Video of the day

Search This Blog

Showing posts with label Linguistik. Show all posts
Showing posts with label Linguistik. Show all posts

Wednesday, October 22, 2014

CLOCK PUZZLE (Media Pembelajaran Bahasa Inggris)


CLOCK PUZZLE adalah salah satu permainan yang saya gunakan untuk reinforcement materi jam di kelas VIII SMP AL-GHAZALI khususnya. Ini digunakan setelah para siswa paham bagaimana membicarakan jam dalam bahasa inggris.
Permainan dan bahaannya sangat sederhana, hanya butuh beberapa lembar kertas untuk print soft file yang sudah saya sediakan disini. Prosedur yang saya pakai juga sederhana tapi menarik:

Pertama, jelaskan kepada mereka bahwa mereka akan bermain permainan ini, dimana mereka harus mencocokkan antara gambar jam di sisi kiri dengan teks di sisi kanan gambar lain, hingga semuanya tersusun membentuk lingkaran. Kelompok tercepat dan tertepat yg akan menjadi pemenangnya.

Ini susunannya salah, tapi bentuk akhir hasil siswa adalah seperti ini
Lalu lakukan langkah langkah ini:

1. Bagi siswa menjadi beberapa kelompok (sesuai puzzle jam yang kita miliki, saya membagi menjadi 4 kelompok)
2. Mintalah mereka berkumpul di tengah
3. Tempatkan kelompok kelompok kartu di 4 pojok dengan posisi terbalik dan sudah diacak
4. Mintalah tiap kelompok berdiri melingkari 1 tumpuk kartu itu
5. Dalam hitungan tiga minta mereka untuk menyusun puzzle itu

Selesai....


Selamat mencoba, semoga bermanfaat!!!

:-)



Wednesday, April 25, 2012

LANGUAGE, TEACHING AND LEARNING (A LECTURE NOTE)


Learning and teaching Second language is not easy and is not simple case. It takes many variables of the learners when they must think, feel and act in the second language; when they must leave their first language and come into the new language, and demand teacher to know and understand every variable that is taken from the learners. That is why only few people are able to success in learning the second language well.
Here, I will simply talk about the variables; including some theories had been created by many linguists since a century ago.

What is language?
It is impossible to teach something when we do not know what we will teach. So, when we will teach a language,

Saturday, April 21, 2012

SOME PERSONALITY FACTORS IN SLA (LECTURE NOTE)


Learning second language is complicated. There are many variables that may influence the process, the teacher, the media, the method and also the personality factor of learner.
There are some aspects of personality that may affect the second language acquisition (SLA) process, let’s talk it.
           
Self-esteem
You can infer the self-esteem as giving value to your self. Some of learners may give high value to themselves, so that they have strong self confidence and it will affect their SLA process; some of others give low value to themselves, and it makes them lack of self confidence; and some the others give value with indifference for themselves, then they will think that their self is just

Thursday, January 5, 2012

Alhamdulillah ya,,,, (perluasan makna kata alhamdulillah)

Alhamdulillah...
Alhamdulillah, ya Allah...
Alhamdulillah ya...

Tiga ungkapan alhamdulillah di atas sering kali kita dengar dalam tradisi Islam. Lebih lebih ungkapan yang terakhir, saat ini menjadi tren di Negara kita. Kita tahulah siapa pelopornya, Syahrini. Ketika kumpul dengan teman teman beberapa waktu lalu, semuanya pada menambahkan kata "alhamdulillah ya" di akhir atau di awal

Wednesday, November 23, 2011

ENCIK (Bahasa; sistem arbitrer dan konvensional)

abiiii... encikkk!!!

ummi... encikkk!!!

ya, itulah kalimat yang sering dilontarkan ponakan kecilku setelah capek bermain atau menyambut abinya pulang kerja.

Kalau tidak terbiasa dengan dia, orang bakalan bingung ketika dia lontarkan kalimat itu. Karena saya yakin, orang itu  tidak akan paham makna kata "encik". Dicari di kamus bahasa apapun, kata itu tak akan ditemukan. Karena memang, kata itu bukan kata biasa, itu adalah kosa kata baru di keluarga kami. Kalau kita cari ekuivalennya dalam bahasa Indonesia, sama dengan gendong. jadi,

Saturday, June 12, 2010

SUGGESTOPEDIA


(sebuah catatan kuliah)


Jum’at (11/06) sore saya dan beberapa teman mengikuti jam tambahan mata kuliah Teaching English as Foreign Language (TEFL) selama dua jaman sejak jam setengah tigaan sampai hampir setengah lima bertempat di Gedung B Fakultas Tarbiyah.

Ada dua topik yang dibahas kali ini, Community Language Learning dan Suggestopedia. Masing-masing topik dipresentasikan oleh dua kelompok yang berbeda dan terlihat penuh dengan persiapan yang matang.

Tidak banyak yang saya dapat kali ini, karena memang tanpa persiapan sama sekali; tak ada satupun literatur yang saya baca sebelum duduk di kelas. Akan tetapi, Suggestopedia menjadi perhatian saya waktu itu, karena sang penemu mengklaim bahwa metode ini dapat mengajarkan bahasa 2-5 kali lebih cepat daripada metode biasa.

Suggestopedia pertama kali diusulkan oleh salah seorang edukator asal Bulgaria, Dr. Georgi Lozanov dengan komunikasi sebagai ultimate goal-nya. Beliau percaya bahwa hal-hal di sekeliling siswa bisa menjadi sugesti proses Pembelajaran, baik sugesti negatif maupun sugesti positif.

"Tujuan dari metode ini adalam menghilangkan asumsi negatif siswa yang sudah mapan (lihat Lozanov, 1978, hal. 252 dalam guruindo.blogspot.com). Asumsi negatif di sini adalah lingkungan yang dapat menurunkan minat maupun kepercayaan siswa untuk mempelajari bahasa. Misalnya, “ah bahasa Inggris itu sulit”, atau “belajar bahasa itu membosankan”, dan lain sebagainya. Asumsi-asumsi ini akan membatasi potensi manusia. (guruindo.blogspot.com)

Ada beberapa poin penting yang saya tangkap dari presentasi teman-teman dan Pak Udin, dosen pengampu TEFL serta beberapa tulisan di blog-blog sahabat.

Pertama adalah bahwa siswa harus memiliki kepercayaan terhadap guru. Hal ini penting, karena dalam memberikan sebuah sugesti (baca: pengetahuan) maka yang disugesti harus percaya bahwa itu benar. Ketika sang guru berkata “belajar bahasa Inggris itu mudah”, maka timbul semangat dalam diri siswa untuk mempelajarinya, karena mereka percaya bahwa belajar bahasa Inggris itu memang mudah. Akan tetapi, di sini tidak berarti bahwa guru menjadi otoriter.

Kedua, guru harus selalu memberikan sugesti positif. Di sini tujuannya seperti yang saya kutip di atas, bahwa sugesti atau asumsi negatif akan membatasi potensi siswa dan dengan membangun sugesti positif untuk menggantikan sugesti negatif itu, akan memaksimalkan potensi siswa yang ada.

Salah satu contoh kecil dari sugesti positif adalah dengan tidak menyalahkan secara langsung sang murid ketika melakukan koreksi. Menurut Pak Udin, koreksilah dengan halus dan bertahap tanpa menyalahkan sang siswa, karena menurut beliau, kesalahan ada bukan untuk disalahkan tapi untuk dituntun menjadi benar.

Contoh lain dari sugesti positif adalah dengan membangun lingkungan yang membuat siswa nyaman selama proses pembelajaran. Kelas yang sejuk, tenang, bersih, kursi yang empuk, dinding yang bergambar dan bertuliskan kalimat-kalimat motivasi, dan juga guru yang tidak menakutkan. (kata mas Farid, teman kelas saya, kalau kondisi kelas kita gitu, bisa-bisa semuanya pada ngiler ketiduran!!!)

