampu eksis bahkan menempati rating pendengar tertinggi dalam setiap survey
Dibandingkan dengan media cetak dan televisi, jurnalistik radio dianggap sebagai “anak kecil”, namun menjelang dan sesudah reformasi, radio menjadi bagian yang sangat penting dalm kehidupan pers dan kehidupan masayarakat yang sadar akan informasi.

DAFTAR PUSTAKA

Masduki, Jurnalistik Radio,¬Lkis Yogyakarta, 2001.
Syamsul Asep M. Romli, Jadi Penyiar itu asyik Lho !, Ujung-Bandung,nuansa, 2007.
Adam, Rainer, dkk, politik dan radio, Friedrich Naumarun Stiftung Jakarta : 2000.
Ashadi siregar, jurnalistik radio, Seminar Radio UNISI FM FDWY yogyakarta :1994.
www.kjpnews.co,nr.

PERAN PENYIAR TERHADAP EKSISTENSI SEBUAH RADIO


PENDAHULUAN
Radio merupakan salah satu media massa yang jangkauannya paling luas di muka bumi. Dengan ciri khas utamanya yang bersifat auditif, radio mampu menjadi media massa yang menarik bagi siapa saja. Kepraktisan dan keanekaragaman program siarannya menjadikan radio sebagai media paling populer dalam sejarah. Popularitasnya kian kuat ketika radio memasuki wilayah jurnalistik dengan menyajikan berita.
Adapun orang-orang yang berjasa dalam membesarkan dan membuat radio bertahan dalam ketatnya persaingan antar media massa adalah mereka yang terlibat dalam dunia penyiaran radio yang disebut “orang-orang broadcast”. Ujung tombaknya adalah para penyiar. Penyiarlah yang mampu menghidupkan siaran radio sehingga menarik, memukau, dan berdampak. Mereka terus bekerja dan berpikir untuk kemajuan dunia radio siaran dan memuaskan publik pendengarnya.
Oleh karena itu, pada makalah ini penulis membahas tentang peran penyiar terhadap eksistensi sebuah radio. Karena merekalah orang-orang yang mampu membuat radio lebih perkasa di antara media massa-media massa yang lain. Dengan segala kemampuan dan kecakapan yang mereka miliki, para penyiar terus berusaha menghidupkan radio di antara para pendengarnya.
.
A. Penyiar Radio (Announcer)
“Hai selamat pagi pendengar…pagi yang cerah buat memulai aktivitas…” . Kalimat di atas merupakan sapaan seorang penyiar radio “SWEET FM ROCK”, yang setiap paginya para pendengar setia “SWEET FM” akan ditemani oleh suara David dengan lagu-lagu slow rock yang tengah hits. Tidak hanya menyuguhkan tembang-tembang yang disenangi penggemar, tapi juga memberikan informasi yang actual dan terkini.
Produk unggulan sebuah radio, selain lagu dan program acara adalah penyiar. Penyiar(announcer) adalah orang yang bertugas membawakan atau memandu sebuah acara di radio, misalnya acara berita, pemutaran lagu pilihan, talk show dsb. Ia menjadi ujung tombak sebuah stasiun radio dalam berkomunikasi dengan pendengar. Keberhasilan sebuah program acara (dengan parameter jumlah pendengar dan pemasukan iklan) utamanya ditentukan oleh kepiawaian penyiar dalam membawakan sekaligus “menghidupkan” acara tersebut.
Banyak orang beranggapan bahwa profesi sebagai penyiar radio itu gampang. Dengan duduk di balik meja operator dan bermodalkan suara bagus serta pandai bicara kemudian sesekali memutarkan lagu sudah bisa disebut sebagai penyiar radio. Mungkin hal itu yang selama ini orang pikirkan. Padahal bagi mereka yang sudah brtahun-tahun bergelut di dunia broadcast (penyiaran) untuk menjadi seorang penyiar itu tidaklah mudah.
Untuk itu, akan terjadi pemilihan penyiar yang punya skill lebih bagus. “Dulu aku juga punya gambaran, kalo penyiar radio itu gampang, tapi setelah aku jalani, aku mesti mengikuti pelatihan dulu sebelum resmi jadi penyiar”, ungkap Winda, salah satu penyiar “MOZE FM”.
Pada dasarnya, semua orang bisa menjadi penyiar radio, selama dia tidak punya kelainan dalam cara berbicara seperti gagap misalnya. Namun, untuk menjadi penyiar yang profesional, seseorang harus memiliki skill tertentu dalam hal komunikasi lisan, utamanya ia harus “lancar berbicara”. Karena penyiar radio merupakan ujung tombak dalam dunia penyiaran radio. Sehingga banyak stasiun radio yang masih mempertahankan penyiar-penyiar lamanya karena sudah menjadi icon dari radio mereka.
Kenyataannya, penyiar yang sudah berhasil menjadi icon sebuah radiodan memiliki banyak pendengar, ketika dia keluar dari radio tersebut dan berpindah menjadi penyiar radio lain, maka terkadang pendengarnya pun ikut berpindah mendengarkan radio lain yang menjadi tempat siaran baru bagi penyiar kesayangannya tersebut.
Dan tidak dapat dipungkiri jika saat ini yang memiliki banyak pendengar adalah radio dengan target segmentasi pendengarnya adalah anak muda. Karena selain kemasan program yang kekinian untuk anak muda, penyiar-penyiarnya pun mampu menghidupkan radio menjadi lebih bervariasi dan menghibur. Namun bukan berarti radio yang beridentitas lain seperti radio pendidikan tidak mempunyai banyak pendengar. Radio-radio tersebut masih memiliki banyak kelebihan karena mengusung fungsi dasar radio yaitu to educate (pendidikan). Sehingga yang perlu diperhatikan disini adalah bagaimana penyiar-penyiar radio yang identitasnya berbeda tersebut bisa bersaing untuk tetap mempertahankan eksistensi radio yang ditempatinya.

