Video of the day

Search This Blog

Tuesday, May 18, 2010

Sinetron Kiblat Remaja



PENDAHULUAN
Televisi merupakan media massa yang berkembang pesat dibandingkan dengan media lainnya, walaupun kemunculan televisi berada pada barisan terakhir. Dengan beragamnya program yang disajikan masyarakat tinggal memilih acara yang diinginkan, mulai dari program pendidikan, hiburan, berita / informasi dan sebagainya. Masyarakat rela menghabiskan waktu luang hanay untuk menonton acara kesayangannya, dibandingkan untuk berkumpul denan keluarga maupun sekedar berbincang-bincang dengan teman.
Media massa televisi meskipun terdapat kesamaan dengan radio dan film sebagai media massa elektronik, tetapi mempunyai ciri dan sifat yang berbeda, maka dalam penyampaian pesan-pesannya juga mempunyai kekhususan. Dalam hal ini informasi yang didapat hanya bisa dilihat sekilas dan tidak dapat diulang. Produk jurnalistik televisi saat ini yang paling banyak diminati oleh masyarakat selain berita adalah produk yang bersifat karya jurnalistik salah satunya adalah sinetron, dimana pengaruhnya yang sangat besar terhadap seluruh aspek kehidupan mulai dari perilaku, cara berpakaian, gaya hidup, sampai gaya berbahasa. Pengaruh sinetron ini terlihat jelas pada kalangan remaja.
Oleh karena itu, disini akan sedikit membahas bagaimana sinetron menjadi “kiblat” para remaja masa kini, serta bagaimana kode etik televisi berfungsi didalamnya. Dalam hal ini kita tidak hanya bias menyalahkan orang-orang yang terlibat dalam pembuatan sinetron tersebut, karena semakin fitif cerita yang disajikan semakin disukai pula oleh pemirsa.

A. Jurnalistik Televisi.
Televisi saat ini telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan masyarakat. Banyak orang yang menghabiskan waktunya didepan layar kaca televisi. Bisa dikatakan saat ini televisi merupakan teman diwaktu senggang mengalahkan buku. Namun, bila dibandingkan dengan media massa radio, televisi masih berada dibawahnya karena, radio saat inipun juga menyajikan berita, serta hiburan-hiburan yang tidak kalah menarik dengan televisi.
Diantara media massa yang ada yaitu media cetak dan elektronik, televise merupakan media yang muncul pada barisan akhir. Namun dalam perkembangannya televise berkembang dengan sangat pesat.”Dengan diambilnya langkah pemerintah untuk mengadakan medium televisi, di Indonesia pada tahun 1961, kepemilikan SKSD-PALAPA pada yahun 1976, pemberian izin pada perorangan untk memiliki antena-parabolapada tahun 1986, pemberian televisi swasta pada tqhun 1989, hingga pemberian izin kepada lima televisi swasta untuk siaran nasional baik menggunakan jasa kabel atau serat opti merupakan kebijaksanaan deregulasi dan debirokratisasi dibidang informasi dan komuniakasi” .
Respon masyarakat denagn munculnya televisi disambut dengan tangan terbuka. Pada dasarnya televisi muncul atau lahir karena terjadinya perkembangan teknologi.mudahnya televisi diteriam dikalangan masyarakat dikarenakan televisi mempunyai sifat istimewa yaitu :
1. Televisi dapat menciptakan suasana yang santai pada saat pemirsanya menyaksikan.
2. dalam penyampaian isi pesan seolah-olah pemirsa dapat secara langsung berhubungan dengan komunikator.
3. informasi yang didapatkan lebih mudah dimengerti dan jelas karena terdengar secara audio dan terlihat secara visual.
Dengan keistimewaan tersebut, maka saat ini kita dapat menikmati berbagai macam stasiun TV swasta. Dengan munculnya stasiun TV yang beragam tersebut maka beragam pula tayangan yang disajikan dan lebih variatif pula siaran yang ditawarkan. Namun, tidak jarang kita menemukan siaran atau tayangan yang sama antara satu dengan yang lain.
“Secara umum stasiun TV, dapat dibagi menjadi dua, yaitu TV generalis dan TV spesialis. TV generalis menyajikan program atau acara beragam, dari sinetron, musik, film ,acara anak-anak, hingga berita. Untuk TV nasional, yang yang ternasuk dalam kategori ini adlah RCTI, SCTV, TPI, Indosiar, ANTeve, Trans TV, Trans 7, termasuk juga TVRI. Sedangkan TV spesialis menitik beratkan program tertentu. Metro TV dan TV One adalah TV yang menspesialisasikandiri pada program berita” . Tetapi, sebagaimana yang kita saksiakn selama ini, keseluruhan stasiun TV menyajikan program berita, yang terkadang terjadi kesamaan dalam isi pemberitaan tersebut.
Kekuatan atau keperkasaan TV saat ini semakin lama semakin nampak dampaknya baik yang positif maupun negatif bagi masyarakat. Ini etrlihat dari bagaimana sebuiah tayangan TV mempengaruhi audience. Fenomena tentang keperkasaan media TV dalam mempengaruhi khalayak hingga saat ini masih tetap dipercaya, bahkan hampir menjadi mitos yang menjadi kenyataan. Banyaknay cerita tentang keperkasaan TV, bukan hanya berfungsi untuk mempengaruhi akal dan rasa khalayak, tetapi juga telah menjadi kenyataan bahwa TV juga sebagai media “control social”. “Jurnalisme TV membantu masyarakat mengawal kekuatan suatu rezim agar tidak menjadi otoriter.” . Adanya fungsi control social tersebut dapt berjalan lebih efektif karena keberhasilan TV dalam membangun opini public, serta adanya potensial menjadi sarana dalam memprogarm image dikalangan pemirsa.inilah salah satu bukti nyata bagaiamna TV dapt mempengaruhi audience,
Adapun pengaruh yang besar TV itu karena beberapa kemampuan antara lain :
 menciptakan kesan (image) dan persepsi bahwasuatu muatan dalam layar kaca (visual maupun audio visual) menjadi lebih nyata dari realitasnya.
 Media massa mampu membuat liputan “apa yang terjadi” menjadi lebih nyata. Tentunya atas kemampuan reporter dalam memformulasikan apa yang terjadi (what happens) itu menjadi simbol-simbol verbal, maupun audio visual.
 Penelitian-penelitian “use and gratifications” yang biasanya terfokus pada efek individu menemukan fakta bahwa komunikasi membangun makna ritual (ritual meaning) yang menggambakan bagaimana orang sama-sama dan bekerja sama secara terus menerus memakai makna tersebut.
 Sejak lama media diyakini menjadi semacam kanal yang berfungsio mengalirkan emosi dan kecendrungan destruktif psikologis lainnya menjadi gejala internal (individu) yang wajar (normal).
Denagn kemampuan yang dimiliki oleh TV iini, maka TV merupakn media yang paling banyak digemari oleh masyarakat. Selain masyarakat bias memperoleh informasi dari seluruh dunia, masyarakat juga bias menikmati berbagai program pendidikan dan agam, kesenian dan kebudayaan, hiburan dn sebagainya. Saat ini program yang paling banyak diminati oleh masyarakat dari kalangan bawah sampai kalangan atas, dari anak-anak sampai orang tua, serta mempunyai pengaruh yang sangat besar adalah sinetron.

B. Sinetron sebagai kiblat remaja.
Televisi selain berisikan tayangan hiburan terutama film cerita, film seri, dan serial, kehadiran paket informasi telah menjadikan masyarakat atau pemirsa kembali mempunyai kepercayaan bahwa jurnalisme TV tidak kalah menariknya dan mampu bersaing denagn tayangan hiburan. “Fungsi TV secara universal adalah mendisfungsikan informasi (to inform), menghibur (to entertain), dan mempengaruhi ( to influence), yang pada kenyataan sudah dipenuhi oleh stasiun TV, baik yang dikelola oleh pemerintah maupun swasta”. Dari beberapa fungsi TV diatas salah satunya yaitu mempengaruhi. Produk jurnalistik TV yang cepat mempengaruhi audience adalah sinetron.
“Sinetron merupakan penggabungan dan kependekan dari sinema dan elektronika. Elektronika yang dimaksud dalam sinetron lebih mengacu pada medium penyiarannya yakni televise. Sebagai sesama sinema, dinamika dalam sinema layar lebar juga berlainan dibandingkan dengan sinema televise. Dan sinema khas TV inilah yang kemudian dikenal dengan istilah sinetron“. Dahulu acara sinetron merupakan produk dari TVRI yang mempunyai ciri khas tersendiri, di dalamnya terdapat isi pesan yang berhubungan langsung dengan nilai dan tradisi luhur budaya nasional. Namun, saat ini jarang sekali kita menemuka sinetron yang di dalmnya terdapat pesan-pesan yang mendidik ataupun yang berisikan wawasan bagi para audience.

PERAN PENYIAR TERHADAP EKSISTENSI SEBUAH RADIO


PENDAHULUAN
Radio merupakan salah satu media massa yang jangkauannya paling luas di muka bumi. Dengan ciri khas utamanya yang bersifat auditif, radio mampu menjadi media massa yang menarik bagi siapa saja. Kepraktisan dan keanekaragaman program siarannya menjadikan radio sebagai media paling populer dalam sejarah. Popularitasnya kian kuat ketika radio memasuki wilayah jurnalistik dengan menyajikan berita.
Adapun orang-orang yang berjasa dalam membesarkan dan membuat radio bertahan dalam ketatnya persaingan antar media massa adalah mereka yang terlibat dalam dunia penyiaran radio yang disebut “orang-orang broadcast”. Ujung tombaknya adalah para penyiar. Penyiarlah yang mampu menghidupkan siaran radio sehingga menarik, memukau, dan berdampak. Mereka terus bekerja dan berpikir untuk kemajuan dunia radio siaran dan memuaskan publik pendengarnya.
Oleh karena itu, pada makalah ini penulis membahas tentang peran penyiar terhadap eksistensi sebuah radio. Karena merekalah orang-orang yang mampu membuat radio lebih perkasa di antara media massa-media massa yang lain. Dengan segala kemampuan dan kecakapan yang mereka miliki, para penyiar terus berusaha menghidupkan radio di antara para pendengarnya.
.
A. Penyiar Radio (Announcer)
“Hai selamat pagi pendengar…pagi yang cerah buat memulai aktivitas…” . Kalimat di atas merupakan sapaan seorang penyiar radio “SWEET FM ROCK”, yang setiap paginya para pendengar setia “SWEET FM” akan ditemani oleh suara David dengan lagu-lagu slow rock yang tengah hits. Tidak hanya menyuguhkan tembang-tembang yang disenangi penggemar, tapi juga memberikan informasi yang actual dan terkini.
Produk unggulan sebuah radio, selain lagu dan program acara adalah penyiar. Penyiar(announcer) adalah orang yang bertugas membawakan atau memandu sebuah acara di radio, misalnya acara berita, pemutaran lagu pilihan, talk show dsb. Ia menjadi ujung tombak sebuah stasiun radio dalam berkomunikasi dengan pendengar. Keberhasilan sebuah program acara (dengan parameter jumlah pendengar dan pemasukan iklan) utamanya ditentukan oleh kepiawaian penyiar dalam membawakan sekaligus “menghidupkan” acara tersebut.
Banyak orang beranggapan bahwa profesi sebagai penyiar radio itu gampang. Dengan duduk di balik meja operator dan bermodalkan suara bagus serta pandai bicara kemudian sesekali memutarkan lagu sudah bisa disebut sebagai penyiar radio. Mungkin hal itu yang selama ini orang pikirkan. Padahal bagi mereka yang sudah brtahun-tahun bergelut di dunia broadcast (penyiaran) untuk menjadi seorang penyiar itu tidaklah mudah.
Untuk itu, akan terjadi pemilihan penyiar yang punya skill lebih bagus. “Dulu aku juga punya gambaran, kalo penyiar radio itu gampang, tapi setelah aku jalani, aku mesti mengikuti pelatihan dulu sebelum resmi jadi penyiar”, ungkap Winda, salah satu penyiar “MOZE FM”.
Pada dasarnya, semua orang bisa menjadi penyiar radio, selama dia tidak punya kelainan dalam cara berbicara seperti gagap misalnya. Namun, untuk menjadi penyiar yang profesional, seseorang harus memiliki skill tertentu dalam hal komunikasi lisan, utamanya ia harus “lancar berbicara”. Karena penyiar radio merupakan ujung tombak dalam dunia penyiaran radio. Sehingga banyak stasiun radio yang masih mempertahankan penyiar-penyiar lamanya karena sudah menjadi icon dari radio mereka.
Kenyataannya, penyiar yang sudah berhasil menjadi icon sebuah radiodan memiliki banyak pendengar, ketika dia keluar dari radio tersebut dan berpindah menjadi penyiar radio lain, maka terkadang pendengarnya pun ikut berpindah mendengarkan radio lain yang menjadi tempat siaran baru bagi penyiar kesayangannya tersebut.
Dan tidak dapat dipungkiri jika saat ini yang memiliki banyak pendengar adalah radio dengan target segmentasi pendengarnya adalah anak muda. Karena selain kemasan program yang kekinian untuk anak muda, penyiar-penyiarnya pun mampu menghidupkan radio menjadi lebih bervariasi dan menghibur. Namun bukan berarti radio yang beridentitas lain seperti radio pendidikan tidak mempunyai banyak pendengar. Radio-radio tersebut masih memiliki banyak kelebihan karena mengusung fungsi dasar radio yaitu to educate (pendidikan). Sehingga yang perlu diperhatikan disini adalah bagaimana penyiar-penyiar radio yang identitasnya berbeda tersebut bisa bersaing untuk tetap mempertahankan eksistensi radio yang ditempatinya.