Dan juga, metode ini percaya, bahwa siswa akan lebih baik dalam proses pembelajaran jika mereka belajar secara tidak sadar. Saya tidak begitu paham dengan poin yang satu ini, hanya saja jika saya kaitkan dengan research di guruindo.blogspot.com tentang penggunaan Suggestopedia di kelas, mungkin ada kaitannya dengan penggunaan musik klasik selama proses pembelajaran. Karena menurut penelitian, otak akan berfungsi maksimal ketika berada dalam kondisi Alpha. Dan musik klasik, disebut-sebut bisa membawa otak kita dalam kondisi tersebut. (guruindo.blogspot.com)

Selain itu, siswa juga perlu menggunakan identitas baru, siswa disuruh membayangkan menjadi seseorang di luar diri mereka. Hal ini penting dilakukan, karena metode ini percaya bahwa peran fiktif mereka akan membebaskan mereka dari permasalahan dunia nyata mereka. (guruindo.blogspot.com)

Dari poin-poin di atas, saya menagkap bahwa poin utama dari metode ini adalah bagaimana menjadikan siswa memiliki interest untuk mempelajari bahasa target dengan membangun kepercayaan mereka terhadap pembelajaran bahasa maupun san guru dan membangun kondisi yang nyaman dan aman, baik dalam diri ataupun di luar siswa itu sendiri.


Surabaya, Kamar Lanceng Soengenep, 12 Juni 2010, at 09.39

Saturday, May 22, 2010

Natural Language Processing & Applications Morphology


1 Introduction
As used in this module, one use of the word ‘grammar’ is to refer to systematic patterns both
within words and within sentences. The grammar of a language thus includes both the
morphology of words and the syntax of sentences. Languages tend to ‘trade off’ these
components against one another. Some Indo-European languages (Russian being a notable
example) have retained the complex morphology which is thought to have been a feature of
the original Indo-European language. Others, such as English and Persian (Farsi), have less
complex morphology but more rigid syntax (rules ordering elements within sentences). Thus
the word order in the English sentence:
The dog saw the cat.
is absolutely fixed. Swapping the dog for the cat produces an equally grammatical sentence
but one which has a different meaning. Any other word order is unacceptable (although
words such as the can be omitted in ‘shorthand’ forms, such as newspaper headlines). In
Modern Greek, the equivalent sentence (transcribed into the Latin alphabet) is:
O skilos eida ti gata.
To say the cat saw the dog the sentence must become:
I gata eida to skilo.
When the dog is the ‘subject’ of the sentence it is o skilos ; when it is the ‘object’ of the sen-
tence it becomes to skilo . Similarly i gata changes to ti gata as it moves from subject to
object. Thus in Greek if we take the first sentence and reverse the order of o skilos and ti
gata, giving:
Ti gata eida o skilos.
the sentence still means that the dog saw the cat. The three elements of the sentence (subject,
verb and object) can be placed in any order without altering the basic meaning. The morphol-
ogy of the words (primarily but not exclusively their endings) makes clear who is doing what
to whom. Word order merely emphasizes different elements. To get the effect of the last sen-
tence above in English, we would need to completely re-cast it. Two possibilities are:
It was the cat that the dog saw.
As for the cat, the dog saw it.
The history of many Indo-European languages seems to be one in which a combination of
complex morphological differences with fairly free word order has given way to smaller
morphological differences accompanied by rigid word ordering. Classical Latin or Greek and
Modern Russian stand at one end of this spectrum; Modern Greek somewhere in the middle;
French and English at the other end.
Some definitions are needed. Words can often be divided into morphemes . Thus inputs
(whether noun or verb) can be divided into three morphemes: in + put + s . Note that ALL
parts of the word are called morphemes: put is the root morpheme to which the THREE
affixes in and s are added. Affixes can be prefixes , infixes or suffixes , i.e. can be added to
the start of a word, inserted into a word or added to the end of a word. In English, infixes are
rare, although they are common in other languages (Arabic for example). 1
Some authors define morpheme as the smallest unit of meaning. There are some objections to
this definition, which is why I never use it.
• Units which alter meaning are not necessarily morphemes. The pluralization of man to.....................................
TO READ THE WHOLE ARTICLE CLICK HERE

Saturday, April 10, 2010

IDIOMS

An idiom is an expression which can not be understood from the literal meanings of the word of which it is composed. Idioms sometimes ignore law of grammar or the law of logic. Considered literally, word-for word, idioms often do not make good sense, but the meaning of the phrase as a whole is perfectly clear,
1. to give : memberi
In : di dalam
To give in : menyerah
2. to run : berlari
Out : keluar
Of : dari
To run out of : kehabisan
This an idiom which consists of two or more word will have a specific meaning, which usually does not relate to the literal meanings of its components. For this matter an idiom should be learned in context. The context will help you in some ways to guess the meaning of an idiom intelligently.

Study the following sentences and guess the meaning of the underlined word:
1. the rabbles were forced to give in after neing blocked from all direction and finding no way to escape
2. feoriats last a bomb in the main station and several people were killed when it plow up
3. I was not sati flat with my hotel room, so I made a fuss to the hotel manager
4. I can’t make up my mind whether to spend my semester vacation in Bali or in Jakarta
5. just about here in your composition you seem to have run out of ideas

I believe that you have guessed the meaning of the idiom in the sentences above correctly. They mean:
1. Surrender : menyerah
2. Exploded : meledak
3. Complained : mengadu
4. Decide : memutuskan
5. Become short of : kehabisan

Yet, you should also know that some idioms have various meanings depending on the context. Look at the examples below:
1. the airplane took off at 5 p.m. (the opposite of flanked)
2. Being too hot, he took off his jacket. (the opposite of ‘put on’)
3. I can come at the answer to this problem. (Find?)
4. The elephant came at the hunter .(reached to attack?)

Idioms may be neutral, formal, colloquial or slang. Study the sentences below:
1. We ran out of sugar so we drank tea without it. (and no more)
2. The king passed away in 1950. (died)
3. He is red in the face. (easily made angry)
4. He was confused not knowing what to do when he suddenly got the kick. (be dismissed from employed)
when an idiom does not have any special implication in terms of meaning we call it neutral (1). When it is used to show respect, politeness, and formality we call it formal (2). When an idiom belongs to or is suitable for, ordinary conversation (not formal or literary) it is called colloquial (3). When an idiom is commonly used in talk but not suitable for good writing or formal occasion, especially the kind used by typical of a class of person, then it is called slang (4). Slang lacks dignity and is often cheap and vulgar the continuous creation of slang term is part of the natural process of language making, and that slang expressions frequently rise to be acceptable colloquialisms and even parts of english formal vocabulary.
There are various kinds of idiom in terms of forms. Different writers classify idioms differently yet of course the meanings are the same. David peaty in working with English idiom lists 20 different kinds of idioms while Jennifer said in idiom in practice only lists eight. A large number of English idiom are made from such common verbs as fall, come, get, lay, look, set, stand, run, take, put, keep, hold, pull, and make in various combination with such preposition (and preposition used as verbs) as at, by, to, in, on, which, without, of, off, out, down, for, under, above, over, upon, again, behind, and along. The verb to come, for example, combines to make such idioms as to come at, to come by, to come to, to come in, to come on, to come of, to come off, to come out, to come down, to come for, to come under, to come over, to come upon, to come along, to come against, and so on. look for the meanings of these idioms in your dictionary!
Common verbs like those listed in the preceding paragraph combine also with adjectives, adverbs, and nouns to form familiar idioms: to make good, to run low, to make friends. A rich source of idioms is the human body in its various parts: to keep one’s head, to nose out, to see eye with, to turn a deaf ear, to set one’s heart on, to change hands, to stand on one’s own leg, to put one’s best foot forward, and hundred of others. You can find such idiom by guessing from its contents or to be on the safe side through your dictionary or your idiom dictionary.
Finally you should know that good writers use much idiom since it is the life and spirit of language. It gives energy and colour to language which other wise might become dull and without taste or flavour.