B. Peran Dan Pengaruh Penyiar Bagi Eksistensi Radio
Telah dijelaskan sebelumnya, bahwa penyiar merupakan ujung tombak dalam dunia penyiaran radio. Penyiar mempunyai peran dan pengaruh yang cukup besar bagi eksistensi sebuah radio. Penyiar yang profesional akan mampu membawakan suatu program siaran dengan baik sehingga akan menarik banyak pendengar. Dan akhirnya secara tidak langsung akan berdampak pada pemasukan iklan yang terus bertambah.
Salah satu peran seorang penyiar radio adalah mampu membawakan suatu program siaran dengan baik. Sejalan dengan perkembangan dunia radio yang semakin berkembang dan menjual, maka banyak perubahan yang mesti terjadi, apalagi dalam program siarannya. Radio yang profesional dan komersil akan menuntut peraturan yang seragam sehingga akan tercipta sebuah format siaran yang mesti ditaati oleh penyiarnya.
Seorang penyiar harus mampu membawakan program siaran dengan format yang sudah ditentukan oleh pihak radio. Bahkan terkadang mereka juga harus memformat sendiri program siaran yang dibawakannya agar lebih menarik dan mampu menyedot banyak pendengar. Disinilah peran seorang penyiar berada. Semenarik apapun program acaranya jika si penyiar tidak dapat membawakannya dengan baik, maka tidak diragukan lagi bahwa pendengar akan segan untuk mendengarkannya. Sebaliknya, jika penyiar bisa mengemas sebuah program acara semenarik mungkin bagi pendengar, maka dia akan mendapat banyak sorotan.
Memang, yang paling membedakan dalam menyajikan acara siaran di radio adalah suara manusia, dalam hal ini adalah penyiarnya. Ia tampil akrab, terkadang mengharukan, marah, pilu, atau mengajak tertawa pendengarnya. Dengan suara-suara seperti itu, sebuah peristiwa akan dapat disajikan lebih hidup.informasi akan semakin jelas, menarik, dan mudah diserap bila dituturkan infleksi, lagu dan tekanan pada penuturannya. Vitalitas radio sesungguhnya terletak pada daya tarik ragam suara awak siarnya, juga ragam kosakata dan ungkapan lokalnya, nilai kepribadian radio yang manusiawi terletak di sini.
Perlu diingat juga bahwa dalam dunia penyiaran radio, keberadaan pendengar perlu mendapat banyak perhatian. Karena mereka lah yang menentukan eksis atau tidaknya sebuah radio. Namun di balik itu semua ada sosok seorang penyiar yang mampu menggiring banyak pendengar sehingga radio bisa tetap eksis. Tidak dipungkiri jika akhirnya penyiar-penyiar ini memiliki banyak fans.
Memang, salah satu yang membuat seorang penyiar bisa tetap eksis adalah penggemar. Meskipun mereka lebih dikaenal lewat suara, namun tidak mengherankan kehadiran seorang penyiar mampu membuat pendengarnya tergila-gila. Tidak jarang pendengar langsung main ke radio tersebut hanya untuk bertemu dengan penyiar favoritnya. Dan banyak pula yang pada akhirnya hubungan idola dan fans-nya ini berlanjut menjadi teman dekat atau sahabat. Berawal dari special program curhat dari sebuah radio. Penyiar yang bertugas membawakan acara tersebut akan dicap pendengar sebagai salah satu alternatif tempat curhat. Dan biasanya fans akan menghubungi penyiar, untuk meminta bertemu bisa curhat di luar jam siaran. Frekuensi bertemu yang terlalu sering bakal membuat hubungan akan nerubah menjadi teman. Tidak dapat dipungkiri juga keberadaan seorang fans sangat penting. Ada beberapa station manager mempertahankan penyiarnya yang memiliki pendengar paling banyak.
Disinilah pengaruh seorang penyiar begitu terlihat. Ketika dia mampu membawakan sebuah program acara dengan baik dan menarik banyak pendengar, maka secara otomatis dia telah membuat radio yang ditempatinya tetap eksis dengan kehadiran pendengar-pendengar tersebut. Karena besarnya pengaruh yang dimiliki seoarang penyiar, maka ketika berpindah tempat ke stasion radio lain, pendengarnya pun juga akan mengikutinya. Sehingga dengan kata lain, keberadaan penyiar sangat berpengaruh bagi eksistensi radio.
Selanjutnya, pengaruh yang lebih luas terlihat pada pemasukan iklan. Radio dengan jumlah pendengar yang banyak, kemungkinan besar dapat meraih pangsa iklan yang besar juga. Para produsen iklan tidak akan segan untuk memasung iklan jika radio tersebut terbukti memiliki banyak pendengar.
Semua itu kembali pada peran seorang penyiar. Walaupun sebenarnya bukan hanya sosok penyiar yang menentukan segalanya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa memang penyiarlah yang memberikan kontribusi lebih banyak bagi radio. Layaknya sebuah film, maka penyiarlah pemain utamanya. Karena walaupun semua itu dalam prosesnya adalah kerja tim, namun pada akhirnya yang tampil paling depan adalah penyiarnya.
Oleh karena itu, kontribusi seorang penyiar sangatlah besar. Jika dia mampu bekerja profesional, menarik banyak pendengar maka pangsa iklan pun juga akan berdatangan. Hal inilah yang menjadi modal utama bagi sebuah radio untuk bisa tetap eksis di tengah persaingan bisnis media yang semakin marak saat ini.

C. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Kinerja Seorang Penyiar
Telah dibahas sebelumnya bahwa penyiar mempunyai peran dan pengaruh yang cukup besar bagi eksistensi sebuah radio. Dan sepertinya profesi sebagai penyiar semakin banyak diminati khususnya anak muda. Apalagi di era globalisasi ini makin banyak bermunculan stasiun-stasiun radio baru yang tentunya membutuhkan banyak tenaga-tenaga baru sebagai penyiar.
Namun perlu diperhatikan bahwa ada banyak hal yang harus dilakukan atau dimiliki oleh seorang penyiar radio untuk menjadi penyiar yang profesional dan benar-benar memberikan kontribusi yang penuh bagi radionya.
Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah seorang penyiar harus memiliki skill(kecakapan). Keahlian utama yang mutlak dimiliki setiap seorang penyiar ada tiga yaitu berbicara, membaca dan menulis. Seorang penyiar harus pandai berbicara karena pekerjaan seorang penyiar adalah berbicara, mengeluarkan suara atau melakukan komunikasi secara lisan. Namun, tidak sekedar bisa “cuap-cuap”. Karenanya ia harus “lancar berbicara” dengan kualitas vocal yang baik. Pelatihan vocal merupakan proses awal yang harus dijalani seorang penyiar yang ingin memiliki kualitas yang baik. Memiliki suara yang enak dan disukai adalah suatu keuntungan. Tapi kualitas suara dalam radio juga penting. Kecanggihan teknologi dapat membantu kita mendapatkan kualitas suara yang enak. Bahkan suara yang melengking sekalipun dapat mengembangkan suaranya sehingga menjadi menarik untuk didengar.
Melaksanakan siaran di radio berarti mengkreasikan banyak karakter dan situasi dalam kerangka imajinasi pendengar. Misalnya penyiar yang matang ditandai dengan suara yang penuh resonansi dan hati-hati ketika berbcara, itu yang biasanya terekam dalam imajinasi pendengar. Selain itu, pendengar tidak ada batasnya untuk berimajinasi tentang penyiar dari siaran yang didengarkannya. Oleh karena itu, seorang penyiar harus memiliki suara yang baik sebagai bunyi dasar suara dan berbicara.
Selanjutnya kecakapan yang harus dimiliki seorang penyiar adalah membaca. Dalam hal ini kemampuan spoken reading, yakni membaca naskah siaran namun terdengar seperti bertutur atau tidak membaca naskah. Satu hal lagi adalah kecakapan menulis (naskah siaran). Seringkali penyiar harus menyiapkan naskah siarannya sendiri. Karenanya ia harus memiliki kemampuan menulis naskah.
Tiga hal di atas merupakan keahlian utama yang harus dimiliki seorang penyiar. Selain harus memiliki kecakapan-kecakapan di atas, seorang penyiar juga harus memiliki wawasan yang luas. Ini adalah modal penting untuk menjadi penyiar yang profesional. Walaupun saat ini banyak bermunculan radio dengan target segmentasi adalah anak muda, yang tentu saja lebih menonjolkan acara-acara musik yang lagi hits saat ini, namun penyiarnya pun juga harus memiliki wawasan yang luas. Juga harus paham tentang jenis musik, alat musik dan artis-artisnya serta mampu berbicara dalam bahasa dan gaya anak muda.
Target segmentasi pendengar juga perlu diperhatikan. Dalam prakteknya, masing-masing radio memiliki standar tersendiri atau standar tambahan bagi para penyiarnya. Radio dengan segmen pendengar anak muda, tentu membutuhkan penyiar yang mampu berbicara dalam bahasa dan gaya anak muda. Radio dengan segmen pendengar dewasa, tentu mensyaratkan penyiarnya siaran dengan bahasa dan gaya dewasa.
Sesuai dengan sifat pribadi radio yang bisa dibawa ke mana-mana bahkan di tempat pribadi sekalipun, maka hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah seorang penyiar harus mampu menjadi sahabat yang baik bagi pendengarnya. Sebagai sahabat yang punya derajat yang setara, pendengar biasanya tidak suka penyiar yang terlalu menggurui, berpenampilan monoton, kasar, sombong, suka merendahkan bahkan menghina pendengar.jadi pendengar suka penyiar yang bisa dijadikan sahabat yang hangat, wajar dan tidak dibuat-buat.
Membangun komunikasi yang efektif dengan pendengar intinya tidak jauh berbeda, saat on air komunikasi yang efektif bisa dibangun saat sesi interaktif antara penyiar dan pendengar. Jika saat off air bisa saat pendengar datang ke studio dan penyiar harus menemuinya dan mengajaknya bicara. Dari pembicaraan tersebut dapat ditemukan apa yang sebenarnya diinginkan pendengar dari suatu radio. Tentunya dengan pembicaraan yang ramah, hangat dan bersahabat sehingga membuat pendengar nyaman, dengan begitu komunikasi akan berjalan dengan baik dan efektif.