B. Peran Dan Pengaruh Penyiar Bagi Eksistensi Radio
Telah dijelaskan sebelumnya, bahwa penyiar merupakan ujung tombak dalam dunia penyiaran radio. Penyiar mempunyai peran dan pengaruh yang cukup besar bagi eksistensi sebuah radio. Penyiar yang profesional akan mampu membawakan suatu program siaran dengan baik sehingga akan menarik banyak pendengar. Dan akhirnya secara tidak langsung akan berdampak pada pemasukan iklan yang terus bertambah.
Salah satu peran seorang penyiar radio adalah mampu membawakan suatu program siaran dengan baik. Sejalan dengan perkembangan dunia radio yang semakin berkembang dan menjual, maka banyak perubahan yang mesti terjadi, apalagi dalam program siarannya. Radio yang profesional dan komersil akan menuntut peraturan yang seragam sehingga akan tercipta sebuah format siaran yang mesti ditaati oleh penyiarnya.
Seorang penyiar harus mampu membawakan program siaran dengan format yang sudah ditentukan oleh pihak radio. Bahkan terkadang mereka juga harus memformat sendiri program siaran yang dibawakannya agar lebih menarik dan mampu menyedot banyak pendengar. Disinilah peran seorang penyiar berada. Semenarik apapun program acaranya jika si penyiar tidak dapat membawakannya dengan baik, maka tidak diragukan lagi bahwa pendengar akan segan untuk mendengarkannya. Sebaliknya, jika penyiar bisa mengemas sebuah program acara semenarik mungkin bagi pendengar, maka dia akan mendapat banyak sorotan.
Memang, yang paling membedakan dalam menyajikan acara siaran di radio adalah suara manusia, dalam hal ini adalah penyiarnya. Ia tampil akrab, terkadang mengharukan, marah, pilu, atau mengajak tertawa pendengarnya. Dengan suara-suara seperti itu, sebuah peristiwa akan dapat disajikan lebih hidup.informasi akan semakin jelas, menarik, dan mudah diserap bila dituturkan infleksi, lagu dan tekanan pada penuturannya. Vitalitas radio sesungguhnya terletak pada daya tarik ragam suara awak siarnya, juga ragam kosakata dan ungkapan lokalnya, nilai kepribadian radio yang manusiawi terletak di sini.
Perlu diingat juga bahwa dalam dunia penyiaran radio, keberadaan pendengar perlu mendapat banyak perhatian. Karena mereka lah yang menentukan eksis atau tidaknya sebuah radio. Namun di balik itu semua ada sosok seorang penyiar yang mampu menggiring banyak pendengar sehingga radio bisa tetap eksis. Tidak dipungkiri jika akhirnya penyiar-penyiar ini memiliki banyak fans.
Memang, salah satu yang membuat seorang penyiar bisa tetap eksis adalah penggemar. Meskipun mereka lebih dikaenal lewat suara, namun tidak mengherankan kehadiran seorang penyiar mampu membuat pendengarnya tergila-gila. Tidak jarang pendengar langsung main ke radio tersebut hanya untuk bertemu dengan penyiar favoritnya. Dan banyak pula yang pada akhirnya hubungan idola dan fans-nya ini berlanjut menjadi teman dekat atau sahabat. Berawal dari special program curhat dari sebuah radio. Penyiar yang bertugas membawakan acara tersebut akan dicap pendengar sebagai salah satu alternatif tempat curhat. Dan biasanya fans akan menghubungi penyiar, untuk meminta bertemu bisa curhat di luar jam siaran. Frekuensi bertemu yang terlalu sering bakal membuat hubungan akan nerubah menjadi teman. Tidak dapat dipungkiri juga keberadaan seorang fans sangat penting. Ada beberapa station manager mempertahankan penyiarnya yang memiliki pendengar paling banyak.
Disinilah pengaruh seorang penyiar begitu terlihat. Ketika dia mampu membawakan sebuah program acara dengan baik dan menarik banyak pendengar, maka secara otomatis dia telah membuat radio yang ditempatinya tetap eksis dengan kehadiran pendengar-pendengar tersebut. Karena besarnya pengaruh yang dimiliki seoarang penyiar, maka ketika berpindah tempat ke stasion radio lain, pendengarnya pun juga akan mengikutinya. Sehingga dengan kata lain, keberadaan penyiar sangat berpengaruh bagi eksistensi radio.
Selanjutnya, pengaruh yang lebih luas terlihat pada pemasukan iklan. Radio dengan jumlah pendengar yang banyak, kemungkinan besar dapat meraih pangsa iklan yang besar juga. Para produsen iklan tidak akan segan untuk memasung iklan jika radio tersebut terbukti memiliki banyak pendengar.
Semua itu kembali pada peran seorang penyiar. Walaupun sebenarnya bukan hanya sosok penyiar yang menentukan segalanya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa memang penyiarlah yang memberikan kontribusi lebih banyak bagi radio. Layaknya sebuah film, maka penyiarlah pemain utamanya. Karena walaupun semua itu dalam prosesnya adalah kerja tim, namun pada akhirnya yang tampil paling depan adalah penyiarnya.
Oleh karena itu, kontribusi seorang penyiar sangatlah besar. Jika dia mampu bekerja profesional, menarik banyak pendengar maka pangsa iklan pun juga akan berdatangan. Hal inilah yang menjadi modal utama bagi sebuah radio untuk bisa tetap eksis di tengah persaingan bisnis media yang semakin marak saat ini.

C. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Kinerja Seorang Penyiar
Telah dibahas sebelumnya bahwa penyiar mempunyai peran dan pengaruh yang cukup besar bagi eksistensi sebuah radio. Dan sepertinya profesi sebagai penyiar semakin banyak diminati khususnya anak muda. Apalagi di era globalisasi ini makin banyak bermunculan stasiun-stasiun radio baru yang tentunya membutuhkan banyak tenaga-tenaga baru sebagai penyiar.
Namun perlu diperhatikan bahwa ada banyak hal yang harus dilakukan atau dimiliki oleh seorang penyiar radio untuk menjadi penyiar yang profesional dan benar-benar memberikan kontribusi yang penuh bagi radionya.
Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah seorang penyiar harus memiliki skill(kecakapan). Keahlian utama yang mutlak dimiliki setiap seorang penyiar ada tiga yaitu berbicara, membaca dan menulis. Seorang penyiar harus pandai berbicara karena pekerjaan seorang penyiar adalah berbicara, mengeluarkan suara atau melakukan komunikasi secara lisan. Namun, tidak sekedar bisa “cuap-cuap”. Karenanya ia harus “lancar berbicara” dengan kualitas vocal yang baik. Pelatihan vocal merupakan proses awal yang harus dijalani seorang penyiar yang ingin memiliki kualitas yang baik. Memiliki suara yang enak dan disukai adalah suatu keuntungan. Tapi kualitas suara dalam radio juga penting. Kecanggihan teknologi dapat membantu kita mendapatkan kualitas suara yang enak. Bahkan suara yang melengking sekalipun dapat mengembangkan suaranya sehingga menjadi menarik untuk didengar.
Melaksanakan siaran di radio berarti mengkreasikan banyak karakter dan situasi dalam kerangka imajinasi pendengar. Misalnya penyiar yang matang ditandai dengan suara yang penuh resonansi dan hati-hati ketika berbcara, itu yang biasanya terekam dalam imajinasi pendengar. Selain itu, pendengar tidak ada batasnya untuk berimajinasi tentang penyiar dari siaran yang didengarkannya. Oleh karena itu, seorang penyiar harus memiliki suara yang baik sebagai bunyi dasar suara dan berbicara.
Selanjutnya kecakapan yang harus dimiliki seorang penyiar adalah membaca. Dalam hal ini kemampuan spoken reading, yakni membaca naskah siaran namun terdengar seperti bertutur atau tidak membaca naskah. Satu hal lagi adalah kecakapan menulis (naskah siaran). Seringkali penyiar harus menyiapkan naskah siarannya sendiri. Karenanya ia harus memiliki kemampuan menulis naskah.
Tiga hal di atas merupakan keahlian utama yang harus dimiliki seorang penyiar. Selain harus memiliki kecakapan-kecakapan di atas, seorang penyiar juga harus memiliki wawasan yang luas. Ini adalah modal penting untuk menjadi penyiar yang profesional. Walaupun saat ini banyak bermunculan radio dengan target segmentasi adalah anak muda, yang tentu saja lebih menonjolkan acara-acara musik yang lagi hits saat ini, namun penyiarnya pun juga harus memiliki wawasan yang luas. Juga harus paham tentang jenis musik, alat musik dan artis-artisnya serta mampu berbicara dalam bahasa dan gaya anak muda.
Target segmentasi pendengar juga perlu diperhatikan. Dalam prakteknya, masing-masing radio memiliki standar tersendiri atau standar tambahan bagi para penyiarnya. Radio dengan segmen pendengar anak muda, tentu membutuhkan penyiar yang mampu berbicara dalam bahasa dan gaya anak muda. Radio dengan segmen pendengar dewasa, tentu mensyaratkan penyiarnya siaran dengan bahasa dan gaya dewasa.
Sesuai dengan sifat pribadi radio yang bisa dibawa ke mana-mana bahkan di tempat pribadi sekalipun, maka hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah seorang penyiar harus mampu menjadi sahabat yang baik bagi pendengarnya. Sebagai sahabat yang punya derajat yang setara, pendengar biasanya tidak suka penyiar yang terlalu menggurui, berpenampilan monoton, kasar, sombong, suka merendahkan bahkan menghina pendengar.jadi pendengar suka penyiar yang bisa dijadikan sahabat yang hangat, wajar dan tidak dibuat-buat.
Membangun komunikasi yang efektif dengan pendengar intinya tidak jauh berbeda, saat on air komunikasi yang efektif bisa dibangun saat sesi interaktif antara penyiar dan pendengar. Jika saat off air bisa saat pendengar datang ke studio dan penyiar harus menemuinya dan mengajaknya bicara. Dari pembicaraan tersebut dapat ditemukan apa yang sebenarnya diinginkan pendengar dari suatu radio. Tentunya dengan pembicaraan yang ramah, hangat dan bersahabat sehingga membuat pendengar nyaman, dengan begitu komunikasi akan berjalan dengan baik dan efektif.