Exercise.1
Identify whether the idioms used in the following sentences belong to neutral, formal, colloquial or slang. Write N for natural, F for formal, C for colloquial and S for slang in the space provided. Consult your dictionary when necessary.
1. that old main was red in the face
2. it is easy as anything
3. how are you going, buddy?
4. the parent is doing nicely
5. he is a natural or the job

exercise 2.
Choose the correct from of the idioms by putting a circle on the letter of your choice.
1…..the television appeal, thousands of viewers donated money in aid of the flood relief fund.
a. for response to b. on response to c.in response to
2. these new machines produce glass bottles…two thousand per hour.
a. at the rate of b. in the rate of c. on the rate of
3…. All the extra work at the office, I’ve decided to postpone my holiday.
a. with a view to b. with the view of c.in view of
4. I was just…..ringing up to complain that my taxi hadn’t arrived, when I heard it draw up outside.
a.at the point of b.on the point of c.at this point
5. Mrs. Fairbanks is badly … a cleaning help. She can’t manage that big house by herself any longer.
a. in want of b. for want of c. from want of
Exercise 3.
Complete the following sentences by choosing the correct idiom. Encircle the letter of the correct idiom:
1. I was christened Elizabeth, but most people call me Beth….
a. in short b. for short c.short for
2. Don’t waste your time … and let’s get on with the rest of the business.
a. wander off the point b.take my point c.get to the point
3. it’s no use translating English idioms .. they never make sense:
a. word for wore b.in a word c.by word of month
4. Brian swears that he didn’t do the damage – and since I can’t prove it, I ‘ll have to…
a. have the last word b.take his word for it c.eat my words
5. the business is going quite well. We had our troubles at first; but … we can’t complain.
a. by and large b.by and by c.by the by
Exercise 4.
Complete the following sentences by choosing the correct idiom; encircle the letter of the selected idiom.
1. We’ve got a new secretary, fresh from the secretarial college. She’s little naïve, still…
a. wet behind the ears b.on her tales c. a pain in the neck
2. we have spent a lot of be a very rude, bad – tempered person, we’ll have to … if we want to take chat skiing holiday.
a. draw in our horns b.kill two birds whit one stone c. do the donkey work
3. we’ve a new shop assistant in our department, but she is rather … a bit naïve and inexperienced. I don’t think she’ll self much.
a. grey b. blue c. green
4. our butcher seems to be a very rude, bad -.limbered person, but in fact … and he sells the best meant in town
a. he has a been in his bonnet b. he lets the cat out of the bag c. his barks worse than his bite
5. I got a telegram this morning telling me I’d won a lot of money on the football polls, I can hardly believe its l hadn’t checked my coupon, so it was completely…
a. out of the blue b. in the black c. a yellow streak

DIKSI

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

Adalah suatu kesalahan besar jika kita menganggap bahwa persoalan dalam pemilihan kata adalah suatu persoalan yang sederhana, tidak perlu dibicarakan atau dipelajari karena akan terjadi dengan sendirinya secara wajar pada diri manusia. Dalam kehidupan sehari-hari sering kali kita menjumpai orang-orang yang sangat sulit mengungkapkan maksud atau segala sesuatu yang ada dalam pikirannya dan sedikit sekali variasi bahasanya. Kita pun juga menjumpai orang-orang yang boros sekali dalam memakai perbendaharaan katanya, namun tidak memiliki makna yang begitu berarti. Oleh karena itu agar tidak terseret ke dalam dua hal tersebut, kita harus mengetahui betapa pentingnya peranan kata dalam kehidupan sehari-hari.
Pengertian yang tersirat dalam sebuah kata mengandung makna bahwa setiap kata mengungkapkan sebuah gagasan. Kata-kata merupakan alat penyalur gagasan yang akan disampaikan kepada orang lain. Jika kita sadar akan hal itu, berarti semakin banyak kata yang kita kuasai, semakin banyak pula ide atau gagasan yang kita kuasai dan sanggup kita ungkapkan.
Tujuan manusia berkomunikasi lewat bahasa adalah agar saling memahami antara pembicara dan pendengar, atau antara penulis dan pembaca. Dalam berkomunikasi, kata-kata disatu-padukan dalam suatu konstruksi yang lebih besar berdasarkan kaidah-kaidah sintaksis yang ada dalam suatu bahasa. Dalam hal ini, pemilihan kata yang tepat menjadi salah satu faktor penentu dalam komunikasi.
Pemilihan kata merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam hal tulis-menulis maupun berbicara dalam kehidupan sehari-hari. Pemilihan kata berhubungan erat dengan kaidah sintaksis, kaidah makna, kaidah hubungan sosial, dan kaidah mengarang. Kaidah-kaidah ini saling mendukung sehingga tulisan atau apa yang kita bicarakan menjadi lebih berbobot dan bernilai serta lebih mudah dipahami dan dimengerti oleh orang lain.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang makalah ini, permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1. Apakah pengertian diksi?
2. Bagaimanakah cara memperluas kosa kata?
3. Apakah yang dimaksud dengan pendayagunaan kata, serta apa hubungan antara ketepatan dan kesesuaian pilihan kata?

C. Manfaat Penulisan

Sering kali seseorang ingin menyampaikan aspirasinya, seorang mahasiswa yang diberi tugas mengetahui gagasannya, tetapi tidak mengetahui kata atau istilahnya. Banyak juga mahasiswa yang tidak bisa memperluas karangannya atau karangan ilmiahnya karena tidak memiliki kosa kata yang luas. Oleh karena itu, mengetahui kata dan gagasan, serta penguasaan kosa kata itu sangat penting.
Agar dapat menulis karangan biasa maupun karangan ilmiah, serta menyampaikan gagasan dengan baik, paling tidak kita harus mampu memilih kata-kata yang tepat, mampu menggunakan kamus, dan harus memiliki kosa kata yang luas. Hal-hal inilah yang akan diungkapkan dalam makalah ini, sehingga makalah ini menjadi berguna bagi siapa saja yang membaca makalah ini dan akhirnya membuat mereka mengetahui bagaimana cara memperluas kata dan memilih kata-kata yang tepat dan sesuai.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Kata dan Pilihan Kata
1. Pilihan Kata
Pilihan kata atau diksi adalah pemilihan kata–kata yang sesuai dengan apa yang hendak kita ungkapkan.
Saat kita berbicara, kadang kita tidak sadar dengan kata–kata yang kita gunakan. Maka dari itu, tidak jarang orang yang kita ajak berbicara salah menangkap maksud pembicaraan kita.
Beberapa pengertian tentang diksi:
• Plilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata – kata mana yang harus dipakai untuk mencapai suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata – kata yang tepat atau menggunakan ungkapan – ungkapan, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi.
• Pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa – nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar.
• Pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasa sejumlah besar kosa kata atau perbendaharaan kata bahasa itu. Sedangkan yang dimaksud pembendaharaan kata atau kosa kata suatu bahasa adalah keseluruhan kata yang dimiliki suatu bahasa.

2. Macam-Macam Makna Kata
a. Makna Denotati
Makna denotatif adalah makna yang sesuai apa adanya, mengandung makna obyektif, sesuai dengan hasil observasi, hasil pengukuran, pembatasan. Dalam pekerjaan ilmiah, dalam tulisan-tulisan ilmiah atau karangan-karangan argumentative, deskriptif atau ekspositoris perlu sekali dipertahankan makna-makna denotatif atau konseptual.

b. Makna Konotatif
Makna konotatif adalah makna di mana stimulus dan respons mengandung nilai-nilai emosional. Makna konotatif dapat muncul berdasarkan situasi dan pengalaman pemakainya.