Kesimpulan
Produk unggulan sebuah radio, selain lagu dan program acara adalah penyiar. Penyiar(announcer) adalah orang yang bertugas membawakan atau memandu sebuah acara di radio, misalnya acara berita, pemutaran lagu pilihan, talk show dsb. Ia menjadi ujung tombak sebuah stasiun radio dalam berkomunikasi dengan pendengar. Keberhasilan sebuah program acara (dengan parameter jumlah pendengar dan pemasukan iklan) utamanya ditentukan oleh kepiawaian penyiar dalam membawakan sekaligus “menghidupkan” acara tersebut
Penyiar mempunyai peran dan pengaruh yang cukup besar bagi eksistensi sebuah radio. Penyiar yang profesional akan mampu membawakan suatu program siaran dengan baik sehingga akan menarik banyak pendengar. Dan akhirnya secara tidak langsung akan berdampak pada pemasukan iklan yang terus bertambah.
Selanjutnya, dalam kinerjanya seorang penyiar harus memiliki banyak kecakapan seperti lancar berbicara, membaca naskah dan menulis naskah siaran. Penyiar juga harus berwawasan luas, bisa menjadi sahabat yang baik bagi pendengarnya serta mampu menciptakan komunikasi yang efektif dengan pendengarnya.

DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Romli, Asep Syamsul M. 2004. Broadcast Journalism. Bandung: Nuansa

Prayudha, Harley. 2006. Radio: Penyiar, Its Not Just A Talk. Malang: Bayumedia

Internet:

http://rismata.multiplay.com/reviews/item/29

http://novithec.blogspot.com/2008/10/donna-orsha-sang-penyiar-radio- senior.html

Saturday, April 10, 2010

PERAN PENYIAR TERHADAP EKSISTENSI SEBUAH RADIO

PENDAHULUAN
Radio merupakan salah satu media massa yang jangkauannya paling luas di muka bumi. Dengan ciri khas utamanya yang bersifat auditif, radio mampu menjadi media massa yang menarik bagi siapa saja. Kepraktisan dan keanekaragaman program siarannya menjadikan radio sebagai media paling populer dalam sejarah. Popularitasnya kian kuat ketika radio memasuki wilayah jurnalistik dengan menyajikan berita.
Adapun orang-orang yang berjasa dalam membesarkan dan membuat radio bertahan dalam ketatnya persaingan antar media massa adalah mereka yang terlibat dalam dunia penyiaran radio yang disebut "orang-orang broadcast". Ujung tombaknya adalah para penyiar. Penyiarlah yang mampu menghidupkan siaran radio sehingga menarik, memukau, dan berdampak. Mereka terus bekerja dan berpikir untuk kemajuan dunia radio siaran dan memuaskan publik pendengarnya.
Oleh karena itu, pada makalah ini penulis membahas tentang peran penyiar terhadap eksistensi sebuah radio. Karena merekalah orang-orang yang mampu membuat radio lebih perkasa di antara media massa-media massa yang lain. Dengan segala kemampuan dan kecakapan yang mereka miliki, para penyiar terus berusaha menghidupkan radio di antara para pendengarnya.
.
A. Penyiar Radio (Announcer)
"Hai selamat pagi pendengar…pagi yang cerah buat memulai aktivitas…" . Kalimat di atas merupakan sapaan seorang penyiar radio "SWEET FM ROCK", yang setiap paginya para pendengar setia "SWEET FM" akan ditemani oleh suara David dengan lagu-lagu slow rock yang tengah hits. Tidak hanya menyuguhkan tembang-tembang yang disenangi penggemar, tapi juga memberikan informasi yang actual dan terkini.
Produk unggulan sebuah radio, selain lagu dan program acara adalah penyiar. Penyiar(announcer) adalah orang yang bertugas membawakan atau memandu sebuah acara di radio, misalnya acara berita, pemutaran lagu pilihan, talk show dsb. Ia menjadi ujung tombak sebuah stasiun radio dalam berkomunikasi dengan pendengar. Keberhasilan sebuah program acara (dengan parameter jumlah pendengar dan pemasukan iklan) utamanya ditentukan oleh kepiawaian penyiar dalam membawakan sekaligus "menghidupkan" acara tersebut.
Banyak orang beranggapan bahwa profesi sebagai penyiar radio itu gampang. Dengan duduk di balik meja operator dan bermodalkan suara bagus serta pandai bicara kemudian sesekali memutarkan lagu sudah bisa disebut sebagai penyiar radio. Mungkin hal itu yang selama ini orang pikirkan. Padahal bagi mereka yang sudah brtahun-tahun bergelut di dunia broadcast (penyiaran) untuk menjadi seorang penyiar itu tidaklah mudah.
Untuk itu, akan terjadi pemilihan penyiar yang punya skill lebih bagus. "Dulu aku juga punya gambaran, kalo penyiar radio itu gampang, tapi setelah aku jalani, aku mesti mengikuti pelatihan dulu sebelum resmi jadi penyiar", ungkap Winda, salah satu penyiar "MOZE FM".
Pada dasarnya, semua orang bisa menjadi penyiar radio, selama dia tidak punya kelainan dalam cara berbicara seperti gagap misalnya. Namun, untuk menjadi penyiar yang profesional, seseorang harus memiliki skill tertentu dalam hal komunikasi lisan, utamanya ia harus "lancar berbicara". Karena penyiar radio merupakan ujung tombak dalam dunia penyiaran radio. Sehingga banyak stasiun radio yang masih mempertahankan penyiar-penyiar lamanya karena sudah menjadi icon dari radio mereka.
Kenyataannya, penyiar yang sudah berhasil menjadi icon sebuah radiodan memiliki banyak pendengar, ketika dia keluar dari radio tersebut dan berpindah menjadi penyiar radio lain, maka terkadang pendengarnya pun ikut berpindah mendengarkan radio lain yang menjadi tempat siaran baru bagi penyiar kesayangannya tersebut.
Dan tidak dapat dipungkiri jika saat ini yang memiliki banyak pendengar adalah radio dengan target segmentasi pendengarnya adalah anak muda. Karena selain kemasan program yang kekinian untuk anak muda, penyiar-penyiarnya pun mampu menghidupkan radio menjadi lebih bervariasi dan menghibur. Namun bukan berarti radio yang beridentitas lain seperti radio pendidikan tidak mempunyai banyak pendengar. Radio-radio tersebut masih memiliki banyak kelebihan karena mengusung fungsi dasar radio yaitu to educate (pendidikan). Sehingga yang perlu diperhatikan disini adalah bagaimana penyiar-penyiar radio yang identitasnya berbeda tersebut bisa bersaing untuk tetap mempertahankan eksistensi radio yang ditempatinya.