Kesimpulan
Produk unggulan sebuah radio, selain lagu dan program acara adalah penyiar. Penyiar(announcer) adalah orang yang bertugas membawakan atau memandu sebuah acara di radio, misalnya acara berita, pemutaran lagu pilihan, talk show dsb. Ia menjadi ujung tombak sebuah stasiun radio dalam berkomunikasi dengan pendengar. Keberhasilan sebuah program acara (dengan parameter jumlah pendengar dan pemasukan iklan) utamanya ditentukan oleh kepiawaian penyiar dalam membawakan sekaligus “menghidupkan” acara tersebut
Penyiar mempunyai peran dan pengaruh yang cukup besar bagi eksistensi sebuah radio. Penyiar yang profesional akan mampu membawakan suatu program siaran dengan baik sehingga akan menarik banyak pendengar. Dan akhirnya secara tidak langsung akan berdampak pada pemasukan iklan yang terus bertambah.
Selanjutnya, dalam kinerjanya seorang penyiar harus memiliki banyak kecakapan seperti lancar berbicara, membaca naskah dan menulis naskah siaran. Penyiar juga harus berwawasan luas, bisa menjadi sahabat yang baik bagi pendengarnya serta mampu menciptakan komunikasi yang efektif dengan pendengarnya.

DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Romli, Asep Syamsul M. 2004. Broadcast Journalism. Bandung: Nuansa

Prayudha, Harley. 2006. Radio: Penyiar, Its Not Just A Talk. Malang: Bayumedia

Internet:

http://rismata.multiplay.com/reviews/item/29

http://novithec.blogspot.com/2008/10/donna-orsha-sang-penyiar-radio- senior.html

HOW TO BE A READER

(inspired by Jonru work, Sekolah Online Gratis)

Hai, pa kabar? Semoga masih dalam lindungan kasih Tuhan, ya…Amin! Sobat…

Ada banyak hal yang kadang ingin kita lakukan, akan tetapi kita tidak pernah melakukannya. Entah karena tidak tahu bagaimana caranya, atau karena kita belum sempat melakukannya, atau karena kita merasa belum mampu untuk melakukannya. Padahal, kita sangat ingin lakukan itu. Salah satu adalah ingin membaca! Sering kita ingin membaca semua buku, ingin menguasai semuanya! Tapi sampai saat ini tak satupun buku yang kita baca.

Ada sebuah kisah, seorang anak bertemu dengan seorang aktor terhebat dan terkenal! Anak itu bilang “saya ingin sekali seperti anda! Menjadi aktor hebat dan dikenal banyak orang! Saya akan lebih baik dari anda!”

Beberapa tahun kemudian keduanya bertemu kembali. Sang Aktor bertanya kepada si anak “hai! Apa kabar? Gimana cita-citamu untuk jadi aktor? sudah berapa peran yang kamu mainkan?” si anak tertunduk dan menjawab”belum sama sekali!”

Saya yakin kita juga mau seperti aktor itu, sebagaimana si anak tadi! Akan tetapi, kebanyakan orang hanya berhenti sampai cita-cita saja, tak pernah berusaha untuk menggapainya. mereka selalu menunda-nunda waktu.

Kadang mereka beralasan “ Aduh, saya masih sibuk” atau “aduh, ilmu saya masih sedikit!” atau ada juga yang bilang “saya tidak tahu bagaimana memulainya!” Statement-statement ini seakan-akan adalah yang paling benar untuk kita. Padahal, statment itulah yang menjadikan mereka tak maju-maju.

Begitu juga dengan membaca. Banyak orang yang hanya berhenti pada keinginan untuk membaca. Akan tetapi mereka tak pernah menyentuh satu bukupun. Dengan alasan yang sama dengan diatas.

Lalu bagaimana seharusnya kita?

apa yang harus kita lakukan?

nah, mari kita bahas bareng-bareng…

Kapan kita mulai membaca? SAAT INI JUGA! Jangan pernah menunda waktu. Karena itu hanya akan memperlambat proses kita mencapai apa yang kita cita-citakan.

Masih ingat kisah di atas? Si anak tidak tidak jadi-jadi menjadi aktor, karena ia selalu berpikir “nanti saja”! “nanti saja setelah lulus SD saya akan berakting!” setelah lulus dia bilang lagi “nanti saja seteah lulus SMP!” lalu, setelah lulus dia bilang lagi “nanti sajalah, setelah lulus SMA!” dan setelah lulus SMA-pun masih bilang “ah, nanti dulu, masih banyak tugas!”. Jika kita seperti itu juga, maka yakinlah bahwa kita tidak akan pernah bisa menggapai apa yang kita-cita-citakan! Apapun itu! Termasuk juga dengan keinginan untuk membaca.

Apa yang harus kita baca? Karena, kadang maunya kita ingin membaca semuanya. Ingin menguasai semuanya! Bacalah apa yang kita sukai. Kita suka novel, ya baca novel. Kita suka komik, ya baca komik! (Jangan berpikir bahwa komik itu tidak layak kit abaca, karena kita mahasiswa! Karena buku apapun itu, memiliki nilai lebih dari diri kita yang seharusnya kita miliki!)

O ya, kamu tahu? Awalnya aku tidak suka baca buku, tapi kemudian (waktu aku masih nyantri di pondok) ada temen yang membawa buku-buku karya Freddy S (tau gak siapa dia, Freddy S itu adalah salah satu pengarang buku cerita seks dewasa yang sangat banyak diminati oleh kaum muda, termasuk aku tentunya! He he he…). Aku nyoba baca-baa buku itu. Ternyata asyik! Dan menegangkan! (He he he…) Sejak saat itu, aku mulai suka baca buku, meskipun itu buku porno! Tapi justru dari situlah kemudian aku mulai beralih pada komik, lalu novel dan sekarang buku-buku ilmiah. Kalau kita membaca bacaan yang tidak kita sukai, Percayalah kita akan nguuaantuk dan gak semangat!

Trus, terkadang, ada banyak orang yang ingin langsung membaca bacaan yang tinggi, biar keren katanya! Itu salah! Mulailah kita membaca dari hal-hal yang simple dan mudah dimengerti. Mulailah dari yang terkecil! Otak itu, tidak bisa langsung pintar! Harus ada proses! Dan proses situ harus dimulai dari yang paling rendah hingga yang paling kompleks, dengan kata lain sistematis!

Bagaimana kita membaca? Ya baca saja! Untuk awalnya mungkin kita tak perlu menganalisis buku yang kita baca! Tinggal baca saja. Mengerti atau tidak! Paham atau tidak paham! Yang penting baca! Karena, meskipun hari ini kita tidak mengerti, percayalah bahwa suatu saat kita akan mengerti dengan sendirinya.

Dulu aku tidak mengerti apa yang dimaksud dalam buku-buku Freddy S itu, yang aku baca waktu itu hanyalah alur ceritanya yang indah dan hemmmmm…! hehehe… tanpa mengerti apa makna sebenarnya dari buku itu. Tapi, sekarang akhirnya aku paham, bahwa itulah budaya manusia saat ini, itulah hal yang harus kita jauhi, itulah hal yang dapat menghancurkan kita. Jadi sobat, baca saja!

Tapi, biasanya, kita akan lebih ssuka membaca ketika kita paham akan arti dan inti dari apa yang kita baca, untuk melakukan hal ini, kita harus menggunakan otak kiri kita, menganalisis isi bacaan itu. Pertama, kita cari tahu apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh penulis, pahami kalimatnya, paragrafnya! Kita mungtkin tidak langsung menangkap pesan buku itu. Ulangilah beberapa kali! Aku sendiri gak langsung paham kalau hanya sekali baca. Aku butuh setidaknya tiga kali membaca untuk menangkap pesan kalimat atau paragraf dalam sebuah buku. Setelah itu, kita bandingkan dengan realita yang ada dan pandangan dari penulis lain dan pandangan kita sendiri tentunya. Setuju gak kita dengan pendapat yang ada di buku? Otak itu tidak seperti kaleng yang langsung bisa kita isi begtitu saja! Tapi, otak itu laksana pisau yang semakin diasah semakin tajam.

Dimana kita harus membaca? Dimana saja! Yang penting, kita bisa konsentrasi dalam membaca. Tapi memang ada tipe-tipe orang tertentu yang kalau tidak tempat-tempat tertentu mereka tidak bisa membaca. Tapi, untuk kita, tak ada tempat yang idak bisa digunakan untuk membaca. Bacalah dimana saja! Kebun, taman, kelas, angkot, kamar tidur, kamar tamu, atau di kamar mandi sekalipun! (tapi sayang, kata Islam itu gak boleh).

Bagaimana kalau kita tidak punya banyak waktu untuk membaca? Gampang saja, gunakan waktu luang yang ada, membaca tidak harus memakan banyak waktu! saat mau tidur, dalam angkot, saat istirahat, saat menunggu sesuatu, saat dikelas gak ada dosennya, dan saat saat yang lain (termasuk saat pacaran tentunya! He he he…), yang sekiranya memungkinkan untuk kita membaca.

Cara lain, kita akali dengan prinsip “pacaran ilmiah”. Pacaran dengan buku! Kemanapun kita pergi, gandenglah buku. Buku apa saja! Jangan pikirkan apakah buku itu akan sempat dibaca atau tidak nantinya. Yang penting gandeng saja! (ne prinsipku!) karena, ketika kita membawa buku, meskipun kita tidak niat untuk membacanya, tapi ketika kita tidak ada kerjaan maka kita akan melirik buku itu. Lebih baik kita banyak buku meski tidak dibaca, dari pada tidak punya sama sekali.

Jadi kawan, mulailah membaca sejak detik ini! Bacalah apa yang kita suka dan yang gampang-gampang saja! Tak usa melirik kawan kita yang bacaannya tinggi-tinggi! Dan jangan lupa, bawalah buku kemanapun kita pergi! Jadiakan ia kekasih kita!

Good Luck!

Quote:

“Orang yang merasa dirinya sibuk, adalah orang yang tak punya kesibukan sama sekali”

(kita merasa sibuk, karena kita menyibukkan diri)

“kita tidak perlu hebat untuk memulai, tapi mulailah agar kita bisa menjadi hebat!”

A book is like a beautiful garden in our pocket!

انما الاعمال با لنية

(awali niat membaca kita dengan ingin tahu lebih dalam kebesaranNya! Jangan karena kita ingin pintar atau apalah! Karena semua itu hanyalah konsekuensi dari apa yang kita kerjakan. Ingat! Tuhan tidak menciptakan manusia kecuali untuk mengabdi kepadaNya! Ma halaqna al-jinna wa al-insan illa li ya’budun)

اقرأ بسم ربك الذي خلق!