Contoh:
 Gedung itu luasnya hanya 300 meter persegi. (denotatif)
 Gedung itu luas sekali. (konotatif)
 Ada lima ratus orang yang menghadiri pesta itu. (denotatif)
 Meluap hadirin yang mengikuti pesta itu. (konotatif)
 Banayk sekali orang yang menghadiri pesta itu. (konotatif)
3. Konteks Linguistis dan Nonlinguistis
a. Konteks Linguistis
Konteks linguistis adalah hubungan antara unsur bahasa satu dengan unsur bahasa lain. Konteks linguistis mencakup konteks hubungan antara kata dengan kata dalam frasa atau kalimat, hubungan antar frasa dalam sebuah kalimat atau wacana, dan hubungan antar kalimat dalam wacana.

b. Konteks Nonlinguistic
konteks nonlinguistic yaitu hubungan yang mencakup antara dua hal yaitu, hubungan antara kata dan barang atau hal, dan hubungan antara bahasa dan masyarakat atau disebut juga konteks sosial. Bahasa yang digunakan bukan semata-mata karena masalah-masalah kebahasaan, tapi juga karena masalah kemasyarakatan yang bersifat nonlinguistic.

4. Struktur Leksikal
a. Sinonimi
Sinonim adalah kata-kata yang memiliki makna yang sama.
Dalam ilmu bahasa yang murni, sebenarnya tidak diakui adanya sinonim. Tiap kata mempunyai nuansamakna yag berlainan, walaupun ada ketumpang-tindihan antara satu kata dengan kata yang lain. ketumpang-tindihan makna inilah yang membuat orang menerima konsep sinonimi atau sinonim ini. Selain itu, konsep ini juga diterima untuk mempercepat pemahaman makna sebuah kata yang baru, yang dikaitkan dengan kata-kata yang lama. Dengan demikian, proses perluasan kosa kata seseorang akan berjalan lebih lancer.

b. Polisemi dan Homonimi
Polisemi adalah sebuah kata yang dapat memiliki bermacam-macam arti. Sedangakan homonimi adalah dua kata atau lebih tetapi memiliki bentuk yang sama.
Untuk menetapkan apakah suatu bentuk itu merupakan polisemi atau homonimi, kadang-kadang tidakselalu mudah. Kamus-kamus biasanya menetapkan apakah sebuah kata itu polisemi atau homonimi berdasarkan etimologi atau pertalian historisnya.

c. Hiponimi
Hiponimi adalah relasi antara kata yang berwujud atas-bawah, atau dalam suatu makna terkandung sejumlah komponen yang lain. Karena ada kelas atas yang mencakup sejumlah komponen yang lebih kecil, dan ada sejumlah kelas bawah yang merupakan komponen-komponen yang tercakup dalam kelas atas, maka kata yang berkedudukan sebagai kelas atas disebut superordinat dan kelas bawah yang disebut hiponim.

d. Antonimi
Antonimi adalah relasi antara makna yang wujud logisnya sangat berbeda atau bertentangan. Bila dibandingkan dengan sinonimi, maka antonimi merupakan hal yang wajar dalam bahasa Indonesia.

B. Perluasan Kosa Kata
1. Cara Memperluas Kosa Kata
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memperluas kosa kata, diantaranya:
a. Proses belajar
Kita dapat memperluas kosa kata kita melalui proses belajar di lembaga-lembaga pendidikan. Di dalam suatu pelajaran biasanya terdapat istilah-istilah yang nantinya dapat dijelaskan oleh para pendidik. Dalam menyampaikan uraian tentang istilah-istilah tersebut, para pendidik harus cermat dan teliti agar peserta didik tidak mewarisi pengertian yang kurang tepat.

b. Konteks
Ada banyak kosa kata yang diperluas melalui sebuah konteks. Konteks adalah lingkungan yang dimasuki sebuah kata. Kombinasi kata-kata yang sama dapat memberikan pengertian yang berbeda dalam lingkungan kontekstual yang berlainan. Contoh:
 Meskipun masih berumur tiga tahun, adikku sudah bisa membaca. (mampu)
 Ular itu memiliki bisa yang sangat berbahaya. (racun)

c. Kamus, kamus sinonim, dan tesaurus
Kamus, kamus sinonim, dan tesaurus merupakan referensi yang disusun untuk memperluas pengetahuan tentang kosa kata.
Kamus merupakan sebuah buku referensi yang memuat daftar kosa kata yang terdapat dalam sebuah bahasa, yang disusun secara alfabetis disertai keterangan bagaimana menggunakan kata itu.
Sebuah kamus haruslah memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu. Susunan kamus yang baik biasanya terdiri dari tiga bagian utama, yaitu:
1. Bagian pendahuluan
 Pada bagian pendahuluan, memuat tentang tata cara menggunakan kamus.
2. Isi kamus
 Isi kamus terdiri dari daftar kata yang disusun menurut urutan abjad dan disertai keterangannya.
3. Bagian pelengkap
 Bagian pelengkap ini biasanya ditambahkan pada suatu kamus agar menjadi kamus yang baik. Biasanya bagian ini terdiri dari kata dan frasa asing, tokoh terkenal dan nama geografis, atau bagian-bagian lain yang dianggap perlu.

Kamus sinonim merupakan buku referensi yang disusun untuk membedakan konotasi-konotasi, yaitu sugesti-sugesti yang ditimbulkan oleh kata-kata yang tampaknya mempunyai arti yang sama, tetapi tidak dapat saling melengkapi. Misalny: buku-kitab, cepat-lekas-segera, kikir-pelit, dan sebagainya. Kamus sinonim ini biasanya dimanfaatkan sebagai pelengkap kamus biasa.

Tesaurus merupakan buku yang disusun menurut sebuah sistem tertentu, terdiri dari gagasan-gagasan yang mempunyai pertalian timbal-balik, sehingga setiap pemakai dapat memilih istilah atau kata yang ada di dalamnya. Tesaurus ini biasanya disusun untuk keperluan sendiri.

d. Menganalisa kata
Yang dimaksud menganalisa kata di sini adalah analisa terhadap bagian-bagian kata yang selalu muncul dalam bentuk-bentuk gabungan, sehingga dengan mengingat dasar katanya, maka semua kata yang mempergunakan dasar tadi, dapat diduga maknanya secara tepat. Bagian-bagian kata yang berbentuk gabungan itu dapat berupa akar kata maupun imbuhan-imbuhan.

2. Mengaktifkan Kosa Kata
Cara mengaktifkan kosa kata dapat dilakukan dengan dua cara:
a. Di luar kemauan seseorang
Hal ini biasanya terjadi pada seseorang yang berada dalam dunia pendidikan. Bila pendidik mengulang-ulang istilah-istilah atau kosa kata saat menjelaskan pelajarannya, maka secara tidak sengaja peserta didik pun dapat mengingat secara aktif di otaknya. Selain itu, pengaktifan kosa kata dalam dunia pendidikan bisa terjadi saat peserta didik selalu membaca istilah-istilah atau kosa kata yang dibaca dari buku pelajarannya.
Proses ini pun dapat terjadi pada seseorang yang berada di luar dunia pendidikan. Bila seseorang sering membaca atau mendengar istilah-istilah atau kosa kata baik melalui orang lain maupun dari media cetak atau media elektronik, maka istilah-istilah atau kosa kata itu pun dapat hidup dan aktif dalam otaknya.
b. Dengan kemauan seseorang
Proses ini dilakukan secara sengaja dan dikembangkan melalui beberapa metode:
1. lebih sering menggunakan kata tertentu
 Sengaja lebih sering menggunakan kata atau istilah yang baru didengar atau dibaca.
2. mempertajam pengertian kata
 Mempertajam pengertian kata-kata tertentu, dengan membedakan nuansa arti yang didukungnya masing-masing. Contoh: puas, senang, lega, betah; sesak, penuh, sendat, sempit; gejala, indikasi, tanda-tanda; dan lain sebagainya.
3. menertibkan pemakaian kata yang khas
 Menertibkan diri sendiri untuk mencari kata-kata yang khas, bila menulis atau membicarakan sesuatu yang khusus. Usaha ini memaksa kita untuk menemukan kata-kata yang bersinonim dari kosa kata kita, lalu menetapkan kata mana yang paling cocok untuk peristiwa atau persoalan yang khas tadi.
C. Pendayagunaan Kata dan Ketepatan Pilihan Kata
1. Ketepatan Pilihan Kata
Ketepatan pilihan kata mempersoalkan kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan-gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar, seperti apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh penulis atau pembicara