B. Peran Dan Pengaruh Penyiar Bagi Eksistensi Radio
Telah dijelaskan sebelumnya, bahwa penyiar merupakan ujung tombak dalam dunia penyiaran radio. Penyiar mempunyai peran dan pengaruh yang cukup besar bagi eksistensi sebuah radio. Penyiar yang profesional akan mampu membawakan suatu program siaran dengan baik sehingga akan menarik banyak pendengar. Dan akhirnya secara tidak langsung akan berdampak pada pemasukan iklan yang terus bertambah.
Salah satu peran seorang penyiar radio adalah mampu membawakan suatu program siaran dengan baik. Sejalan dengan perkembangan dunia radio yang semakin berkembang dan menjual, maka banyak perubahan yang mesti terjadi, apalagi dalam program siarannya. Radio yang profesional dan komersil akan menuntut peraturan yang seragam sehingga akan tercipta sebuah format siaran yang mesti ditaati oleh penyiarnya.
Seorang penyiar harus mampu membawakan program siaran dengan format yang sudah ditentukan oleh pihak radio. Bahkan terkadang mereka juga harus memformat sendiri program siaran yang dibawakannya agar lebih menarik dan mampu menyedot banyak pendengar. Disinilah peran seorang penyiar berada. Semenarik apapun program acaranya jika si penyiar tidak dapat membawakannya dengan baik, maka tidak diragukan lagi bahwa pendengar akan segan untuk mendengarkannya. Sebaliknya, jika penyiar bisa mengemas sebuah program acara semenarik mungkin bagi pendengar, maka dia akan mendapat banyak sorotan.
Memang, yang paling membedakan dalam menyajikan acara siaran di radio adalah suara manusia, dalam hal ini adalah penyiarnya. Ia tampil akrab, terkadang mengharukan, marah, pilu, atau mengajak tertawa pendengarnya. Dengan suara-suara seperti itu, sebuah peristiwa akan dapat disajikan lebih hidup.informasi akan semakin jelas, menarik, dan mudah diserap bila dituturkan infleksi, lagu dan tekanan pada penuturannya. Vitalitas radio sesungguhnya terletak pada daya tarik ragam suara awak siarnya, juga ragam kosakata dan ungkapan lokalnya, nilai kepribadian radio yang manusiawi terletak di sini.
Perlu diingat juga bahwa dalam dunia penyiaran radio, keberadaan pendengar perlu mendapat banyak perhatian. Karena mereka lah yang menentukan eksis atau tidaknya sebuah radio. Namun di balik itu semua ada sosok seorang penyiar yang mampu menggiring banyak pendengar sehingga radio bisa tetap eksis. Tidak dipungkiri jika akhirnya penyiar-penyiar ini memiliki banyak fans.
Memang, salah satu yang membuat seorang penyiar bisa tetap eksis adalah penggemar. Meskipun mereka lebih dikaenal lewat suara, namun tidak mengherankan kehadiran seorang penyiar mampu membuat pendengarnya tergila-gila. Tidak jarang pendengar langsung main ke radio tersebut hanya untuk bertemu dengan penyiar favoritnya. Dan banyak pula yang pada akhirnya hubungan idola dan fans-nya ini berlanjut menjadi teman dekat atau sahabat. Berawal dari special program curhat dari sebuah radio. Penyiar yang bertugas membawakan acara tersebut akan dicap pendengar sebagai salah satu alternatif tempat curhat. Dan biasanya fans akan menghubungi penyiar, untuk meminta bertemu bisa curhat di luar jam siaran. Frekuensi bertemu yang terlalu sering bakal membuat hubungan akan nerubah menjadi teman. Tidak dapat dipungkiri juga keberadaan seorang fans sangat penting. Ada beberapa station manager mempertahankan penyiarnya yang memiliki pendengar paling banyak.
Disinilah pengaruh seorang penyiar begitu terlihat. Ketika dia mampu membawakan sebuah program acara dengan baik dan menarik banyak pendengar, maka secara otomatis dia telah membuat radio yang ditempatinya tetap eksis dengan kehadiran pendengar-pendengar tersebut. Karena besarnya pengaruh yang dimiliki seoarang penyiar, maka ketika berpindah tempat ke stasion radio lain, pendengarnya pun juga akan mengikutinya. Sehingga dengan kata lain, keberadaan penyiar sangat berpengaruh bagi eksistensi radio.
Selanjutnya, pengaruh yang lebih luas terlihat pada pemasukan iklan. Radio dengan jumlah pendengar yang banyak, kemungkinan besar dapat meraih pangsa iklan yang besar juga. Para produsen iklan tidak akan segan untuk memasung iklan jika radio tersebut terbukti memiliki banyak pendengar.
Semua itu kembali pada peran seorang penyiar. Walaupun sebenarnya bukan hanya sosok penyiar yang menentukan segalanya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa memang penyiarlah yang memberikan kontribusi lebih banyak bagi radio. Layaknya sebuah film, maka penyiarlah pemain utamanya. Karena walaupun semua itu dalam prosesnya adalah kerja tim, namun pada akhirnya yang tampil paling depan adalah penyiarnya.
Oleh karena itu, kontribusi seorang penyiar sangatlah besar. Jika dia mampu bekerja profesional, menarik banyak pendengar maka pangsa iklan pun juga akan berdatangan. Hal inilah yang menjadi modal utama bagi sebuah radio untuk bisa tetap eksis di tengah persaingan bisnis media yang semakin marak saat ini.

C. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Kinerja Seorang Penyiar
Telah dibahas sebelumnya bahwa penyiar mempunyai peran dan pengaruh yang cukup besar bagi eksistensi sebuah radio. Dan sepertinya profesi sebagai penyiar semakin banyak diminati khususnya anak muda. Apalagi di era globalisasi ini makin banyak bermunculan stasiun-stasiun radio baru yang tentunya membutuhkan banyak tenaga-tenaga baru sebagai penyiar.
Namun perlu diperhatikan bahwa ada banyak hal yang harus dilakukan atau dimiliki oleh seorang penyiar radio untuk menjadi penyiar yang profesional dan benar-benar memberikan kontribusi yang penuh bagi radionya.
Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah seorang penyiar harus memiliki skill(kecakapan). Keahlian utama yang mutlak dimiliki setiap seorang penyiar ada tiga yaitu berbicara, membaca dan menulis. Seorang penyiar harus pandai berbicara karena pekerjaan seorang penyiar adalah berbicara, mengeluarkan suara atau melakukan komunikasi secara lisan. Namun, tidak sekedar bisa "cuap-cuap". Karenanya ia harus "lancar berbicara" dengan kualitas vocal yang baik. Pelatihan vocal merupakan proses awal yang harus dijalani seorang penyiar yang ingin memiliki kualitas yang baik. Memiliki suara yang enak dan disukai adalah suatu keuntungan. Tapi kualitas suara dalam radio juga penting. Kecanggihan teknologi dapat membantu kita mendapatkan kualitas suara yang enak. Bahkan suara yang melengking sekalipun dapat mengembangkan suaranya sehingga menjadi menarik untuk didengar.
Melaksanakan siaran di radio berarti mengkreasikan banyak karakter dan situasi dalam kerangka imajinasi pendengar. Misalnya penyiar yang matang ditandai dengan suara yang penuh resonansi dan hati-hati ketika berbcara, itu yang biasanya terekam dalam imajinasi pendengar. Selain itu, pendengar tidak ada batasnya untuk berimajinasi tentang penyiar dari siaran yang didengarkannya. Oleh karena itu, seorang penyiar harus memiliki suara yang baik sebagai bunyi dasar suara dan berbicara.
Selanjutnya kecakapan yang harus dimiliki seorang penyiar adalah membaca. Dalam hal ini kemampuan spoken reading, yakni membaca naskah siaran namun terdengar seperti bertutur atau tidak membaca naskah. Satu hal lagi adalah kecakapan menulis (naskah siaran). Seringkali penyiar harus menyiapkan naskah siarannya sendiri. Karenanya ia harus memiliki kemampuan menulis naskah.
Tiga hal di atas merupakan keahlian utama yang harus dimiliki seorang penyiar. Selain harus memiliki kecakapan-kecakapan di atas, seorang penyiar juga harus memiliki wawasan yang luas. Ini adalah modal penting untuk menjadi penyiar yang profesional. Walaupun saat ini banyak bermunculan radio dengan target segmentasi adalah anak muda, yang tentu saja lebih menonjolkan acara-acara musik yang lagi hits saat ini, namun penyiarnya pun juga harus memiliki wawasan yang luas. Juga harus paham tentang jenis musik, alat musik dan artis-artisnya serta mampu berbicara dalam bahasa dan gaya anak muda.
Target segmentasi pendengar juga perlu diperhatikan. Dalam prakteknya, masing-masing radio memiliki standar tersendiri atau standar tambahan bagi para penyiarnya. Radio dengan segmen pendengar anak muda, tentu membutuhkan penyiar yang mampu berbicara dalam bahasa dan gaya anak muda. Radio dengan segmen pendengar dewasa, tentu mensyaratkan penyiarnya siaran dengan bahasa dan gaya dewasa.
Sesuai dengan sifat pribadi radio yang bisa dibawa ke mana-mana bahkan di tempat pribadi sekalipun, maka hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah seorang penyiar harus mampu menjadi sahabat yang baik bagi pendengarnya. Sebagai sahabat yang punya derajat yang setara, pendengar biasanya tidak suka penyiar yang terlalu menggurui, berpenampilan monoton, kasar, sombong, suka merendahkan bahkan menghina pendengar.jadi pendengar suka penyiar yang bisa dijadikan sahabat yang hangat, wajar dan tidak dibuat-buat.
Membangun komunikasi yang efektif dengan pendengar intinya tidak jauh berbeda, saat on air komunikasi yang efektif bisa dibangun saat sesi interaktif antara penyiar dan pendengar. Jika saat off air bisa saat pendengar datang ke studio dan penyiar harus menemuinya dan mengajaknya bicara. Dari pembicaraan tersebut dapat ditemukan apa yang sebenarnya diinginkan pendengar dari suatu radio. Tentunya dengan pembicaraan yang ramah, hangat dan bersahabat sehingga membuat pendengar nyaman, dengan begitu komunikasi akan berjalan dengan baik dan efektif.