AKHLAK DAN PERKEMBANGANNYA

PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah

Sebagai makhluk sosial manusia tidak bisa menghindar dari berhubungan dengan orang lain. Dalam berkomunikasi antara satu dengan yang lain, manusia tunduk kepada sistem komunikasi interpersonal dan komunikasi intrapersonal. Sebagai makhluk psikologis manusia bukan hanya memotret yang tampak, tetapi juga mempersepsi yang tampak dengan perangkat kejiwaannya sehingga performance seseorang tidak hanya difahami dari yang nampak, tetapi juga dari yang di duga berada dibalik yang tampak. Orang kebanyakan, memang suka menempatkan penampilan luar sebagai ukuran, tetapi bagi orang yang terpelajar dan beradab, yang paling utama dari kualitas manusia adalah kredibilitas akhlaknya, kredibilitas moralnya, dan ukuran itulah yang diperhitungkan dalam transaksi sosial. Kredibilitas akhlak yang dimiliki oleh seseorang akan menjadi kekuatan yang sangat kuatdan memudahkan dalam bernegosiasi dan berinteraksi dengan orang lain dalam berbagai urusan Untuk mengetahui lebih dalam tentang akhlaq maka sebaiknya terlebih dulu kita harus mengerti dan paham tentang pengertian akhlaq, sejarah dan juga manfaatnya dalam keidupan manusia untuk itulah kami membuat makalah ini

PEMBAHASAN

A. Definisi / Pengertian Akhlaq

Beberapa definisi akhlaq antara lain adalah :

1. Menurut Ibnu Abbas Ra ketika menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa dalam surat Al Qolam ayat 4 yang terjemahannya berbunyi sebagai berikut “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlaq yang agung”, akhlaq yang agung tersebut adalah dien yang agung (Islam). Demikian pula pendapat Mujahid, Abu Malik, As Suddi, Rabi bin Anas, Ad Dhahak, dan Ibnu Zaid. Didalam Shohih Muslim, Aisyah ra pernah ditanya tentang akhlaq Nabi Saw, lalu beliau menjawab bahwa akhlaq Beliau Saw adalah Al Quran, karena segala perintah yang terdapat didalam Al Quran beliau laksanakan dan segala larangan yang terdapat didalamnya beliau tinggalkan. Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali berkata “Dengan ini menjadi jelas bahwa akhlaq yang agung dimana Nabi disifati dengannya adalah dien yang mencakup semua perintah-perintah Alloh Ta’alaa dan larangan-Nya, sehingga bersegera untuk melaksanakan segala yang dicintai Alloh dan di ridloi-Nya dan menjauhi segala yang dibenci dan dimurkai-Nya dengan sukarela dan lapang dada” (Makarimul Akhlaq/23).
2. Ibnul Atsir menyebutkan dalam An Nihayah (2/70) tentang “al khuluqu” dan “al khulqu” yang berarti dien, tabiat dan sifat. Syaikh ‘Utsaimin menerangkan tentang hakikatnya adalah potret batin manusia yaitu jiwa dan kepribadiannya (Makarimul Akhlaq, hal 9).
3. Al Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyah menyebutkan beberapa pendapat tentang definisi akhlaq didalam bukunya Madarijus Saalikin antara lain akhlaq yang baik adalah berderma, tidak menyakiti orang lain dan tangguh menghadapi penderitaan. Pendapat lain menyebutkan bahwa akhlaq yang baik adalah berbuat kebaikan dan menahan diri dari keburukan. Ada lagi yang mengatakan, “membuang sifat-sifat yang hina dan menghiasinya dengan sifat-sifat mulia”
4. Imam Ibnu Qudamah menyebutkan dalam Mukhtashor Minhajul Qoshidiin bahwa akhlaq merupakan ungkapan tentang kondisi jiwa, yang begitu mudah menghasilkan perbuatan tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan, jika perbuatan itu baik maka disebut akhlaq yang baik, dan jika buruk maka disebut akhlaq yang buruk.

B. Manfaat akhlaq

Dalam bingkai potret peradaban umat di hari ini, akhlaq islami menjadi penting, bahkan merupakan sebuah urgensi yang takbisa ditawar-tawar lagi. Karena potret buram dan retak peradaban umat di hari ini tak lepas dari pengaruh lunturnya akhlaq di kalangan kaum Muslimin. Dan lunturnya akhlaq ini pula yang telah menggeser timbangan umat dari posisi khairu ummah menjadi “buih”yang dengan mudahnya dicerai-beraikan musuh-musuh Allah. Karenanya upaya peningkatan akhlaq islami mestilah disasarkan pada pribadi Muslim, dai dan muharrik, keluarga, masyarakat, amal islami dan umat secara keseluruhan.

Dalam skala pribadi perbaikan akhlaq akan membuat seorang Muslim memiliki ketenangan dan kekuatan jiwa,dihormati dan diteladani, dapat menjalankan kewajiban dengan baik, dapat memberikan sumbangan bagi aktifitas kemaslahatan masyarakat, kemudian akan berkembang ruh mahabah dan ukhuwah antar pribadi Muslim.

Dalam skala masyarakat, maka pribadi-pribadi Muslim yang berakhlaqul kharimah dapat memberikan ketertiban dan kesejahteraan umum, masyarakat menjadi teratur dan bersih.

Imam Ibnu Qudamah menyebutkan dalam Mukhtashor Minhajul Qoshidiin bahwa akhlaq merupakan ungkapan tentang kondisi jiwa, yang begitu mudah menghasilkan perbuatan tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan, jika perbuatan itu baik maka disebut akhlaq yang baik, dan jika buruk maka disebut akhlaq yang buruk.

Dalam skala amal islami, dengan menguatnya akhlaq para aktifis harakah, pertumbuhan dan kekuatan dapat diciptakan, yang pada gilirannya mampu meningkatkan manuver-manuver da’wah serta memberikan daya tahan (imunitas) terhadap serangan futur (kemandegan). Peningkatan akhlaq para aktifis gerakan Islam akan memberikan pertumbuhan vertikal berupa peningkatan tanggung-jawab (mas’uliyah) dan kepemimpinan, memunculkan afkar-afkar (anggota) yang berkualitas, yang selanjutnya dapat mengadakan pertumbuhan horizontal berupa perluasan medan da’wah.Kemudian dari hub (rasa cinta) dan ikha’ (rasa persaudaraan) akan memunculkan kekuatan wihdah (persatuan).

Dalam skala umat, maka akhlaq islami akan menyediakan kekuatan dan peningkatan produktifitas kerja, keberkatan dan ridha Allah SWT,dihormati, dikagumi, diteladani dan disegani bangsa dan peradaban lain. Dan peningkatan akhlaq islami ini secara langsung akan memajukan peradaban kaum Muslimin.

Pengaruh akhlaq yang demikian tinggi baik bagi pribadi Muslim,masyarakat,bahkan umat bukanlah tanpa alasan. Karena karakter inheren akhlaq itu sendiri yang merupakan penyebabnya. Karena akhlaq islami adalah suatu keyakinan terhadap nilai-nilai Rabbani yang dijawantahkan dalam kehidupan nyata untuk hanya mencari rasa suka, ridha Allah. Akhlaq Islami merupakan aktifitas lahir sekaligus bathin. Aktifitas lahir nampak dalam budi pekerti (suluk) terpuji dan aktifitas bathin nampak dalam bentuk keteguhan dan kekuatan jiwa, menumbuhkan optimisme dan tekad yang kuat. Belumlah sampai pada tingkat akhlaq, kalau penampakan dzahir suatu perbuatan, yang nampaknya terpuji, kalau tidak diiringi dengan ketulusan niat bahwa perbuatan itu dalam rangka mencari rasa suka Allah. Sikap dzahir yang nampaknya terpuji namun dengan diiringi hati yang bertolak belakang adalah sikap kaum munafiq, tanpa diiringi keikhlasan adalah sikap kaum musyrik. Seorang Muslim yang berakhlaqul kharimah tidak dapat bersikap pura-pura dalam tingkah laku harian untuk sekedar mendapat penghargaan secara sosial. Tetapi segala tindak tanduknya keluar dari keyakinan, sikap hidup yang bersumber untuk mencari ridha Allah. Keyakinan bathiniah ini sendiri mengiringi dan mewarnai (sibghah) aktifitas dzahir. Karenanya aktifitas dzahir baik kaum Muslimin bukan hanya bermakna sosial dan profan tetapi juga sakral, bukan saja dalam rangka berlaku baik terhadap manusia,tetapi juga dalam rangka mengharapkan pujian Allah. Pujian Allah inilah yang mestinya lebih mendominasi dan didamba Muslim yang berakhlaqul kharimah.

C. Sejarah dan perkembangan Akhlak

1.Sejarah Perkembangan Akhlak Pada Zaman Yunani Diduga yang pertama kali yang mengadakan penyelidikan tentang akhlak yang berdasarkan ilmu pengetahuan ialah Bangsa Yunani. Ahli-ahli filsafat Yunani kuno tidak banyak memperhatikan pada akhlak, tetapi kebanyakan penyelidikannya mengenai alam, sehingga datangnya Sephisticians (500-450 SM). Arti dari Sephisticians adalah orang yang bijaksana. (Sufisem artinya orang-orang bijak). Pada masa itu kata akhlak terungkap dengan kata etika dengan arti yang sama.

Golongan ahli-ahli filsafat dan juga menjadi guru yang tersebar di beberapa Negeri. Buah pikiran dan pendapat mereka berbeda-beda akan tetapi tujuan mereka adalah satu, yaitu menyiapkan angkatan muda bangsa Yunani, agar menjadi Nasionalis yang baik lagi merdeka dan mengetahui kewajiban mereka terhadap tanah airnya.

Pandangan tentang kewajiban-kewajiban ini menimbulkan pandangan mengenai sebagian tradisi lama dan pelajaran-pelajaran yang dilakukan oleh orang-orang dahulu, yang demikian itu tentu membangkitkan kemarahan kaum yang kolot “conservative”. Kemudian datang filsafah yang lain dan iapun menentang sekaligus mengecam mereka, dan iapun menuduh dan suka memutar balikan kenyataan. Oleh sebab itu buruklah nama mereka, meskipun terkadang ada diantara mereka lebih jauh pandangannya pada zamanya.

Diantara sekian banyak ahli-ahli fikir Yunani yang menyingkapkan pengetahuan akhlak, di sini dikemukakan beberapa diantaranya yang dipandang terkemuka:

1. a. Socrates (469-399 SM), terkenal dengan semboyan: “ Kenalilah diri engkau dengan diri engkau sendiri”. Dia dipandang sebagai perintis Ilmu Akhlak Yunani yang pertama. Usahanya membentuk pergaulan manusia-manusia. Dengan dasar ilmu pengetahuan. “Cynics dan Cyrenics” kedua pengikut Socrates. Untuk golongan Cynics hidup pada tahun (444-370 SM) diantara pelajarannya bahwa ketuhanan itu bersih dari segala kebutuhan dan sebaik-baiknya manusia itu yang berperangai dengan akhlak ketuhanan. Pemimpinya adalah Diogenes yang meninggal tahun 323 SM. Ia memberi pelajaran kepada kawan-kawannya supaya membuang beban yang ditentukan oleh ciptaan manusia dan perannya. Untuk golongan Cyrenics pemimpinya adalah Aristippus dilahirkan di Cyrena (kota di Barkah) di Utara Afrika. Golongan ini berpendapat bahwa mencari kelezatan dan menjauhi kepedihan ialah satu-satunya tujuan yang benar untuk hidup, dan perbuatan itu dinamai utama bila timbul kelezatan yang lebih besar dari kepedihan. Adapun CynicsCyrenics berpendapat bahwa kebahagiaan itu dalam mencari kelezatan dan mengutamakannya. berpendapat bahwa kebahagiaan itu menghilangkan kejahatan dan menguranginya sedapat mungkin. Tetapai Sehingga Ia berpendapat bahwa akhlak dan bentuk perhubungan itu tidak menjadi benar kecuali bila didasarkan kepada ilmu pengetahuan, sehingga ia berpendapat bahwa “ keutamaan adalah ilmu”. Tetapi sesuatu hal yang tidak jelas dalam ilmu Akhlaknya Socrates, apa tujuan yang terakhir dari akhlak itu serta ukuran apa yang dipergunakan menentukan baik buruknya suatu akhlak. Maka disini timbullah beberapa golongan yang berbeda-beda pendapatnya tentang tujuan akhlak, lalu muncul beberapa paham mengenai akhlak sejak zaman itu hingga sekarang ini.