2. Persyaratan Ketepatan Diksi
Ketepatan adalah kemampuan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan yang sama pada imajinasi pembaca atau pendengar, seperti yang dipikirkan atau dirasakan oleh penulis atau pemnbicara, maka setiap penulis atau pembicara harus berusaha secermat mungkin memilih kata-katanya untuk mencapai maksud tersebut.
Hal-hal yang harus diperhatikan agar bisa mencapai ketepatan pilihan kata:
• Membedakan secara cermat denotasi dari konotasi.
• Membedakan dengan cermat kata-kata yang hampir bersinonim.
• Membedakan kata-kata yang mirip dalam ejaannya.
• Menghindari kata-kata ciptaan sendiri
• Waspada terhadap penggunaan akhiraan asing, terutama kata-kata asing yang mengandung akhiran asing tersebut.
• Kata kerja yang menggunakan kata depan harus digunakan secara idiomatis.
• Penulis atau pembicara harus membedakan kata umum dan kata khusus untuk menjamin ketepatan diksi.
• Mempergunakan kata-kata indria yang menunjukkan persepsi yang khusus.
• Memperhatikan perubahan makna yang terjadi pada kata-kata yang sudah dikenal.
• Memperhatikan kelangsungan pilihan kata.

3. Kata Umum dan kata Khusus
Kata khusus merupakan kata yang mengacu kepada pengarahan-pengarahan yang khusus dan kongkret, menggambarkan dan menghadirkan makna sesuai dengan hasil pengamatan penulis atau pembicara. Sedangkan kata umum merupakan kata yang mengacu pada suatu hal atau kelompok yang luas bidang lingkupnya, hanya memberikan beberapa kemungkinan makna.
Dalam penulisan dan penuturan, kita perlu memilih kata-kata khusus untuk mencapai ketepatan pengertian. Semakin khusus sebuah kata atau istilah, semakin dekat titik persamaan atau pertemuan yang dapat dicapai antara penulis dan pembaca, sebaliknya semakin umum sebuah istilah, semakin jauh pula titik persamaan atau pertemuan antara penulis dan pembaca.
Adanya pemilihan kata-kata khusus dalam penulisan dan penuturan, bukan berarti kata-kata umum itu tidak mendapatkan tempat dalam tulisan-tulisan yang baik. Akan tetapi, pengertian-pengertian yang umum perlu mendapat penjelasan lebih lanjut, memerlukan lagi pengembangan yang kongkret dan khusus pula.
4. Kata Indria
Kata-kata indria melukiskan suatu sifat yang khas, menyatakan pengalaman-pengalaman dari pencerapan panca indria, yaitu cerapan indria penglihatan, pendengaran, peraba, perasa, dan penciuman. Oleh karena itu, pemakaiannya harus tepat.
Contoh:
Wajahnya manis sekali.
Suaranya manis kedengarannya.

5. Perubahan Makna
Makna kata tidak selalu bersifat statis. Akan tetapi makna kata itu akan mengalami perubahan dari waktu ke waktu sehingga akan menimbulkan kesulitan-kesulitan baru bagi pemakai yang bersifat konservatif.
Terjadinya perubahan makna tidak saja mencakup bidang waktu, tapi dapat juga mencakup persoalan tempat. Dalam persoalan pilihan kata, dasar yang dipakai sebagai patokan untuk menentukan apakah suatu makna sudah berubahatau tidak adalah pemakaian kata dengan makna tertentu harus bersifat naisonal (masalah tempat), terkenal,dan sementara berlangsung (masalah waktu).
Perubahan-perubahan makna yang penting adalah:
1. perluasan arti
 suatu proses perubahan makna yang dialami sebuah kata yang tadinya mengandung suatu makna yang khusus, tetapi kemudian meluas sehingga melingkupi sebuah kelas makna yang lebih umum.
 Dulu kata bapak dan saudara hanya dipakai dalam hubungan biologis, sekarang semua orang yang lebih tua atau lebih tinggi kedudukannya disebut bapak, dan lain-lainnya dengan saudara.

2. penyempitan arti
 suatu proses yang dialami sebuah kata di mana makna yang lama lebih luas cakupannya dari makna yang baru.
 Kata sarjana dulu dipakai untuk menyebut semua orang cendekiawan. Sekarang dipakai untuk gelar universiter.

3. ameliorasi
 suatu proses perubahan makna, di mana arti yang baru dirasakan lebih tinggi atau lebih baik nilainya dari arti yang lama.
 Kata istri dirasakan lebih tinggi dari pada bini.

4. peyorasi
 suatu proses perubahan makna, di mana arti yang baru dirasakan lebih rendah nilainya dari arti yang lama.
 Kata perempuan dulu tidak mengandung nilai yang kurang baik, tapi sekarang nilainya dianggap kurang baik dibandingkan dengan kata wanita.