Kesimpulan
Produk unggulan sebuah radio, selain lagu dan program acara adalah penyiar. Penyiar(announcer) adalah orang yang bertugas membawakan atau memandu sebuah acara di radio, misalnya acara berita, pemutaran lagu pilihan, talk show dsb. Ia menjadi ujung tombak sebuah stasiun radio dalam berkomunikasi dengan pendengar. Keberhasilan sebuah program acara (dengan parameter jumlah pendengar dan pemasukan iklan) utamanya ditentukan oleh kepiawaian penyiar dalam membawakan sekaligus "menghidupkan" acara tersebut
Penyiar mempunyai peran dan pengaruh yang cukup besar bagi eksistensi sebuah radio. Penyiar yang profesional akan mampu membawakan suatu program siaran dengan baik sehingga akan menarik banyak pendengar. Dan akhirnya secara tidak langsung akan berdampak pada pemasukan iklan yang terus bertambah.
Selanjutnya, dalam kinerjanya seorang penyiar harus memiliki banyak kecakapan seperti lancar berbicara, membaca naskah dan menulis naskah siaran. Penyiar juga harus berwawasan luas, bisa menjadi sahabat yang baik bagi pendengarnya serta mampu menciptakan komunikasi yang efektif dengan pendengarnya.

DAFTAR PUSTAKA


Buku:

Romli, Asep Syamsul M. 2004. Broadcast Journalism. Bandung: Nuansa

Prayudha, Harley. 2006. Radio: Penyiar, Its Not Just A Talk. Malang: Bayumedia

Internet:

http://rismata.multiplay.com/reviews/item/29
http://novithec.blogspot.com/2008/10/donna-orsha-sang-penyiar-radio- senior.html

JURNALISTIK DASAR


PENDAHULUAN
Radio menempatkan diri sebagai medium penyiaran berita aetara dengan media strategi lainnya, seperti media cetak dan televise. Perkembangan jurnalistik radio di indonesiadari segi umur masih bayi, bahkan baru “lahir kembali” ketika mentri penerangan M Yunus yosfiah mengeluarkan surat edara nomer 134/ SK/MENPEN/1998 tertanggal 5 juni 1998, yang berisi pengurangan”kewajiban”relay warta berita RRi dari empat belas kali menjadi tiga kali sehari, pemberian izin bagi radio swasta untuk membuat dan menyiarkan berita sendiri, intonasi maupun gaya bahasa jurnalistik yang sesuai dengan sekmen pendengar radio bersangkutan.

Dengan adanya jurnalistik radio mahasiswa dapat berlatih menjadi reporter yang sekaligus penyiar radio dan penyiar yang juga reporter radio, tercakup tiga komponen yang esensial yaitu kemauan mahasiswa untuk berlatih, keinginan instruktur untuk memeriksa tugas, dan modul yang bisa dipakai berlatih sendiri. Bila ketiga komponen ini dialamatkan kepengajaran jurnalistik radio di perguruan tinggi, kita akan sedih, sebab ketiganya tidak tersedian dengan baik. Kita lihat jarang sekali mahasiswa yang mau mengalami pertubian (drilling) dalam waktu yang cukup lama mereka cendrung berlatih hannya untuk memenuhi kewajiban yang diberikan instuktur, mereka seolah-olah berpendapat bahwa latihan bukan untuk mereka melainkan untuk isntruktur.

Gambaran instruktur dalam mengajarkan jurmalistik radio dipergururan tinggi juga tak kalah suramnya. Tidak banyak diantara mereka yang bersedia memeriksa tugas mahsiswa secara rinci hingga sebuah tugas dikerjakan oleh mahasiswa secara benar. Tidak banyak diantara mereka yang dengan penuh penahanan diri menunjukkan kelemahan mahasiswa dalam mengerjakan tugas dan memperlihatkan bagaimana sebuah tugas tersebut harus dikerjakan secara sempurna. Maka mahasiswa pun merasa tidak nyaman dalam mengerjakan tugas-tugas mereka.

A. Definisi Berita Radio
Radio merupakan media auditif (hanya bisa didengar), tetapi murah, merakyat, dan bisa dibawa atau didengarkan dimana-mana. Radio berfungsi sebagai media ekspresi, komunikasi, informasi, pendididikan dan hiburan. Radio memiliki kekuatan terbesar sebagai media imajinasi, sebab sebagai media yang buta radio menstimulasi begitu banyak suara, dan berupaya menvisualisasikan suara penyiar ataupun informasi faktual melalui telinga pendengarnya.
Jurnalistik adalah segala hal yang menyangkut proses perencanaan, meliput, memproduksi dan melaporkan sebuah fakta menjadi berita .jika dalam media cetak pengertian berita adalah peristiwa yang di ulangi, maka dalam radio berita adalah peristiwa yang dikomunikasikan kepada pendengar pada saat yang bersamaan dengan peristiwanya. Jika proses mengulangi itu menyangkut rekonstruksi itu berlangsung secara spontan, dalam hitungan detik, sehingga dibutuhkan ketajaman mengendus substansi berita yang menarik dan keahlian menyampaikannya secara langsung dan interaktif.
Sebetulnya belum ada definisi yang sangat tepat untuk mengartikan istilah radio news, kecuali kesepakatan bahwa News is business. Sebagai bahan perbandingan, ada beberapa pendapat pakar radio yang bisa diacu yaitu:
1. Paul D. Maessenner, dalam bukunya Here’s the news. News adalah sebuah informasi yang baru tentang suatu peristiwa yang penting dan menarik perhatian serta minat pendengar berita radio dapat pula berarti apa yang terjadi saat ini, apa yang segera terjadi dan apa yang akan terjadi.

2. Prof mitchel V. Charnley, dalam bukunya”Reporting” News adalah laporan tentang fakta atau opini yang menarik perhatian dan penting, yang dibutuhkan sekolompok masyarakat. Jeams M. Neal dan mitchel V. Chanrley mengartikan berita radio sebagai laporan tentang suatu peristiwa, opini kecendrungan situasi, kondisi, interpretasi yang penting, menarik, masih baru, dan harus secepatnya disampaikan kepada khalayak.

3. Curtis Beckmann, Post president RTND. News diartikan sebagai laporan atau opini atau peristiwa yang penting bagi sejumlah besar khalayak. Berita yang besar adalah liputan opini atau peristiwa yang sangat dibutuhkan pula oleh orang .

Dari beberapa literature diatas dapat dikatakan bahwa definisi berita radio adalah suatu kajian laporan berupa fakta dan opini yang mempunyai nilai berita penting dan menarik bagi sebanyak mungkin orang, dan disiarkan melalui media radio secara berkala. Berita radio menjawab persoalan apa yang terjadi, dan bagaimana peristiwa tersebut berlangung.

B. Karakter Berita Radio.
Karater berita radio dapat ditentukan menjadi empat macam :
1. segera dan cepat; laporan berita/opini di radio sesegera mungkin dilakukan untuk mencapai kepuasan pendengar dan mengoptimalkan sifat kesegeraannya sebagai kekuatan radio.
2. actual dan factual; berita radio adalah hasil liputan peristiwa /opini yang segar dan akurat sesuai fakta yang sebelumnya tidak diketahui banyak khalayak.
3. penting bagi masyarakat luas; harus ada kekuatan dan nilai berita (news value) yang berlaku dalam pengertian jurnalistik secara umum, guna memenuhi kepentingan masyarakat.
4. relevan dan berdampak luas; masyarakat sebagai pendengar merasa membutuhkannya dan akan mendapatkan manfaat dari berita radio, yaitu pengetahuan, pengertian dan kemampuan bersikap/ mengambil keputusan tertentu sebagai respons atas sebuah berita

C. fungsi Sosial Radio

Di dalam proses komunikasi social, peran ideal radio sebagai media publik adalah mewadahi sebanyak mungkin kebutuhan dan kepentingan pendengarnya. Ada tiga bentuk kebutuhan, yaitu inforrmasi, pendidikan, dan hiburan. Tidak terpenuhinya salah atu kebutuhan tersebut akan membuat radio kehilangan fungsi social, kehilangan pendengar, dan pada akhirnya akan digugat masyarakat sebab tidak berguna bagi mereka. Para insane radio dewasa ini sadar betul bahwa puisi social mereka sedang di sorot. Program hiburan sebagai primadona harus dikaji ulang kembali, guna disinergikan dengan program informasi, sekecil apapun persentasinya. Konsep acara infotaiment menjadi jawaban awal terhadap upaya kolaborasi musik sebagai symbol program hiburan dengan berita sebagai symbol informasi pendidikan. Hanya saja, pendengar dan juga insan radio sendiri tentu tidak pernah merasa puas jika hanya berhenti sampai disitu. Apalagi jika idealismenya tidak tersalurkan secara maksimal pada satu bentuk program saja.
Ada beberapa tingkatan tingakatan peran social yang diemban radio dalam kapasitasnya sebagai media public, atau yang dikenal dalam konsep radio for society.
Pertama radio sebagai media penyampaian informasi dari satu pihak kepihak lain. Kedua,radio sebagai sarana mobilisasi pendapat public untuk mempengaruhi kebijakan. Ketiga, radio sebagai sarana untuk mempertemukan dua pendapat berbeda atau diskusi untuk mencari solusi bersama yang saling menguntungkan. Keempat, radio sebagai sarana untuk mengikat kebersamaan dalam semangat kemanusiaan dan kejujuran. Beberapa fungsi tersebut bisa di emban sekaligus, tetapi ada kalanya hanya salah satu saja. Yang penting adalah konsistensi dan optimalisasi pada suatu peran.