2. Plato (427-347 SM), seorang filsafat Athena dan murid dari Socrates, bukunya yang terkenal adalah “Republic”. Ia membangun ilmu akhlak melalui akademi yang ia dirikan. Pandangannya dalam akhlak berdasar dari “teori contoh” bahwa di balik alam ini ada alam rohani sebagai alam yang sesungguhnya. Dan di alam rohani ini ada kekuatan yang bermacam-macam, dan kekuatan itu timbul dari pertimbangan tunduknya kekuatan pada hokum akal, ia pun berpendapat bahwa pokok-pokok keutamaan ada empat antara lain hikmah/kebijaksanaan, keberanian, keperwiraan dan keadilan. Keempat-empatnya itu adalah tiang penegak bangsa-bangsa dan perseorangan.

3. Aristoteles (9394-322 SM), dia murid Plato yang membangun suatu paham yang khas, yang mana pengikutnya diberi nama dengan “Paripatetics”karena mereka memberikan pelajaran sambil berjalan. Dan ia berpendapat bahwa tujuan terakhir yang dikehendaki manusia mengenai segala perbuatannya ialah “bahagia” ia berpendapat bahwa jalan mencapai kebahagiaan ialah mempergunakan jalan mencapai kebahagiaan ialah mempergunakan kekuatan akal pikiran sebaik-baiknya. Selain itu Aristoteles ialah pencipta teori serba tengah tiap-tiap keutamaan adalah tengah-tengah diantara kedua keburukan, seperti dermawan adalah tengah-tengah antar membabi buta dan takut.

Pada akhir abad yang ketiga Masehi tersiarlah kabar Agama Nasrani di Eropa. Agama itu dapat merubah pikiran manusia dan membawa pokok-pokok akhlak yang tercantum di dalam Taurat. Demikan juga memberi pelajaran kepada manusia bahwa Tuhan sumber segala akhlak. Tuhan yang memberi segala patokan yang harus kita pelihara Dalam bentuk perhubungan kita, dan yang menjelaskan arti baik dan buruk, baik menurut arti yang sebenarnya ialah kerelaan Tuhan dan melaksanakan perintah-perintah-Nya.

Menurut para ahli filsafat Yunani bahwa pendorong untuk melakukan perbuatan baik dan ilmu pengetahuan atau kebijaksanaan; menurut Agama Nasrani bahwa pendorong untuk melakukan perbuatan baik itu ialah cinta kepada Tuhan dan iman kepada-Nya.

2. Sejarah Akhlak pada Bangsa Romawi (Abad pertengahan) Kehidupan masyarakat Eropa di abad pertengahan dikuasai oleh gereja. Pada waktu itu gereja berusaha memerangi filsafat Yunani srta menentang penyiaran ilmu dan kebudayaan kuno. Gereja berkeyakinan bahwa kenyataan “hakikat” telah diterima dari wahyu. Apa yang telah diperintahkan oleh wahyu tentu benar adanya. Oleh kerana itu tidak ada artinya lagi penggunaan akal dan pikiran untuk kegiatan penelitian. Mempergunakan filsafat boleh saja asalkan tidak bertentangan dengan doktrin uang dikeluarkan oleh gereja, atau memilki perasaan dan menguatkan pendapat gereja. Diluar ketentuan sperti itu penggunaan filsafat tidak diperkenankan.

Namun demikian sebagai dari kalangan gereja ada yang mempergunakan pemikiran Plato, Arostoteles dan Stoics untuk memperkuat ajaran gereja, dan mencocokkannya dengan akal. Filsafat yang menentang Agama Nashrani dibuang jauh-jauh.

Dengan demikian ajaran akhlak yang lahir di Eropa pada abad pertengahan itu adalah ajaran akhlak yang dibangun dari perpaduan antara ajaran Yunani dan ajaran Nashrani. Diantara merka yang termasyhur ialah Abelard,, sorang ahli filsafat Perancis (1079-1142) dan Thomas Aquinas, seorang ahli filsafat Agama berkebangsaan Italia (1226-1274).

Corak ajaran akhlak yang sifatnya perpaduan antara pemikiran filsafat Yunani dan ajaran agama itu, nantinya akan dapat pula dijumpai dalam ajaran akhlak yang terdapat dalam Islam sebagaimana terlihat pada pemikiran aklhlak yang dikemukakan kaum Muktazilah.

3. Sejarah Akhlak Pada Bangsa Arab Sebelum Islam Bangsa Arab pada Zaman Jahiliyah tidak ada yang menonjol dalam segi filsafat sebagaimana Bangsa Yunani (Socrates, Plato dan Aristoteles), Tiongkok dan lain-lainnya. Disebabkan karena penyelidikan akhlak terjadi hanya pada Bangsa yang sudah maju pengetahuannya. Sekalipun demikian, Bangsa Arab waktu itu ada yang mempunyai ahli-ahli hikwah yang menghidangkan syair-syair yang mengandung nilai-nilai akhlak, misalnya: Luqman el-hakim, Aktsan bin Shoifi, Zubair bin Abi Sulma dan Hotim al-Thoi.

Adapun sebagian syair dari kalangan Bangsa Arab diantaranya: Zuhair ibn Abi Salam yang mengatakan: ”barang siapa menepati janji, tidak akan tercela; barang siapa yang membawa hatinya menunjuka kebaikan yang menentramkan, tidak akan ragu-ragu”. Contoh lainnya, perkataan Amir ibnu Dharb Al-Adwany ”pikiran itu tidur dan nafsu bergejolak. Barang siapa yang mengumpulkan suatu antara hak dan batil tidak akan mungkin terjadi dan yang batil itu lebih utama buatnya. Sesungguhnya penyelesaian akibat kebodohan”.

Simak apa yang dikatakan Aktsam ibn Shaify yang hidup pada zaman jahiliah dan kemudian masuk Islam. Ia berkata: ”jujur adalah pangkal keselamatan; dusta adalah merusakkan: kejahatan adalah merusakkan; ketelitian adalah sarana menghadapi kesulitan; dan kelemahan adalah penyebab kehinaan. Penyakit pikiran adalah nafsu, dan sebaik-baiknya perkara adalah sabar. Baik sangka merusak, dan buruk sangka adalah penjagaan”.

Al-Adwany pernah berpesan kepada anaknya Usaid dengan sifat-sifat terpuji, ujarnya: ’Berbuatlah dermawan dengan hartamu, Memuliakan tetanggamu, bantulah orang yang meminta pertolongan padamu, hormatilah tamumu dan jagalah dirimu dari perbuatan meminta-minta sesuatu pada orang lain”.

Dengar pula apa yang yang dikatan Amr ibn Al-Ahtam kepada budaknya:”Sesungguhnya kikir itu merupakan perangai yang akurat untuk lelaki pencuri; bermurahlah dalam cinta karena sesungguhnya diriku dalam kedudukan suci dan tinggi adalah orang yang belah kasih.setiap orang mulia akan takut mencelamu, dan bagi kebenaran memiliki jalanya sendiri bagi orang-orang yang baik.

Dapat dipahami bahwa bangsa Arab sebelum Islam telah memiliki kadar pemikiran yang minimal pada bidang akhlak, pengetahuan tentang berbagai macam keutamaan dan mengerjakannya, walaupun nilai yang tercetus lewat syair-syairnya belum sebanding dengan kata-kata hikmah yang diucapkan oleh filosof-filosof Yunani kuno. Dalam syariat-syariat mereka tersebut saja sudah ada muatan-muata akhlak.

Memang sebelum Islam, dikalangan bangsa Arab belum diketahui adanya para ahli filsafat yang mempunyai aliran-aliran tertentu seperti yang kita ketahui pada bangsa Yunani, seperti Epicurus, Plato, zinon, dan Aristo, karena penyelidikan secara ilmiah tidak ada, kecuali sesudah membesarnya perhatian orang terhadap ilmu kenegaraan.

Setelah sinar Islam memancar, maka berubahlah suasana laksana sinar matahari menghapuskan kegelapan malam, Bangsa Arab kemudian tampil maju menjadi Bangsa yang unggul di segala bidang, berkat akhlakul karimah yang diajarkan Islam.

Diantara ayat Al-Qur’an tentang akhlak yaitu:

Artinya:

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. ( QS. An-Nahl: 90)

KESIMPULAN

Definisi akhlaq menurutsalah satu ulama yaitu Imam Ibnu Qudamah menyebutkan dalam Mukhtashor Minhajul Qoshidiin bahwa akhlaq merupakan ungkapan tentang kondisi jiwa, yang begitu mudah menghasilkan perbuatan tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan, jika perbuatan itu baik maka disebut akhlaq yang baik, dan jika buruk maka disebut akhlaq yang buruk.

Manfaat akhlaq Dalam skala umat, maka akhlaq islami akan menyediakan kekuatan dan peningkatan produktifitas kerja, keberkatan dan ridha Allah SWT,dihormati, dikagumi, diteladani dan disegani bangsa dan peradaban lain. Dan peningkatan akhlaq islami ini secara langsung akan memajukan peradaban kaum Muslimin.

Sejarah Perkembangan Akhlak Pada Zaman Yunani Socrates dipandang sebagai perintis Ilmu Akhlak. Karena ia yang pertama berusaha dengan sungguh-sungguh membentuk perhubungan manusia dengan ilmu pengetahuan. Dia berpendapat akhlak dan bentuk perhubungan itu, tidak menjadi benar kecuali bila didasarkan ilmu pengetahuan. Lalu datang Plato (427-347 SM). Ia seorang ahli Filsafat Athena, yang merupakan murid dari Socrates. Buah pemikirannya dalam Etika berdasarkan ‘teori contoh’. Dia berpendapat alam lain adalah alam rohani. Di dalam jiwa itu ada kekuatan bermacam-macam, dan keutamaan itu timbul dari perimbangan dan tunduknya kepada hukum. Kemudian disusul Aristoteles (394-322 SM), dia adalah muridnya plato. Pengukutnya disebut Peripatetis karena ia memberi pelajaran sambil berjalan atau di tempat berjalan yang teduh

Sejarah Akhlak pada Bangsa Romawi (Abad pertengahan) Pada abad pertengahan, Etika bisa dikatakan ‘dianiaya’ oleh Gereja. Pada saat itu, Gereja memerangi Filsafat Yunani dan Romawi, dan menentang penyiaran ilmu dan kebudayaan kuno.Gereja berkeyakinan bahwa kenyataan hakikat telah diterima dari wahyu. Dan apa yang terkandung dan diajarkan oleh wahyu adalah benar. Jadi manusia tidak perlu lagi bersusah-susah menyelidiki tentang kebenaran hakikat, karena semuanya telah diatur oleh Tuhan.

Sejarah Akhlak Pada Bangsa Arab Sebelum IslamBangsa Arab pada zaman jahiliah tidak mempunyai ahli-ahli Filsafat yang mengajak kepada aliran atau faham tertentu sebagaimana Yunani, seperti Epicurus, Zeno, Plato, dan Aristoteles. Hal itu terjadi karena penyelidikan ilmu tidak terjadi kecuali di Negara yang sudah maju. Waktu itu bangsa Arab hanya memiliki ahli-ahli hikmat dan sebagian ahli syair. Yang memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, mendorong menuju keutamaan, dan menjauhkan diri dari kerendahan yang terkenal pada zaman mereka.