5. metafora
 perubahan makna karena persamaan sifat antara dua obyek. Salah satu sub-tipe dari metafora adalah sinestesia, yaitu perubahan makna berdasarkan pergeseran istilah antara dua indria.
 misalnya dari indria peraba ke indria penciuman.kita mengatakan penciuman yang tajam, walaupun kata tajam sebenarnya menyangkut indria peraba.
 Contoh: sampah masyarakat (orang yang suka dibenci)
Bermuka dua (munafik)
6. metonimi
 suatu proses perubahan makna terjadi karena hubungan yang erat antara kata-kata yang terlibat dalam suatu lingkungan makna yan sama, dan dapat diklasifikasi menurut tempat atau waktu, menurut hubungan isi dan kulit, hubungan antara sebab dan akibat.
 Kata kota tadinya berarti susunan batu yang dibuat mengelilingi sebuah tempat pemukiman sebagai pertahanan terhadap bserangan dari luar. Sekarang tempat pemukiman itu disebut kota, meskipun sudah tidak ada lagi batu yang mengelilinginya.
6. Kelangsungan Pilihan Kata
Suatu cara lain untuk menjaga ketepatan pilihan kata adalah kelangsungan. Yang dimaksud dengan kelangsungan pilihan kata adalah teknik memilih kata yang sedemikian rupa, sehingga maksud atau pikiran seseorang dapat disampaikan secara tepat dan ekonomis.
D. Pendayagunaan Kata dan Kesesuaian Pilihan Kata
1. Kesesuaian Pilihan Kata
Perbedaan antara ketepatan pilihan kata dengan kesesuaian pilihan kata adalah ketepatan mempersoalkan apakah kata-kata yang digunakan sudah setepat-tepatnya, sehingga tidak akan menimbulkan interpretasi yang berlainan antara pembicara dan pendengar, atau antara penulis dan pembaca; sedangkan dalam kesesuaian pilihan kata kita mempersoalkan apakah pilihan kata dan gaya bahasa yang digunakan tidak merusak suasana atau menyinggung perasaan orang yang hadir.
2. Persyaratan Kesesuaian Diksi
Ada beberapa hal yang perlu diketahui setiap penulis atau pembicara dengan para hadirin atau para pembaca, diantaranya:
o Hindarilah bahasa atau unsur substandar dalam suatu situasi yang formal.
o Gunakan kata-kata ilmiah dalam situasi yang khusus saja. Dalam situasi umum hendaknya menggunakan kata-kata popular.
o Hindarilah jargon dalam tulisan untuk pembaca umum.
o Menghindari pemakaian kata-kata slang.
o Dalam penulisan, jangan menggunakan kata percakapan.
o Hindarilah ungkapan-ungkapan yang usang.
o Jauhkan kata-kata atau bahasa yang artificial.
3. Bahasa Standar dan Substandar
Bahasa standar adalah semacam dialek kelas dan dapat dibatasi sebagai tutur dari mereka yang mengenyam kehidupan ekonomis atau menduduki status sosial yang cukup dalam suatu masyarakat. Secara kasar, kelas ini dianggap sebagai kelas terpelajar.
Bahasa nonstandar adalah bahasa dari mereka yang tidak memperoleh kedudukan atau pendidikan yang tinggi. Pada dasarnya bahasa ini dipakai untuk pergaulan biasa, tidak dipakai dalm tulisan-tulisan. Bahasa nonstandar juga dapat berlaku untuk suatu wilayah yang luas dalam wilayah bahasa standar tadi.
Pilihan kata seseorang harus sesuai dengan lapisan pemakaian bahasa. Dalam suatu suasana formal, harus digunakan unsur-unsur bahasa standar, harus dijaga agar unsur-unsur nonstandar tidak boleh menyelinap masuk dalam tutur seseorang.
4. Kata Ilmiah dan Kata Populer
Kata-kata populer adalah kata-kata yang umum dipakai dalam komunikasi sehari-hari oleh seluruh lapisan masyarakat.
Kata-kata ilmiah merupakan kata-kata yang dipakai oleh kaum terpelajar, terutama dalam tulisan-tulisan ilmiah, pertemuan-pertemuan resmi, dan dalam diskusi-diskusi yang khusus.
Dengan membedakan kata-kata ilmiah dan kata-kata popular, maka setiap pengarang yang ingin menulis suatu topik tertentu harus menetapkan siapakah yang menjadi sasaran tulisannya. Bila yang menjadi sasaran adalah suatu kelompok khusus yang diikat oleh suatu bidang ilmu tertentu maka ia harus menggunakan kata-kata ilmiah. Tetapi bila yang menjadi sasarannya adalah masyarakat umum, maka kata-kata yang dipilih adalah kata-kata popular.
5. Jargon
Dalam hal ini, jargon diartikan sebagai kata-kata teknis atau rahasia dalam suatu bidang ilmu tertentu, dalam bidang seni, perdagangan, kumpulan rahasia, atau kelompok-kelompok khusus lainnya. Oleh karena itu, jargon merupakan bahasa yang khusus sekali, maka tidak akan banyak artinya bila dipakai untuk suatu sasaran yang umum.
Contoh: topi miring : minuman keras

6. Kata Percakapan
Yang dimaksud dengan kata percakapan adalah kata–kata yang biasa hidrogeniumdipakai dalam pergaulan orang-orang terdidik.
Ada banyak konstruksi yang digunakan oleh kaum terpelajar dalam kehidupan sehari-hari tapi tidak pernah dipakai dalam tulisan, bahkan dalam tulisan formal sekalipun.
7. Kata Slang
Kata slang merupakan kata-kata nonstandard yang informal yang disusun secara khas. Kata-kata slang bertolak dari keinginan agar bahasa itu lebih hidup dan asli.
Contoh : kata-kata seperti bus, oto, taksi, bom-H, tadinya adalah kata slang yang disingkat dari Vehiculum omnibus (kendaraan umum) , auto mobil, taxy cab (kereta yang disewakan), bom hidrogenium, pada suatu waktu adalah kata slang, tetapi diterima sebagai kata popular.
8. Idiom
Yang disebut idiom adalah pola-pola structural yang menyimpang dari kaidah-kaidah bahasa yang umum, biasanya berbentuk frasa, sedangkan artinya tidak bisa dijelaskan secara logis atau secara gramatikal dengan bertumpu pada maknakata-kata yang membentuknya.
Kita tidak menolak idiom, akan tetapi pengaranga manapun yang menggunakan idiom yang sudah usang, akan selalu dianggap sebagai pengarang yang usang dan kaku. Jadi, hindarilah menggunakan idiom yang sudah usang.
Contoh: Meja hijau (pengadilan)
Makan garam (berpengalaman)
9. Bahasa Artifisial
Bahasa artifisial adalah bahasa yag disusun secara seni. Bahasa artifisial tidak terkandung dalam kata yang digunakan, tetapi dalam pemakaiannnya untuk menyatakan suatu maksud. Dalam puisi atau prosa lirik memang perlu ditampilkan bahasa yang indah. Dalam bahasa umum atau bahasa ilmiah, bahasa artifisial perlu dihindari.
Contoh :
Artificial : Ia mendengar kepak sayap kelelawar dan guyuran sisa hujan dari dedaunan, karena angin pada kemuning.
Ia mendengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti, yang jauh.
Biasa : Ia mendengar bunyi sayap kelelawar dan sisa hujan yang ditiup angin
Di daun.
Ia mendengar derap kuda dan pedati ketika langit mulai terang,
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Diksi memegang peranan penting dalam mencapai efektivitas penulisan. Dalam diksi harus diperhatikan dalam membedakan antara makna konseptual atau denotatif, makan asosiatif atau makna konotatif, antara kata umum dan kata professional antara kata formal dan nonformal, antara kata standard dan nonstandard, antara kata dialek dan bahasa umum, antara kata umum dan istilah, antara kata arkhaik dan kata baru, antara kata tutur dan kata tulis, antara kata konkrit dan kata abstrak, antara kata umum dan kata khusus, antara slang, jargon dan kata formal, antara kata yang kuat berbobot dan kata lemah, antara kata tunggal dan frase, kata tunggal dan idiom, antara frase dan idiom.
Dalam diksi harus diperhatikan soal sinonim, antonim, polisemi, homonim, dan homograf, hiponimi dan hipernimi.


DAFTAR PUSTAKA


Keraf, Gorys. 1996. Diksi dan gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Parera, Jos Daniel. 1987. Belajar Mengemukakan Pendapat Edisi keempat. Jakarta: Erlangga.

ALINEA

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Bahasa Indonesia memang bahasa harian kita, sekilas gampang dan sangat mudah dipelajari. Akan tetapi sebenarnya ada banyak hal yang belum kita ketahui tentangnya, terutama dalam hal hukumnya.
Alinea merupakan salah satu hal yang sangat penting untuk kita pelajari, karena sangan berpengaruh dalam pembentukan sebuah tulisan yang menarik dan berkualitas.

B. Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud alinea?
b. Kenapa ada alinea?
c. Bagaimana struktur alinea?
d. Apa saja syarat-syarat untuk membentuk sebuah alinea?

C. Tujuan Penulisan
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas materi TPKI sekaligus sebagai bahan pembelajaran tambahan materi TPKI.


BAB II
PEMBAHASAN


A. Pengertian Alinea
Alinea bukanlah suatu pembagian secara konvensional dari suatu bab yang terdiri dari kalimat-kalimat, tetapi lebih dalam maknanya dari suatu kalimat saja. Alinea tidak lain dari suatu kesatuan pikiran, suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat. Ia merupakan himpunan dari kalimat-kalimat yang bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan. Dalam alinea itu gagasan tadi menjadi jelas oleh uraian-uraian tambahan yang maksudnya tidak lain utnuk menampilkan pokok pikiran tadi secara lebih jelas.