D. Sikap kritis masyarakat

Dalam pemahaman modern pendengar radio bukan lagi objek yang menggunakan telinga untuk menyimak sebuah acara. Mereka juga menggunakan nalar pikir dan sekaligus empati, sehingga membentuk sikap kritis, jika program yang ditayangkan radio tidak sesuai maka, sikap mereka tidak sekedar memindah channel atau gelombang ke stasiun lain, tetapi akan bersikap anti pati terhadap stasiun yang dinilai mengecewakan. Sebagai contoh, dominasi menu hiburan yang muncul diradio menimbulkan kebosanan jika tidak mampu menyuguhkan vareasi program. Dan salah satu pertimbangan untuk memfareasikan program adalah sikap memberdayakan pendengar dengan memberikan mereka suguhan informasi yang bersifat actual dan yang dapat mencerdaskan intelektual pendengarnya.
Sikap masyarakat terhadap radio makin kritis, bahkan diera reformasi ini cederung makin “brutal”. Fenomena ini seharusnya membuat stasiun radio tertantang untuk membenahi bagian-bagian yang masih “bolong” menuju radio yang professional dalam melayani kebutuhan masyarakat.
Berkaitan dengan fungsi social sebagai sarana diskusi, apakah mengudarakan sikap kritis masyarakat merupakan visi yang harus dipilih radio masa depan. Dengan cara seperti itu, sebuah radio bisa mengikuti pertumbuhan masyarakat yang dan ikut serta mengelola berbagai potensi distruktif yang mungkin timbul dari sikap kritis itu, menjadi arena diskusi yang hangat, bersahabat dan intelek, jauh dari kerusuhan massa. Radio bisa “memindahkan” kerusuhan dilapangan yang penuh darah menjadi kerusuhan diudara yang penuh perdebatan intelektual.

E. Tuntutan Pasar Komersial

Sejak radio informasi (news radio) menjamur di indonesia, khususnya Jakarta, yogyakarta, dan Surabaya; pemeo bahwa berita tidak bisa “menjual”dan “dijual”, dalam konotasi komersial, tidak berlaku lagi. Radio informasi ternyata mampu eksis bahkan menempati rating pendengar tertinggi dalam setiap survey. Jarang pula terdengar ada radio informasi yang gulung tikar, sebagaimana terjadipada radio hiburan. Persoalan informasi radio tidak bisa dijual ternyata bukan terletak pada isi informasinya, melainkan pada kemasan dan sasaran pendengar yang dituju. Oleh kaena itulah, pada saat iniberbagai pelatihan digelar bahkan melalui bantuan doanasi asing, denagan sasaran memperbaiki kinerja SDM jurnalis radio dfalam mengemas sajian berita. Pada saat yang sama, para pengiklan dan perusahaan besar menunggu hasilnya untuk diajak bekerja sama.

F. Pers Radio Makin Dilirik

Walaupun dibandingkan dengan media cetak dan televisi, jurnalistik radio dianggap sebagai “anak kecil”, namun menjelang dan sesudah reformasi, radio menjadi bagian yang sangat penting dalm kehidupan pers dan kehidupan masayarakat yang sadar akan informasi.
Keasadaran yang muncul dikalangan pengelola (owner) dan praktisi(broadcaster) bahwa radio merupakan media informasi strategis, mendapatkan momentum yang sangat tepat. Seperti menemukan kembali”anak hilang”, yaitu program informasi, radio berlomba menyajikan berita sebaik mungkin, baik dari segi materi maupun pengemasannya .
Gairah untuk menyajikan berita itu dapat dilihat dalam dua pendekatan sosiologis. Pertama, kesadaran makin berkembang dikalangan insane radio bahwa sebagai institusi social yang terikat dengan dinamika social masyarakat pendengarnya. Dinamika yang berkembang dimasyarakat merupakan sumber inspirasi yang terus menerus harus diikuti radio sebagai media publik, jika ia tidak mau ditinggalkan pendengar.
Kedua, perubahan sosial dimasyarakat layak dicatat sebagai pendorong utama berkiprahnya radio, terutama radio swasta dalam menyajikan informasi. Selain perubahan yang bersifat makro,yaitu meningkatnya sikap kritis masayarakat terhadap pemerintah dan media massa, perubahan itu juga menyangkut pergeseran budaya dengar sari pasif menjadi aktif, dan dari entertainment minded ke information minded. Sekarang ini makin sussah menemukan masyarakat pendengar yang suka dipanggil sebagai hanya pendengar musik. Merak lebih suka dipanggil sebagai pendengar warta dengan berbagai alas an rasional. Pada saatnya nanti, persepsi masyarakat akan berubah terhadap radio, dari media hiburan menjadi media informasi dan pendidikan.
Karena wujudnya yang bersifat melayani(serve) bukan sekadar menginformasikan (to inform) maka program jurnalistik di radio sangat terasa manfaatnya, misalnya; siaran informasi lebaran(Arus mudik dan Balik), baik yang digelar RRI maupun radio swasta.
Tiga alas an mengapa jurnalisme radio makin dilirik, karena sifat ketersegeraan (actuality), format kemasan (body style) dan lokalitasnya. Prinsipberita hari ini baca hari ini, mungkin masih bisa dikejar oleh media cetak, tetapi jika berita detik ini dengarkan detik ini juga, hanya radio yang bisa melakukannya. Media online seperti Detik.com sekalipun harus membutuhkan jeda waktu sejumlah detik untuk menayangkan berita dari reporter lapangannya. Sementara itu, reporter radio bia melaporkan secara langsung peristiwa serupa, bahkan mengajak pendengar untuk berinteraksi memberikan tanggapan terhadap peristiwa actual yang sedang dilaporkannya. Berita radio yang tersaji secara langsung menjadi primadona karena aktualitas dan objektivitasnya terejamin tanpa rekayasa ulang dari redaktur atau reporter lapangan.
kemasan berita radio dewasa ini makin bervariasi, sehingga memudahkan masyarakat pendengar untuk memilih kemasan yang pas buat mereka, dan mencatat waktu penyiaran yang sesuai dengan kesibukan mereka. Seperti halnya media cetak dan televise, program berita di radio tidak berhenti pada berita pendek(straight news), tetapi juga berbentuk bulletin, feature, bahkan investigative news. Diantara sekian bentuk itu, format interaktif merupakan pilihan pavorit, karena pendengar dapat berposisi ganda, sebagai responden sekaligus reporter. Jika dibandingkan dengan televisi, keunggulan berita radio adalah sifat imajinatifnya. Kemasan auditif yang tersaji kepada pendengar dapat merangsang mereka untuk membayangkan suasana peristiwa yang sebenarnya dan melibatkan mereka dalam peristiwa itu secara imajiner. Berita radio yang sukses adalah berita yang mampu menggugah emosi pendengarnya.
Kalaupun berita radio telah makin dilirik masyarakat, bukan berarti insan radio harus berbangga diri dan optimis. Sebabpersoalan krusial justru sedang menghadang dan memerlukan solusi dini. Persoalan itu menyangkut SDM dan etika jurnalistik. Sebagi “pendatang baru” dalam kancah reportase, reporter radio masih dihinggapi sejumlah penyakit, seperti minder dan kesulitan beradaptasi akibat miskin petualangan.
Sedangkan masalha etiak idak kalh krusialnya. Moralitas reporter yang baik selama dilapangan akan ditentukan oleh tingkat kesejahteraan, penghargaan terhadap karya, dan lingkungan perusahaan yang kondusif sebagai “kawah candradimuka” intelektual. Pada dasarnya, reporter adlah seorang intelektualyang berkaca pada hati nurani ketika meliput sebuah peristiwa dan menghadapi sebuah godaan seperti amplop dan teror fisik.
Kesediaaan untuk mengantisipasipersoalan tersebut akan mempermudah cara penyelesaiannya, sebab dari sudut jumlah dan budaya interaksi, reporter radio relative masih sedikit, sehingga dalam masalah pembinaan dan pengawasan relative lebih mudah pula. Akan tetapi, itu tentu hanya bisa terjadi jika aa niat baik dari pemilik perusahaan radio, dan reporter itu sendiri. Keduanya dapat belajar, baik dari “buruknya” cermin insane media cetak dan televisi, maupun dari mereka yang telah berhasil menjaga citra diri dengan baik di mata masyarakat.