DAFTAR PUSTAKA

Ardani, Moh., Akhlak Tasawuf (Nilai-nilai Akhlak/Budipekerti dalam Ibadat dan tasawuf), (Jakarta: PT Karya Mulia, 2005)

Mustofa, A. , Akhlak Tasawuf, (Bandung: CV. Pustaka Setia,2005)

Soleiman, Abjan , Ilmu Akhlak (Ilmu Etika), (Jakarta: Dinas Rawatan Rohani Islam Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat,1976)

Zahruddin ,dkk,Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta:PT.RajaGrafindo Persada,2004)

Saturday, April 10, 2010

PERAN PENYIAR TERHADAP EKSISTENSI SEBUAH RADIO

PENDAHULUAN
Radio merupakan salah satu media massa yang jangkauannya paling luas di muka bumi. Dengan ciri khas utamanya yang bersifat auditif, radio mampu menjadi media massa yang menarik bagi siapa saja. Kepraktisan dan keanekaragaman program siarannya menjadikan radio sebagai media paling populer dalam sejarah. Popularitasnya kian kuat ketika radio memasuki wilayah jurnalistik dengan menyajikan berita.
Adapun orang-orang yang berjasa dalam membesarkan dan membuat radio bertahan dalam ketatnya persaingan antar media massa adalah mereka yang terlibat dalam dunia penyiaran radio yang disebut "orang-orang broadcast". Ujung tombaknya adalah para penyiar. Penyiarlah yang mampu menghidupkan siaran radio sehingga menarik, memukau, dan berdampak. Mereka terus bekerja dan berpikir untuk kemajuan dunia radio siaran dan memuaskan publik pendengarnya.
Oleh karena itu, pada makalah ini penulis membahas tentang peran penyiar terhadap eksistensi sebuah radio. Karena merekalah orang-orang yang mampu membuat radio lebih perkasa di antara media massa-media massa yang lain. Dengan segala kemampuan dan kecakapan yang mereka miliki, para penyiar terus berusaha menghidupkan radio di antara para pendengarnya.
.
A. Penyiar Radio (Announcer)
"Hai selamat pagi pendengar…pagi yang cerah buat memulai aktivitas…" . Kalimat di atas merupakan sapaan seorang penyiar radio "SWEET FM ROCK", yang setiap paginya para pendengar setia "SWEET FM" akan ditemani oleh suara David dengan lagu-lagu slow rock yang tengah hits. Tidak hanya menyuguhkan tembang-tembang yang disenangi penggemar, tapi juga memberikan informasi yang actual dan terkini.
Produk unggulan sebuah radio, selain lagu dan program acara adalah penyiar. Penyiar(announcer) adalah orang yang bertugas membawakan atau memandu sebuah acara di radio, misalnya acara berita, pemutaran lagu pilihan, talk show dsb. Ia menjadi ujung tombak sebuah stasiun radio dalam berkomunikasi dengan pendengar. Keberhasilan sebuah program acara (dengan parameter jumlah pendengar dan pemasukan iklan) utamanya ditentukan oleh kepiawaian penyiar dalam membawakan sekaligus "menghidupkan" acara tersebut.
Banyak orang beranggapan bahwa profesi sebagai penyiar radio itu gampang. Dengan duduk di balik meja operator dan bermodalkan suara bagus serta pandai bicara kemudian sesekali memutarkan lagu sudah bisa disebut sebagai penyiar radio. Mungkin hal itu yang selama ini orang pikirkan. Padahal bagi mereka yang sudah brtahun-tahun bergelut di dunia broadcast (penyiaran) untuk menjadi seorang penyiar itu tidaklah mudah.
Untuk itu, akan terjadi pemilihan penyiar yang punya skill lebih bagus. "Dulu aku juga punya gambaran, kalo penyiar radio itu gampang, tapi setelah aku jalani, aku mesti mengikuti pelatihan dulu sebelum resmi jadi penyiar", ungkap Winda, salah satu penyiar "MOZE FM".
Pada dasarnya, semua orang bisa menjadi penyiar radio, selama dia tidak punya kelainan dalam cara berbicara seperti gagap misalnya. Namun, untuk menjadi penyiar yang profesional, seseorang harus memiliki skill tertentu dalam hal komunikasi lisan, utamanya ia harus "lancar berbicara". Karena penyiar radio merupakan ujung tombak dalam dunia penyiaran radio. Sehingga banyak stasiun radio yang masih mempertahankan penyiar-penyiar lamanya karena sudah menjadi icon dari radio mereka.
Kenyataannya, penyiar yang sudah berhasil menjadi icon sebuah radiodan memiliki banyak pendengar, ketika dia keluar dari radio tersebut dan berpindah menjadi penyiar radio lain, maka terkadang pendengarnya pun ikut berpindah mendengarkan radio lain yang menjadi tempat siaran baru bagi penyiar kesayangannya tersebut.
Dan tidak dapat dipungkiri jika saat ini yang memiliki banyak pendengar adalah radio dengan target segmentasi pendengarnya adalah anak muda. Karena selain kemasan program yang kekinian untuk anak muda, penyiar-penyiarnya pun mampu menghidupkan radio menjadi lebih bervariasi dan menghibur. Namun bukan berarti radio yang beridentitas lain seperti radio pendidikan tidak mempunyai banyak pendengar. Radio-radio tersebut masih memiliki banyak kelebihan karena mengusung fungsi dasar radio yaitu to educate (pendidikan). Sehingga yang perlu diperhatikan disini adalah bagaimana penyiar-penyiar radio yang identitasnya berbeda tersebut bisa bersaing untuk tetap mempertahankan eksistensi radio yang ditempatinya.

B. Peran Dan Pengaruh Penyiar Bagi Eksistensi Radio
Telah dijelaskan sebelumnya, bahwa penyiar merupakan ujung tombak dalam dunia penyiaran radio. Penyiar mempunyai peran dan pengaruh yang cukup besar bagi eksistensi sebuah radio. Penyiar yang profesional akan mampu membawakan suatu program siaran dengan baik sehingga akan menarik banyak pendengar. Dan akhirnya secara tidak langsung akan berdampak pada pemasukan iklan yang terus bertambah.
Salah satu peran seorang penyiar radio adalah mampu membawakan suatu program siaran dengan baik. Sejalan dengan perkembangan dunia radio yang semakin berkembang dan menjual, maka banyak perubahan yang mesti terjadi, apalagi dalam program siarannya. Radio yang profesional dan komersil akan menuntut peraturan yang seragam sehingga akan tercipta sebuah format siaran yang mesti ditaati oleh penyiarnya.
Seorang penyiar harus mampu membawakan program siaran dengan format yang sudah ditentukan oleh pihak radio. Bahkan terkadang mereka juga harus memformat sendiri program siaran yang dibawakannya agar lebih menarik dan mampu menyedot banyak pendengar. Disinilah peran seorang penyiar berada. Semenarik apapun program acaranya jika si penyiar tidak dapat membawakannya dengan baik, maka tidak diragukan lagi bahwa pendengar akan segan untuk mendengarkannya. Sebaliknya, jika penyiar bisa mengemas sebuah program acara semenarik mungkin bagi pendengar, maka dia akan mendapat banyak sorotan.
Memang, yang paling membedakan dalam menyajikan acara siaran di radio adalah suara manusia, dalam hal ini adalah penyiarnya. Ia tampil akrab, terkadang mengharukan, marah, pilu, atau mengajak tertawa pendengarnya. Dengan suara-suara seperti itu, sebuah peristiwa akan dapat disajikan lebih hidup.informasi akan semakin jelas, menarik, dan mudah diserap bila dituturkan infleksi, lagu dan tekanan pada penuturannya. Vitalitas radio sesungguhnya terletak pada daya tarik ragam suara awak siarnya, juga ragam kosakata dan ungkapan lokalnya, nilai kepribadian radio yang manusiawi terletak di sini.
Perlu diingat juga bahwa dalam dunia penyiaran radio, keberadaan pendengar perlu mendapat banyak perhatian. Karena mereka lah yang menentukan eksis atau tidaknya sebuah radio. Namun di balik itu semua ada sosok seorang penyiar yang mampu menggiring banyak pendengar sehingga radio bisa tetap eksis. Tidak dipungkiri jika akhirnya penyiar-penyiar ini memiliki banyak fans.
Memang, salah satu yang membuat seorang penyiar bisa tetap eksis adalah penggemar. Meskipun mereka lebih dikaenal lewat suara, namun tidak mengherankan kehadiran seorang penyiar mampu membuat pendengarnya tergila-gila. Tidak jarang pendengar langsung main ke radio tersebut hanya untuk bertemu dengan penyiar favoritnya. Dan banyak pula yang pada akhirnya hubungan idola dan fans-nya ini berlanjut menjadi teman dekat atau sahabat. Berawal dari special program curhat dari sebuah radio. Penyiar yang bertugas membawakan acara tersebut akan dicap pendengar sebagai salah satu alternatif tempat curhat. Dan biasanya fans akan menghubungi penyiar, untuk meminta bertemu bisa curhat di luar jam siaran. Frekuensi bertemu yang terlalu sering bakal membuat hubungan akan nerubah menjadi teman. Tidak dapat dipungkiri juga keberadaan seorang fans sangat penting. Ada beberapa station manager mempertahankan penyiarnya yang memiliki pendengar paling banyak.
Disinilah pengaruh seorang penyiar begitu terlihat. Ketika dia mampu membawakan sebuah program acara dengan baik dan menarik banyak pendengar, maka secara otomatis dia telah membuat radio yang ditempatinya tetap eksis dengan kehadiran pendengar-pendengar tersebut. Karena besarnya pengaruh yang dimiliki seoarang penyiar, maka ketika berpindah tempat ke stasion radio lain, pendengarnya pun juga akan mengikutinya. Sehingga dengan kata lain, keberadaan penyiar sangat berpengaruh bagi eksistensi radio.
Selanjutnya, pengaruh yang lebih luas terlihat pada pemasukan iklan. Radio dengan jumlah pendengar yang banyak, kemungkinan besar dapat meraih pangsa iklan yang besar juga. Para produsen iklan tidak akan segan untuk memasung iklan jika radio tersebut terbukti memiliki banyak pendengar.
Semua itu kembali pada peran seorang penyiar. Walaupun sebenarnya bukan hanya sosok penyiar yang menentukan segalanya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa memang penyiarlah yang memberikan kontribusi lebih banyak bagi radio. Layaknya sebuah film, maka penyiarlah pemain utamanya. Karena walaupun semua itu dalam prosesnya adalah kerja tim, namun pada akhirnya yang tampil paling depan adalah penyiarnya.
Oleh karena itu, kontribusi seorang penyiar sangatlah besar. Jika dia mampu bekerja profesional, menarik banyak pendengar maka pangsa iklan pun juga akan berdatangan. Hal inilah yang menjadi modal utama bagi sebuah radio untuk bisa tetap eksis di tengah persaingan bisnis media yang semakin marak saat ini.

C. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Kinerja Seorang Penyiar
Telah dibahas sebelumnya bahwa penyiar mempunyai peran dan pengaruh yang cukup besar bagi eksistensi sebuah radio. Dan sepertinya profesi sebagai penyiar semakin banyak diminati khususnya anak muda. Apalagi di era globalisasi ini makin banyak bermunculan stasiun-stasiun radio baru yang tentunya membutuhkan banyak tenaga-tenaga baru sebagai penyiar.
Namun perlu diperhatikan bahwa ada banyak hal yang harus dilakukan atau dimiliki oleh seorang penyiar radio untuk menjadi penyiar yang profesional dan benar-benar memberikan kontribusi yang penuh bagi radionya.
Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah seorang penyiar harus memiliki skill(kecakapan). Keahlian utama yang mutlak dimiliki setiap seorang penyiar ada tiga yaitu berbicara, membaca dan menulis. Seorang penyiar harus pandai berbicara karena pekerjaan seorang penyiar adalah berbicara, mengeluarkan suara atau melakukan komunikasi secara lisan. Namun, tidak sekedar bisa "cuap-cuap". Karenanya ia harus "lancar berbicara" dengan kualitas vocal yang baik. Pelatihan vocal merupakan proses awal yang harus dijalani seorang penyiar yang ingin memiliki kualitas yang baik. Memiliki suara yang enak dan disukai adalah suatu keuntungan. Tapi kualitas suara dalam radio juga penting. Kecanggihan teknologi dapat membantu kita mendapatkan kualitas suara yang enak. Bahkan suara yang melengking sekalipun dapat mengembangkan suaranya sehingga menjadi menarik untuk didengar.
Melaksanakan siaran di radio berarti mengkreasikan banyak karakter dan situasi dalam kerangka imajinasi pendengar. Misalnya penyiar yang matang ditandai dengan suara yang penuh resonansi dan hati-hati ketika berbcara, itu yang biasanya terekam dalam imajinasi pendengar. Selain itu, pendengar tidak ada batasnya untuk berimajinasi tentang penyiar dari siaran yang didengarkannya. Oleh karena itu, seorang penyiar harus memiliki suara yang baik sebagai bunyi dasar suara dan berbicara.
Selanjutnya kecakapan yang harus dimiliki seorang penyiar adalah membaca. Dalam hal ini kemampuan spoken reading, yakni membaca naskah siaran namun terdengar seperti bertutur atau tidak membaca naskah. Satu hal lagi adalah kecakapan menulis (naskah siaran). Seringkali penyiar harus menyiapkan naskah siarannya sendiri. Karenanya ia harus memiliki kemampuan menulis naskah.
Tiga hal di atas merupakan keahlian utama yang harus dimiliki seorang penyiar. Selain harus memiliki kecakapan-kecakapan di atas, seorang penyiar juga harus memiliki wawasan yang luas. Ini adalah modal penting untuk menjadi penyiar yang profesional. Walaupun saat ini banyak bermunculan radio dengan target segmentasi adalah anak muda, yang tentu saja lebih menonjolkan acara-acara musik yang lagi hits saat ini, namun penyiarnya pun juga harus memiliki wawasan yang luas. Juga harus paham tentang jenis musik, alat musik dan artis-artisnya serta mampu berbicara dalam bahasa dan gaya anak muda.
Target segmentasi pendengar juga perlu diperhatikan. Dalam prakteknya, masing-masing radio memiliki standar tersendiri atau standar tambahan bagi para penyiarnya. Radio dengan segmen pendengar anak muda, tentu membutuhkan penyiar yang mampu berbicara dalam bahasa dan gaya anak muda. Radio dengan segmen pendengar dewasa, tentu mensyaratkan penyiarnya siaran dengan bahasa dan gaya dewasa.
Sesuai dengan sifat pribadi radio yang bisa dibawa ke mana-mana bahkan di tempat pribadi sekalipun, maka hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah seorang penyiar harus mampu menjadi sahabat yang baik bagi pendengarnya. Sebagai sahabat yang punya derajat yang setara, pendengar biasanya tidak suka penyiar yang terlalu menggurui, berpenampilan monoton, kasar, sombong, suka merendahkan bahkan menghina pendengar.jadi pendengar suka penyiar yang bisa dijadikan sahabat yang hangat, wajar dan tidak dibuat-buat.
Membangun komunikasi yang efektif dengan pendengar intinya tidak jauh berbeda, saat on air komunikasi yang efektif bisa dibangun saat sesi interaktif antara penyiar dan pendengar. Jika saat off air bisa saat pendengar datang ke studio dan penyiar harus menemuinya dan mengajaknya bicara. Dari pembicaraan tersebut dapat ditemukan apa yang sebenarnya diinginkan pendengar dari suatu radio. Tentunya dengan pembicaraan yang ramah, hangat dan bersahabat sehingga membuat pendengar nyaman, dengan begitu komunikasi akan berjalan dengan baik dan efektif.

Kesimpulan
Produk unggulan sebuah radio, selain lagu dan program acara adalah penyiar. Penyiar(announcer) adalah orang yang bertugas membawakan atau memandu sebuah acara di radio, misalnya acara berita, pemutaran lagu pilihan, talk show dsb. Ia menjadi ujung tombak sebuah stasiun radio dalam berkomunikasi dengan pendengar. Keberhasilan sebuah program acara (dengan parameter jumlah pendengar dan pemasukan iklan) utamanya ditentukan oleh kepiawaian penyiar dalam membawakan sekaligus "menghidupkan" acara tersebut
Penyiar mempunyai peran dan pengaruh yang cukup besar bagi eksistensi sebuah radio. Penyiar yang profesional akan mampu membawakan suatu program siaran dengan baik sehingga akan menarik banyak pendengar. Dan akhirnya secara tidak langsung akan berdampak pada pemasukan iklan yang terus bertambah.
Selanjutnya, dalam kinerjanya seorang penyiar harus memiliki banyak kecakapan seperti lancar berbicara, membaca naskah dan menulis naskah siaran. Penyiar juga harus berwawasan luas, bisa menjadi sahabat yang baik bagi pendengarnya serta mampu menciptakan komunikasi yang efektif dengan pendengarnya.

DAFTAR PUSTAKA


Buku:

Romli, Asep Syamsul M. 2004. Broadcast Journalism. Bandung: Nuansa

Prayudha, Harley. 2006. Radio: Penyiar, Its Not Just A Talk. Malang: Bayumedia

Internet:

http://rismata.multiplay.com/reviews/item/29
http://novithec.blogspot.com/2008/10/donna-orsha-sang-penyiar-radio- senior.html

GENERALISASI, MACAM-MACAM GENERALISASI DAN GENERALISASI ILMIAH

A. Pengertian Generalisasi

Di dalam buku Logika, Generalisasi adalah suatu proses penalaran yang bertolak dari sejumlah fenomena individual menuju kesimpulan umum yang mengikat seluruh fenomena sejenis dengan fenomena individual yang diselidiki. ( Mundiri, 1994 : 127 )
Menurut Gorys Keraf dalam buku Argumentasi dan Narasi, Generalisasi adalah suatu proses penalaran yang bertolak dari sejumlah fenomena individual untuk menurunkan suatu inferensi yang bersifat umum yang mencakup semua fenomena tadi. ( Gorys Keraf, 1994 : 43 )
Sama halnya dalam buku Dasar-dasar Logika yang menyatakan bahwa generalisasi adalah suatu penalaran yang menyimpulkan suatu kesimpulan bersifat umum dari premis-premis yang berupa proposisi empiris. Prinsip yang menjadi penalaran generalisasi dapat dirumuskan ”sesuatu yang beberapa kali terjadi dalam kondisi tertentu, dapat diharapkan akan selalu terjadi apabila kondisi yang sama terpenuhi”. ( Surajiyo dkk, 2005 : 240 )
Kesimpulan itu hanya suatu harapan, suatu kepercayaan, karena konklusi penalaran induktif tidak mengandung nilai kebenaran yang pasti, akan tetapi hanya suatu probabilitas suatu peluang. Dan hasil penalaran generalisasi induktif itu sendiri juga disebut generalisasi (proposisi universal). (Soekadijo,1991 : 134)
Kebanyakan generalisasi didasarkan pada pemeriksaan atas suatu sample atau contoh dari seluruh golongan yang diselidiki. Oleh karena itu, generalisasi juga biasa disebut induksi tidak sempurna atau tidak lengkap. ( Poespoprodjo, 1999 : 60 )
Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa generalisasi adalah suatu pernyataan umum yang menyimpulkan sejumlah premis-premis yang sama kondisinya. Contoh dari generalisasi :
- aluminium jika dipanaskan akan memuai
- besi jika dipanaskan akan memuai
- tembaga jika dipanaskan akan memuai
- nikel jika dipanaskan akan memuai
Generalisasinya, yaitu semua logam jika dipanaskan akan memuai.

B. Macam – Macam Generalisasi

Dari segi kuantitas fenomena yang menjadi dasar penyimpulan, generalisasi dibedakan menjadi 2, yaitu :
1. Generalisasi Sempurna
Adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan yang diselidiki.
Contoh :
a. Setelah kita memperhatikan jumlah hari pada setiap bulan tahun Masehi kemudian disimpulkan bahwa : Semua bulan Masehi mempunyai hari tidak lebih dari 31. dalam penyimpulan ini, keseluruhan fenomena yaitu jumlah hari pada setiap bulan kita selidiki tanpa ada yang kita tinggalkan.
b. Setelah bertanya pada masing-masing mahasiswa kosma H2 tentang kewarganegaraan mereka, kemudian disimpulkan bahwa : Semua mahasiswa kosma H2 adalah warga negara Indonesia. Dalam penyimpulan ini, keseluruhan fenomena yaitu kewarganegaraan masing-masing mahasiswa, kita selidiki tanpa ada yang ketinggalan.
Generalisasi sempurna ini memberikan kesimpulan amat kuat dan tidak dapat diserang. Tetapi tentu saja tidak praktis dan tidak ekonomis. ( Mundiri, 1994 : 129 )

2. Generalisasi Tidak Sempurna
Adalah generalisasi berdasarkan sebagian fenomena untuk mendapatkan kesimpulan yang berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diselidiki.

Contoh :
Setelah kita menyelidiki sebagian bangsa Indonesia bahwa mereka adalah manusia yang suka bergotong-royong, kemudian kita simpulkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang suka bergotong-royong, maka penyimpulan ini adalah generalisasi tidak sempurna. (http://ekspresibelajar.blogspot.com/2008/05/logika-dan-silogisme.html)
Generalisasi tidak sempurna ini tidak menghasilkan kesimpulan sampai ke tingkat pasti sebagaimana generalisasi sempurna, tetapi corak generalisasi ini jauh lebih praktis dan lebih ekonomis dibandingkan dengan generalisasi sempurna.
Jika kita berbicara tentang generalisasi, yang dimaksud adalah generalisasi tidak sempurna. Karena populernya generalisasi ini oleh para ahli logika disebut sebagai induksi tidak sempurna untuk menyebut bahwa tehnik ini paling banyak digunakan dalam penyusunan pengetahuan. ( Mundiri, 1994 : 129 )
Dari segi sifat yang dimilikinya, induksi tidak sempurna dibagi 2 macam, dalam kekuatan putusan yang ternyata :
a. Dalam ilmu alam (sciences) putusan yang tercapai melalui induksi tidak sempurna ini berlaku umum, mutlak jadi tak ada kecualinya. Hukum alam berlaku dengan pasti. Hukum alam juga boleh disebut berlaku umum-mutlak (dalam lingkungan alam itu). Hukum kepastian dan kemutlakan ini hanya berlaku dalam bidang alamiah saja.
Contoh : hukum air mengenai pembekuannya. ‘Air akan membeku jika didinginkan.’ Dan ilmu tidak ragu-ragu untuk meramalkan tentang pembekuan air ini karena bersifat pasti dan mutlak.
Jika ilmu mempunyai obyek yang terjadinya bias kena pengaruh dari manusia yang sedikit banyaknya dapat ikut menentukan kejadian-kejadian yang menjadi pandangan-pandangan ilmu, maka lain pula halnya. Ilmunya disebut ilmu sosial serta obyek penyelidikannya mungkin terpengaruhi oleh kehendak manusia. Kalau pada prinsipnya hukum alam tidak ada pengecualiannya maka hukum-hukum pada ilmu sosial ini selalu ada kemungkinan kekecualiannya. ( Poedjawijatna, 2004 : 73-75 )
Contoh : mahasiswa kosma H2, ada yang suka makan pecel, malahan banyak yang suka makan pecel tetapi jangan segera diambil putusan umum, bahwa mahasiswa kosma H2 itu semuanya suka makan pecel. Suka atau tidak suka makan pecel itu sama sekali bukan sifat mutlak manusia di mana pun juga.
Generalisasi juga bisa dibedakan dari segi bentuknya ada 2, yaitu : loncatan induktif dan yang bukan loncatan induktif. (Gorys Keraf, 1994 : 44-45)
1. Loncatan Induktif
Generalisasi yang bersifat loncatan induktif tetap bertolak dari beberapa fakta, namun fakta yang digunakan belum mencerminkan seluruh fenomena yang ada. Fakta-fakta tersebut atau proposisi yang digunakan itu kemudian dianggap sudah mewakili seluruh persoalan yang diajukan.
Contoh : Bila ahli-ahli filologi Eropa berdasarkan pengamatan mereka mengenai bahasa-bahasa Ido-German kemudian menarik suatu kesimpulan bahwa di dunia terdapat 3.000 bahasa.
2. Tanpa Loncatan Induktif
Sebuah generalisasi bila fakta-fakta yang diberikan cukup banyak dan menyakinkan, sehingga tidak terdapat peluang untuk menyerang kembali.
Misalnya, untuk menyelidiki bagaimana sifat-sifat orang Indonesia pada umumnya, diperlukan ratusan fenomena untuk menyimpulkannya.