B. Tujuan Pembentukan Alinea
1. Memudahkan pengertian dan pemahaman dengan menceraikan suatu tema dari tema yang lain. Oleh sebab itu alinea hanya boleh mengan dung suatu tema, bila terdapat dua tema, maka dipecahkan menjadi dua alinea.
2. Memisahkan dan menegaskan perkataan secara wajar dan formal, untuk memungkinkan kita berhenti lebih lama daripada perhatian pada akhir kalimat. Dengan perhentian yang lrbih lama ini, konsentrasi terhadap tema alinea lebih terarah.

C. Macam-Macam Alinea
Berdasarkan sifat dan tujuannya alinea dapat dibedakan menjadi :
1. Alinea Pembuka
Tiap jenis karangan akan mempunya alinea yang menbuka atau menghantar karangan itu,atau menghantar pokok pikiran dalam bagian karangan itu. Sebab sifat-sifat dari alinea semacam ini harus menarika minat dan perhatian pembaca, serta sanggup menyiapkan pikiran pembaca kepada apa yang akan diuraikan. Alinea pembuka yang pendek jauh lebih baik, karena alinea-alinea yang panjang hanya akan menimbulkan kebosanan pembaca.
Alat untuk menimbulkan minat para pembaca, yang dapat digunakan dalam sebuah alinea pembuka dapat berbeda-beda pula berdasarkan jenis karangan itu sendiri. Namun ada beberapa cara yang dianjurkan, misalnya mulailah dengan sebuha kutipan, pembahasan atau anekdot, aay\tu mulailah dengan membataasi arti pokok atau subjek tersebut mewujudkan mengapa subjek tersebut sangat penting, membuat tantangan atas suatu pernyataan atau pendapat, menciptakan suatu kontras yang menarik, mengungkapkan pengalaman pribadi, baik yang menyenangkan ataupun tidak, menyatalkan maksud dan tujuan karangan tersebut, atau dapat pula membuka karangan tersebut dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
2. Alinea Penghubung
Yaitu semua alinea yang terdapat diantara alinea pembuka dan alinea penutup. Inti persoalan yang akan dikemukakan penulis terdapat dalam alinea-alinea penghubung ini, sebab itu dalam alinea ini harus diperhatikan agar hubungan antar alinea teratur, serta tersusun secara logis.
Sifat-sifat alinea penghubung tergantung pula dari jenis karangannya. Dalam karangan yang bersifat diskriptif, naratif atau argumentatif dan atau eksposisif. Alinea-alinea itu harus disusun berdasarkan suatu perkembangan yang logis. Bila uraian itu mengandung pertentangan pendapat, maka beberapa alinea disiapkan sebagai dasar atau landasan, untuk kemudian melangkah kepada alinea-alinea yang menekankan pendapat pengarang.
3. Alinea Penutup
Adalah alinea yang dimaksudkan utnuk mengahiri karangan/ bagian karangan, dengan kata lain alinea ini mengandunfg kesimpulan dari apa yang telah diuraikan dalam alinea-alinea penghubung, alinea ini merupakan pengunci yang menutup sebuah karangan. Mengunci karangan agar menimbulkan kesan yang bagus dibenak pembacanya, harus dilakukan secara berencana pula. Yang pasti alinea penutup, seperti juga alinea pembuka, tidak usa terlalu panjang, cukup sekedarnya saja. NAmun, tidak disarankan pula agar misalnya sebuah karangan secara tiba-tiba ditutup, sehingga terasakan seperti terputus di tengah jalan.

D. Pola / Struktur Alinea
1. Bersifat Deduktif
Pola alinea yang bersifat deduktif dimulai dari kalimat inti, kemuidian diikuti uraian, penjelasan, argumentasi dan sebagainya. Dimulai oleh pernyataan (yang tentunya bersifat umum). Kemuydian kalimat-kalimat berikutnya berusaha membuktikan pernyataan tadi dengan menyebutkan hal-hal khusus, atau detail-detail seperlunya. Itulah sebabnya alinea ini disebut bersifat deduktif. Dan kalau divisualisasikan, pola alinea yang bersifat deduktif itu akan terlihat seperti pada gambar 1.



2. Besifat Induktif
Pola alinea yang bersifat induktif adalah kebalikan dari pola alinea yang bersifat deduktif. Pola ini tidak dimulai dengan kalimat ini. Alinea ini dimulai dengan menyebutkan hal-hal khusus atau uraian yang merupakan anak tangga untuk mengantarkan pembaca pada gagasan pokok yang terdapat pada kalimat inti di akhir alinea. Jadi, anak-anak tangga itu tersusun untuk mencapai klimaks.
Dalam memberikan argumentasi, pola ini sering cukup efektif digunakan. Data, fakta atau uraian yang dikemukakan dalam kalimat-kalimat sebelum inti semuanya bdisiapkan untuk mengantarkan pembaca terhadap pokok soal yang hendak dinyatakan.


3. Bersifat Deduktif dan Induktif
Pola alinea ini adalah gabungan dua pola diatas, disini pada kalimat pertama (sebagai kalimat inti) gagasan pokok telah dinyatakan. Tapi, pada kalimat terakhir kembali diulang sekali lagi gagasan pokoknya.
Pola alinea ini disebut pola campuran. Karena pada awal dan akhir aline agagasan pokoknya dinyatakan.


4. Bersifat Diskriptif dan Naratif
Pola ini sangat berlainan dari tiga pola diatas. Dalam pola ini, gagasan pokok tidak terbatas hanya dalam satu kalimat saja, inti persoalannya akan didapati hamper di semua kalimat dalam alinea tersebut. Maka, kita harus membaca seluruh kalimat dalam alinea itu, baru dapat memahami gagasan yang hendak disampaikan pengarangnya. Pola alinea semacam ini terdapat dalam karangan jenis diskripsi atau narasi.
Karena alinea ini tidak menilai atau membuat pernyataan, tetapi hanya melukiskan menggambarkan keadaan obyek belaka, maka tidak ada kalimat inti yang dapat ditunjuk secara khusus. Hamper seumua kalimat mempunyai pernaan masing-masing tidak ada satu kalimatpun yang dianggap terpenting dari pada kalimat-kalimat lainnya. Seluruhnya hampir sama pentingnya, untuk memahami ini kalimat itu harus dibaca seluruh kalimatnya.


E. Syarat-Syarat Pembentukan Alinea
Seperti halnya kalimat, sebuah alinea juga harus memenuhi syarat tertentu. Alinea yang baik dan efektif harus memenuhi ketiga syarat berikut:
1) Kesatuan, maksudnya semua kalimat yang membina alinea itu secara bersama-sama menyatakan satu hal suatu hal tertentu.
2) Koherensi (kekompakan hubungan antara sebuah kalimat dengan kalimat yang lain yang membentuk alinea itu).
3) Perkembangan alinea (perkembangan alinea adalah penyusunan/ perician daripada gagasan-gagasan yang membina alinea-alinea itu)
Karena ketiganya memiliki cirri-ciri khusus, maka masing-masingnya akn teruraikan secara terperinci dalam bagian-bagian tersendiri dibawah ini.

F. Kesatuan Alinea
Fungsi tadi alinea adalah untuk mengembangkan sebuah gagasan tunggal maka tidak boleh terdapat unsure-unsur yang sama sekali tidak mempunyai pertalian dengan maksud tunggal tadi. Penyimpangan-penyimpangan dari maksud tadi hanya akan mempersulit pembaca dan titik pertemuan antara penulis dan pembaca. Penyimpangan-penyimpangan itu meliputi:
1) Pemasukan sebuah sisipan/interupsi yang jelas dalam urutan-urutan gagasan yang ada.
2) Sebuah penyimpangan secara gradual tema yang harus dibina oleh alinea itu. Yaitu setiap kalimat berikutnya semakin menyimpang dari tujuan utamanya.