G. Prinsip Penulisan

Pada prinsip penulisan radio terdapat antara lain;
A. ELF-(Easy listening formula). Susunan kalimat yang jika diucapkan enak didengar dan mudah dimengerti pada pendengaran pertama.
B. KISS(keep it simple and short).hemat kata, tidak mengumbar kata. Menggunakan kalimat-kalimat pendek dan tidak rumit. Gunakan sedikit mungkin kat sifat dan anak kaliat (adjectives).
C. WTYT(write the way you talk). Tulisan sebagaimana diucapkan. Menulis untuk “disuarakan”, bukan untuk dibaca.
D. Satu kalimat satu Nafas. Upayakan tidak ada anak kalimat. Sedapat mungkin tiap kalimat bisa disampaikan dalam satu nafas.

Jadi, radio merupakan media auditif (hanya bisa didengar), tetapi murah, merakyat, dan bisa dibawa atau didengarkan dimana-mana.
Jurnalistik adalah segala hal yang menyangkut proses perencanaan, meliput, memproduksi dan melaporkan sebuah fakta menjadi berita
Sebagai bahan perbandingan, ada beberapa pendapat pakar radio yang bisa diacu yaitu:
1. Paul D. Maessenner, dalam bukunya Here’s the news. News adalah sebuah informasi yang baru tentang suatu peristiwa yang penting dan menarik perhatian serta minat pendengar berita radio dapat pula berarti apa yang terjadi saat ini, apa yang segera terjadi dan apa yang akan terjadi.

2. Prof mitchel V. Charnley, dalam bukunya”Reporting” News adalah laporan tentang fakta atau opini yang menarik perhatian dan penting, yang dibutuhkan sekolompok masyarakat. Jeams M. Neal dan mitchel V. Chanrley mengartikan berita radio sebagai laporan tentang suatu peristiwa, opini kecendrungan situasi, kondisi, interpretasi yang penting, menarik, masih baru, dan harus secepatnya disampaikan kepada khalayak.

3. Curtis Beckmann, Post president RTND. News diartikan sebagai laporan atau opini atau peristiwa yang penting bagi sejumlah besar khalayak. Berita yang besar adalah liputan opini atau peristiwa yang sangat dibutuhkan pula oleh orang
Karater berita radio dapat ditentukan menjadi empat macam :
• Segera dan cepat
• Aktual dan factual
• Penting bagi masyarakat luas
• Relevan dan berdampak luas
Di dalam proses komunikasi social, peran ideal radio sebagai media publik adalah mewadahi sebanyak mungkin kebutuhan dan kepentingan pendengarnya. Ada tiga bentuk kebutuhan, yaitu inforrmasi, pendidikan, dan hiburan
Ada beberapa tingkatan tingakatan peran social yang diemban radio dalam kapasitasnya sebagai media public, atau yang dikenal dalam konsep radio for society.
Pertama: radio sebagai media penyampaian informasi dari satu pihak kepihak lain.
Kedua,radio sebagai sarana mobilisasi pendapat public untuk mempengaruhi kebijakan.
Ketiga, radio sebagai sarana untuk mempertemukan dua pendapat berbeda atau diskusi untuk mencari solusi bersama yang saling menguntungkan.
Keempat, radio sebagai sarana untuk mengikat kebersamaan dalam semangat kemanusiaan dan kejujuran. Beberapa fungsi tersebut bisa di emban sekaligus, tetapi ada kalanya hanya salah satu saja.
Sikap masyarakat terhadap radio makin kritis, bahkan diera reformasi ini cederung makin “brutal”.
Radio informasi ternyata mampu eksis bahkan menempati rating pendengar tertinggi dalam setiap survey
Dibandingkan dengan media cetak dan televisi, jurnalistik radio dianggap sebagai “anak kecil”, namun menjelang dan sesudah reformasi, radio menjadi bagian yang sangat penting dalm kehidupan pers dan kehidupan masayarakat yang sadar akan informasi.

DAFTAR PUSTAKA

Masduki, Jurnalistik Radio,¬Lkis Yogyakarta, 2001.
Syamsul Asep M. Romli, Jadi Penyiar itu asyik Lho !, Ujung-Bandung,nuansa, 2007.
Adam, Rainer, dkk, politik dan radio, Friedrich Naumarun Stiftung Jakarta : 2000.
Ashadi siregar, jurnalistik radio, Seminar Radio UNISI FM FDWY yogyakarta :1994.
www.kjpnews.co,nr.

KILAS SEJARAH TEKNOLOGI KOMUNIKASI MANUSIA

Kalau kita berbicara tentang sejarah teknologi komunikasi manusia, sebenarnya tak bias lepas dari sejarah kehidupan manusia itu sendiri. Karena, perkembangan teknologi komunikasi manusia berkembang bersamaan dengan perkembangan kehidupan manusia.Ada empat unsur pokok perkembangan teknologimanusia (Varis, 1973), yaitu
a. perolehan bahasa
b. pengembangan seni tulisan
c. reproduksi kata-kata tertulis dengan menggunakan alat-alat cetak, yang memungkinkan mewujudkan komunikasi massa yang sebenarnya.
d. Munculnya komunikasi elektronik, mulai telegraf hingga satelit.
Dengan demikian, sejarah kehidupan manusia pada saat yang sama adalah sejarah komuikasi.
Manusia membutuhkan komunikasi yang bisa dilakukan dari jarak yang jauh atau bahkan sangat jauh. Dan hal ini telah muncul sejak zaman pra sejarah, untuk memberikan peringatan ketika ada peristiwa tertentu, yang biasanya dilakukan dengan berteriak sekuat-kuatnya.
Atau pada masa sejarah islam di makkah, dimana ummat islam menggunakan bukit yang sangat tinggi untuk dijadikan tempat mengumandangkan adzan sebagai tanda masuknya waktu shalat, agar semua ummat muslim mendengarnya. Dan ini merupakan langkah awal mekanisasi komunikasi manusia.
Seiring berjalannya waktu, kebudayaan manusia mulai berkembang dengan ditemukannya tulisan sebagai salah satu media komunikasi. Selain itu, tulisan juga membantu sen-save kejadian-kejadian penting ataupun ide-ide yang ada dan memungkinkan kita untuk berkomunikasi dalam ruang, dengan rahasia, tanpa diketahui orang lain maksud dan tujuan kita.
Namun sayangnya, pada saat itu tidak semua kalangan yang mengerti tulisan dan bahkan hanya segelintir orang saja yang mengetahuinya.
Pada abad pertengahan, terjadi ekspansi komunikasi yang menuntut teknik komunikasi yang sepenuhnya baru, karena jumlah pembaca mualai bertambah, sedangkan jika hanya menggunakan naskah surat saja tidak cukup. Sehingga, penemuan mesin cetak menjadi sarana utama teknologi komunikasi yang sangat mendukung saat itu dan juga menandai bermulanya riwayat komunikasi massa, karena sejak saat itulah ada kemungkinan untuk menyampaikan pesan kepada khalayak ramai yang panjang dan kompleks.
Sejak penemuan mesin cetak, perkembangan teknologi komunikasi semakin maju dan berkembang, karena tuntutan kehidupan manusia yang semakin kompleks.Penemuan ini juga menjadikan iteraksi sesame manusia bertambah mudah dan efektif.
Ditemukannya alat komunikasi elektronik, dari telegraph hingga satelit saat ini, pada pertengahan abad XIX menjadikan proses komunikasi menjadi sangat mudah dan memungkinkan komunikasi jarak jauh.
Bahkan, saat ini orang-orang menyebutnya sebagai era kebanjiran informasi, karena saking mudahnya dilakukannya sebuah proses komunikasi.
Sekarang yang menjadi pertanyaan bukan lagi bagaimana kita harus berkomunikasi? Tapi, apa yang harus dikomunikasikan?