C. Generalisasi Ilmiah

Pada dasarnya, generalisasi ilmiah tidak berbeda dengan generalisasi biasa, baik dalam bentuk maupun permasalahannya. Perbedaan utama terletak pada metodenya, kualitas data serta ketepatan dalam perumusannya. Generalisasi dikatakan sebagai penyimpulan karena apa yang ditemui dalam observasi sebagai sesuatu yang benar, maka akan benar pula sesuatu yang tidak diobservasi, pada masalah sejenis atau apa yang terjadi pada sejumlah kesempatan akan terjadi pula pada kesempatan yang lain bila kondisinya yang sama terjadi.
Pada generalisasi ilmiah, ada 6 tanda-tanda penting yang harus kita perhatikan adalah :
1. Datanya dikumpulkan dengan observasi yang cermat, dilaksanakan oleh tenaga terdidik serta mengenal baik permasalahannya. Pencatatan hasil observasi dilakukan dengan tepat, menyeluruh dan teliti; pengamatan dan hasilnya dibuka kemungkinan adanya cek oleh peneliti terdidik lainnya
2. Adanya penggunaan instrumen untuk mengukur dan mendapatkan ketepatan serta menghindari kekeliruan sejauh mungkin
3. Adanya pengujian, perbandingan serta klasifikasi fakta
4. Pernyataan generalisasi jelas, sederhana, menyeluruh dinyatakan dengan term yang padat dan metematik
5. Observasi atas fakta-fakta eksperimental hasilnya dirumuskan dengan memperhatikan kondisi yang bervariasi misalnya waktu, tempat dan keadaan khusus lainnya
6. Dipublikasikan untuk memungkinkan adanya pengujian kembali, kritik, dan pengetesan atas generalisasi yang dibuat. ( Mundiri, 1994 : 135-136 )

Menurut Soekadijo, generalisasi yang baik harus memenuhi 3 syarat, antara lain :
1. Generalisasi harus tidak terbatas secara numerik.
Artinya, generalisasi tidak boleh terikat kepada jumlah tertentu. Kalau dikatakan ” Semua A adalah B ”, maka proposisi itu harus benar, berapa pun jumlah A. Proposisi itu berlaku untuk setiap dan semua subyek yang memenuhi kondisi A.
Contohnya : Semua perempuan adalah cantik.
2. Generalisasi harus tidak terbatas secara spasio-temporal.
Artinya, tidak boleh terbatas dalam ruang dan waktu. Jadi, harus berlaku di mana saja dan kapan saja.
Contohnya : Semua dosen adalah orang terpelajar
3. Generalisasi harus dapat dijadikan dasar pengandaian.
Yang dimaksud dengan ’dasar pengandaian’ di sini adalah dasar dari yang disebut contrary-to-facts conditionals atau unfulfilled conditionals.
Rumusnya :
Faktanya : x, y, dan z itu masing-masing bukan B
Ada generalisasi : Semua A adalah B
Pengandaiannya : andaikata x, y, dan z itu masing-masing sama dengan A atau dengan kata-kata lain, andaikata x, y, dan z itu masing-masing memenuhi atau sama kondisiya dengan A, maka pastilah x, y, dan z itu masing-masing sama dengan B. ( Soekadijo, 1991 : 134-135 )
Contohnya :
Faktanya : Sofan, Syaiful dan Budi itu bukan perempuan
Generalisasi : Semua yang cantik adalah perempuan
Pengandaiannya : Andaikata Sofan, Syaiful dan Budi itu cantik, maka pastilah Sofan, Syaiful dan Budi itu perempuan.

Dalam buku Logika Scientifika, dijelaskan bahwa untuk menentukan generalisasi yang sehat, kita harus menerapkan tiga buah cara pengujian adalah sebagai berikut :
1. Adakah kita telah mempertimbangkan hal-hal atau kejadian-kejadian dari kelompok yang diuji dalam jumlah secukupnya?. Orang harus seksama dan kritis untuk menentukan apakah generalisasi (mencapai kemungkinan probabilitas) dapat dipercaya. Dan kemungkinan tersebut harus muncul karena didasarkan contoh-contoh yang cukup. Apabila yang dipersoalkan unsur-unsur yang tidak dapat ditentukan, misalnya manusia, maka hanya akan membuat generalisasi yang terburu-buru. Maka hendaknya orang waspada terhadap generalisasi, seperti :
- semua orang laki-laki sama saja
- orang yang selalu ke masjid tidak mungkin jadi komunis
- barang siapa memuji Marx adalah komunis
- semua orang kaya kikir dan materialis.
Pernyataan-pernyataan semacam ini mudah dan cepat sekali beredar. Akan tetapi, pemikir yang kritis akan selalu mendesak untuk mengujinya terlebih dahulu guna melihat adakah pernyataan-pernyataan semacam itu memiliki bukti faktualnya sebelum menerimanya.
2. Adakah hal-hal atau kejadian-kejadian yang diuji merupakan sample yang cukup dari seluruh kelompok yang dipertimbangkan? Orang hendaknya melihat adakah sample yang diselidiki cukup representatif mewakili kelompok yang diperiksa. Apabila tidak, agak sulitlah untuk memperoleh hasil yang seksama
3. Ada kekecualian dalam kesimpulan umum? Apabila ada kekecualian, apakah juga diperhitungkan dan diperhatikan dalam membuat dan melancarkan generalisasi?
Apabila jumlah kekecualiannya banyak, kita tidak mungkin dapat membuat generalisasi. Tetapi jika hanya terdapat beberapa kekecualian, kita masih dapat membuat generalisasi, asalkan selalu waspada dan hati-hati untuk tidak menggunakan kata-kata seperti : semua, setiap, tiap-tiap dalam generalisasi. Kata-kata seperti ini hendaknya diganti dengan istilah : pada umumnya, kebanyakan, menurut garis besarnya. Meskipun yang terakhir ini akan mewujudkan generalisasi yang tidak sempurna, namun cukup merupakan bentuk pemikiran yang sehat dalam kejadian-kejadian praktis sehari-hari. ( Poespoprodjo, 1999 : 240-242 )

Adapun menurut buku Logika, untuk menguji apakah generalisasi yang dihasilkan cukup kuat untuk dipercaya dapat kita pergunakan evaluasi sebagai berikut :
1. Apakah sampel yang digunakan secara kuantitatif cukup mewakili. Semakin banyak jumlah fenomena yang digunakan semakin kuat kesimpulan yang dihasilkan, meskipun kita tidak boleh menyatakan bahwa dua kali jumlah fenomena individual akan menghasilkan dua kali kadar keterpercayaan.
Misalnya : Untuk menentukan jenis darah seseorang cukup dengan satu titik darinya. Atau untuk menentukan kadar kejernihan air sebuah sungai cukup satu gelas saja.
Tetapi sebaliknya, untuk menentukan faktor dominan apakah yang menjadi sebab sebuah kejahatan tidak cukup mendasarkan kepada beberapa orang saja.
2. Apakah sample yang digunakan cukup bervariasi. Semakin banyak variasi sample, semakin kuat kesimpulan yang dihasilkan.
Misalnya : Untuk menentukan kadar minat dan kesadaran berkoperasi sebagai sistem ekonomi yang diharapkan bagi bangsa Indonesia, harus diteliti dari berbagai suku bangsa, berbagai lapisan penghidupan, berbagai pendidikan dan berbagai usia.
3. Apakah dalam generalisasi itu diperhitungkan hal-hal yang menyimpang dengan fenomena umum atau tidak. Kekecualian-kekecualian harus diperhitungkan juga, terutama jika kekecualian itu cukup besar jumlahnya. Dalam hal kekecualian cukup besar tidak mungkin diadakan generalisasi. Semakin cermat faktor-faktor pengecualian dipertimbangkan, semakin kuat kesempatan yang dihasilkan.
Misalnya : Bila kekecualian sedikit jumlahnya harus dirumuskan dengan hati-hati, kata-kata seperti : semua, setiap, selalu, tidak pernah, selamanya dan sebagainya harus dihindari. Pemakaian kata : hampir seluruhnya, sebagian besar, kebanyakan ; harus didasarkan atas pertimbangan rasional yang cermat.
4. Apakah kesimpulan yang disimpulkan konsisten dengan fenomena individual. Kesimpulan yang dirumuskan haruslah merupakan konsekuen logis dari fenomena yang dikumpulkan, tidak boleh memberikan tafsiran menyimpang dari data yang ada.
Misalnya : Penyelidikan tentang faktor utama penyebab rendahnya prestasi akademik mahasiswa IAIN. Apabila data setiap individu dari sampel yang diselidiki ditemukan faktor-faktor lemahnya penguasaan bahasa asing, miskin literatur, kurang berdiskusi serta terlalu banyaknya jenis mata kuliah. Lalu, disimpulkan bahwa penyebab rendahnya prestasi itu adalah lemahnya penguasaan bahasa asing dan miskin literatur, ini tidak merupakan konsekuensi logis dari fenomena yang dikumpulkan. Semakin banyak faktor analogik ditinggalkan, semakin lemah kesimpulan yang dihasilkan. ( Mundiri, 1994 : 135-136 )






DAFTAR PUSTAKA

Keraf, Gorys. 1994. Argumentasi dan Narasi. Jakarta : Gramedia Pustaka Tama

Mundiri. 1994. Logika. Jakarta : Raja Grafindo Persada

Poedjawijatna. 2004. Logika Filsafat Berpikir. Jakarta : Rineka Cipta

Poespoprodjo. 1999. Logika Scientifika. Bandung : Pustaka Grafika

Soekadijo, RG. 1991. Logika Dasar, Tradisional, Simbolik dan Induktif. Jakarta : Gramedia Pustaka

Surajiyo, Sugeng A, Sri Andiani. 2005. Dasar-Dasar Logika. Jakarta : Bumi Aksara

Wallace, Walter L. 1994. Metoda Logika Ilmu Sosial. Jakarta : Bumi Aksara

http://ekspresibelajar.blogspot.com/2008/05/logika-dan-silogisme.html

About Me