BANJIR INFORMASI DAN MASYARAKAT INDONESIA

Pendahuluan

Tak ada satupun proses yang bisa menghentikan proses komunikasi, statment inilah yang selalu dikeluarkan oleh pakar komunikasi dimanapun. Perkembangan teknologi komunikasi yang sangat pesat saat ini menimbulkan banjir informasi di seluruh belahan dunia, termasuk juga di Indonesia. Sehingga, seakan-akan tak ada batas waktu dan ruang saat ini.
Ketika kemajuan di atas bersinggungan dengan masyarakat indonesia yang mayoritas masih terbelakang dan tinggal di pedesaan, maka muncullah kondisi baru dimana ada ketidak cocokan antara “stok informasi” yang datang dengan “wadah pengetahuan” masyarakat Indonesia yang menyebabkan mereka semakin terpuruk.

Televesi misalnya, yang merupakan salah satu celah yang dialiri banjir informasi, pada awalnya berfungsi sebagai penyela kesibukan. Akan tetapi sekarang malah menjadi penambah kesibukan dan bahkan sangat menyibukkan.
Banjir apapun dan apapun yang datang pada suatu komunitas atau masyarakat akan tetapi masyarakat itu siap dengan “bendungan luas” maka tak akan ada korban yang jatuh dalam “bencana” tersebut.

A. Perkembangan Teknologi Komunikasi Sebagai Faktor Banjir Informasi

Komunikasi sebagai suatu proses yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia mengawali sejarahnya bersamaan denga awal kehidupan manusia itu sendiri. Dan teknologi proses ini berkembang dari awal kehidupan hingga sekarang. Pengguunaan simbol-simbol sebagai media mengantarkan pesan serta penggunaan alat-alat yang memungkinkan bisa dimengerti oleh orang lain merupakan awal sejarah perkembangan tekniologi komunikasi.
Kemudian dilanjutkan dengan penemuan bahasa dan tulisan serta ditemukannya alat-alat yang bisa digunakan untuk menulis. Sejak saat inilah teknologi berkembangan dengan pesat,lebih-legih setelah alat cetak manual dan elektronik ditemukan yang terus berlanjut dengan telegram, telepon hingga satelit saat ini.

Perkembangan teknologi komunikasi yang sangat cepat membuat orang-orang semakin mudah berkomunikasi antara satu tempat yang sangat jauh dengan tempat lain di belahan dunia.
Perkembangan ini menjadikan dunia semakin kecil dan waktupun semakin singkat. Sehingga, seolah-olah kita hanya hidup di satu kamar kecilo yang sangat luas.

B. Banjir Informasi vs Sosial Kultur Masyarakat Indonesia

Indonesia adalah negeri yang heterogen dengan variasi suku, ras dan budaya yang sangat banyak. Negeri yang terletak di antara samudra hindia dan samudra pasifik ini hampir 80 % masyarakatnya hidup di pedesaan, dan kebanyakan dari mereka masih awam akan teknologi komunikasi . Lingkungan mereka masih sederhana dan cara berpikir merekapun masih kemiotos-mitosan .
Masyarakat indonesia pada umumnya masih terikat kuat dengan budaya mereka masing-masing, serta kebanyakan mereka selalu mencari hal-hal baru di dalam dan di luar hidup mereka.

Era baru yang hampir seluruhnya berpaham kapitalisme ini dimana banjir informasi telah menerjang hampir seluruh belahan dunia termasuk juga “nyelonong” masuk dalam sosial budaya “ndeso” masyarakat Indonesia.
Informasi yang ada saat ini sangat tidak terbatas dan bervariasi serta membutuhkan kesiapan yang matang untuk menerimanya.

Masyarakat indonesia yang mayoiritas masih awam tentang modernisme dan globalisasi tercenggang kala dihadapkan dengan “air bah informasi” yang datang dengan tiba-tiba. Lebih-lebih ketika media mengalir derasa dengar profit orientednya. Ketidak siapan ini menimbulkan banyak prinsip salah dalamkehidupan mereka. Kita ambil dua contoh yang mungking sagat familiar di telingan kita.
Prinsip yang pertama mengatakan“Yang baru itu baik” . Prinsip ini mejadikan mereka bebek yang hanya bisa ikut-ikutan. Semua barang dan informasi baru yang mereka dapat dianut dan ditelan mentah mentah tanpa ada filtrasi terlebih dahulu.

Susu bubuk merupakan barang baru dalam budaya indonesia. Dan banyak Ibu-ibu yang menggunakannya meski dalam keadaan terpaksa, tapi karena “yang baru itu baik” akhirnya mereka tetap memberikan susu bubuk meski dalam kondisi ekonomi yang sangat memperihatinkan, sehingga prosedur susu bubuk yang seharusnya lima sendok, malah dikasihkan dua atau satu sendok. Dan akibatnya bayi mereka terkena diare dan terkadang mematikan.
Prinsip yang kedua berbunyi “say no for an innovation is a false”, jadi, menolak sebuah inovasi itu salah . Prinsip ini sebenarnya sangat berkaitan dengan prinsip yang pertama. Pemahaman ini menganggap bahwa menolak inovasi dapat dipastikan sebagai gejala keterbelakangan dan kekolotan. Mungkin kita sudah paham kenapa orang-orang risih dikatakan tidak modern, terbelakang, ataupun konservatif, karena itulah terkadang orang-orang terpakasa menerima inovasi agar mereka tidak dikatakan terbelakang dan kolot.

Munculnya prinsip-prinsipdan keadaan yang saya kira kurang benar ini salah satu penyebabnya adalah kurang eksisnya media dalam menyadarnya masyarakat. Bahwa banjir informasi saat ini membutuhkan pengetahuan tentang informasi tersebut dan mengontrol mereka dalam mendapatkan informasi yang ada.
Sehingga, informasi yang pada awalnya berfungsi sebagai sosialisasi dunia lain dengan tujuan berbagi informasi, mendidik, transmisi budaya serta integrasi dan kemakmuran bangsa berada pada tempat yang seharusnya. Bukan malah menjadi kebingungan masyarakat dan melunturkan nilai-nilai budaya yang ada.

Onong Uchjana dalam bukunya Dinamika Komunikasi menulis. Komunikasi,terutama komunikasi massa, dengan fungsinya sebagai sarana hiburan,penerangan dan pendidikan menimbulkan pengaruh positif. Akan tetapi, jika kurang keterampilan, pengetahuan dan kewaspadaan pihak yang menanganinya, pengaruhnya yang negatif juga tidak sedikit. Melihat ketidak siapan masyarakat menerima pesan-pesan yang disampaikan yang pengaruhnya dapat merusak nilai-nilai yang seharusnya dipertahankan dan dikembangkan .

Dan ketika kita berkaca pada fenomena di atas, ternyata memang benar ketika Indonesia dikatakan sebagai “negeri bebek”.


KEPUSTAKAAN
• Effendi, Unong Uchjana, Dinamika Komunikasi, Bandung : Remaja Karya, 1986
• Mawardi dan Ir. Nur HIdayati, IAD-IBD-ISD, untuk UIN, IAIN dan PTAIS,
Bandung : Pustaka Setia, 2007

• Sutaryo, Sosiologi Komunikasi, Yogyakarta : Arti Bumi Intaran, 2005
• Ranjabar, Jacobus, Sistem Sosial Budaya Indonesia, Bogor : Ghalia Indonesia, 2006
• Wardana, Veven SP, apitalisme Televisi dan Strategi Budaya, Jogjakarta : Pustaka
Pelajar, 1997
• McQuail, Denis,Teori Komunikasi Massa,Suatu Pengantar, Jakarta : Erlangga, 1989

About Me