G. Koherensi
Syarat kedua yang harus dipenuhi oleh sebuah alinea adalah bahwa alinea itu harus mengandung koherensi, kepaduan yang baik. Kepaduan yang baik itu terjadi apabila hubungan timbale balik antara kalimat-kalimat yang membina alinea itu baik, wajar dan mudah dipahami.
Untuk memperoleh kepaduan yang baik dan mesra antara kalimat-kalimat dalam sebuah alinea, maka harus diperhatikan persyaratan :
a) Masalah Kebahasaan
Masalah kebahasaan yang mempengaruhi koherensi sebuah alinea adalah :
1. Repitisi
Kepaduan sebuah alinea dapat diamankan dalam mengulang kata-kata kunci, yaitu kata yang dianggap penting dalam sebuah alinea. Kata kunci ini mula-mula muncul dalam kalimat pertama lalu diulang dalam kalimat-kalimat berikutnya. Kehadiran kata ini berulang-ulang dalam sebuah kalimat. Alinea yang berfungsi untuk membina koherensi semua kalimat alinea itu.
2. Kata Ganti
Kata ganti dapat berfungsi utnuk menjadi kepaduan yang baik dan teratur antara kalimat-kalimat yang mebina sebuah alinea.
3. Kata Transisi
Kata-kata transisi fungsinya terletak antara kata ganti dan repitisi bila repitisi menghendaki pengulangan kata-kata kunci dan kata ganti tidak menghendaki pengulangan sebuah kata benda, maka dalam masalah itu kata transisi ditempuh jalan tengah.
Hubungan antara gagasan-gagasan agak sulit dirumuskan. Sebab itu diperlukan bantuan dalam hal nini bantuan kata-kata atau frase transisi sebagai penghubung atau katalisator antara satu gagasan lainnya, atau antara satu kalimat dengan kalimat lain. Dengan demikian, hubungan ini bisa terjalin antara klausa dengan klausa, atau antara kalimat dengan kalimat. Bahkan dapat terjadi pula hubungan antara alinea dengan alinea.

b) Perincian Dan Urutan Isi Alinea
Maksudnya adalah bagaimana pengembangan sebuah gagasan utama dan baagimana hubungan antara gagasan-gagasan bawahan yang menunjang gagasan utama tadi. Kepaduan ini dapat dijamin dengan mengemukakan perincian isi berdasarkan urutan ruang, dimulai dari suatu sudut tertentu dan berangsur-angsur bergerat menuju sudut yang berlawanan. Ia dapat juga memperhunakan urutan waktu /urutan kronologi atau bisa pula menggunakan urutan-urutan logis, sebab akibat, umum khusus, klimaks, proses dan sebagainya.

H. Perkembangan Alinea
Perkembangan dan pengembangan alinea mencakup dua persoalan utama yaitu,
1. Kemampuan merinci secara maksimal gagasan utama alinea ke dalam gagasan-gagasan bawahan
2. Kemampuan mengurutkan gagasan-gagasan bawahan ke dalam suatu urutan yang teratur.
Adapun metode pengembangan alinea antara lain :
a. Klimaks Dan Anti Klimaks
Perkembanagn gagasan dalam sebuah alinea dapat disusun dengan mempergunakan dasar klimaks, yaitu gagasan utama yang mula-mula diperinci dengan sebuah gagasan bawahan yang dianggap paling rendah kedudukannya. Berangsur-angsur dengan gagasan lain hingga ke gagasan yang paling tinggi kedudukannya. Dengan kata lain, gagasan-gagasan bawahan disusun dengan sekian macam sehingga tiap gagasan yang berikut lebih tinggi kepentingannya dari gagasan sebelumnya.
Variasi dari klimaks adalah antiklimaks yaitu, penulis memulai dari gagasan yang dianggap paling tinggi kedudukannya kemudian perlahan-lahan menurun melalui gagasan yang lebih rendah dan semakin rendah.
b. Sudut Pandangan
Yang dimaksud sudut pandangan adalah tempat dimana seorang pengarang melihat sesuatu. Tapi, sudut pandang pandangan tidak diartikan sebagai penglihatan atas suatu barang dari atas atau dari bawah. Tetapi, bagaimana kita melihat barang itu dengan mengambil suatu posisi tertentu. Bagaimana seseorang menggambarkan isi sebuah ruang? Pertama-tama ia harus mengambil sebuah posisi tertentu, kemudian secara perlahan-lahan berurutan menggambarkan barang demi barang yang terdapat dalam ruangan tersebut, dimulai dari yang paling dekat berangsur-angsur kebelakang. Sebab itu, urutan ini juga disebut urutan ruang-ruang. Sudut pandangan atau point of view ini mempunya dua pengertian,
1. Sudut pandangan ini mencakup apakah sersoalan yang sedang dibahas dilihat dari sudut pandangan orang pertama (saya, kami, kita) atau orang ke dua (engkau, kamu, saudara) atau juga bentuk tak berorang—bentuk sudut pandangan ini sama sekali tidak ada hubungan dengan dasar pengembangan sebuah alinea. Tetapi, mencangkup konsistensi sudut pandangan dari seluruh uraian.
2. Mencakup pengertian bagaimana pandangan atau anggapan penulis terhadap subjek yang telah digarapnya itu. Sudut pandang ini membuat pengarangnya memilih nada tertentu, kata-kata dan frase tertentu. Membentuk bahan mental menjadi suatu karangan, ia membantu merumuskan meksud penulis dan membatasi pokok yang akan digarapnya.
c. Perbandingan Dan Pertentangan
Yaitu suatu cara dimana pengarang menunjukkan kesamaan / perbedaan antara dua orang objek atau gagasan dengan bertolak dari segi-segi tertentu. Kita dapat membandingkan misalnya dua tokoh pendidikan, bagaimana politik pendidikan yang dijalankannya dengan memperhatikan pola segi-segi lain untuk menerangkan gagasan sentral itu. Maksudnya untuk sampai kepada suatu penilain yang relatif mengenai ke dua tokoh tersebut. Segi-segi perbandingan dan pertentangan harus disusun sekian macam sehingga kita dapat sampai kepada gagasan sentralnya.
d. Analogi
Bila perbandingan dipertentangan memberi sejumlah ketidaksamaan dan perbedaan antar 2 hal, maka analogi merupakan perbandingan yang sistematis dari 2 hal yang berbeda tetapi dengan memperlihatkan kesamaan segi/ fungsi dari kedua hal tadi sebagai menunjukkan kesamaan-kesamaan antara 2 barang/ hal yang berlainan kelasnya. Bila seorang mengatakan: Awan dari ledakan bom atom itu, membentuk sebuah cendawan raksasa, maka perbandingan antara awan ledakan atom dan cendawan. Merupakan sebuah analogi sebab kedua hal itu sangat bebeda kelasnya, keduali kesamaan bentuknya.
e. Contoh
Sebuah gagasan yang terlalu umum sifatnya, atau generalisasi-generalisasi memerlukan ilustrasi-ilustrasi yang konkret sehingga daapt difahami oleh pmebaca. Untuk ilustrasi terhadap gagasan-gagasan atau pendapat yang umum itu maka sering dipergunakan contoh-contoh yang konkret, yang mengambil tempat dalam sbuah alinea, tetapi harus diingat bahwa sebuah contoh sama sekali tidak berfungsi untuk membuktikan pendapat seseorang. Tetapi dipakai sekedar untuk menjelaskan maksud penulis dan hal ini pengalaman-pengalaman pribadi merupakan bahan yang paling efektif untuk setiap pengarang.
f. Proses
Sebuah dasar lain yang dapat juga dipergunakan untuk menjaga agar perkembangan sebuah alinea dapat disusun secara teratur adalah proses. Proses merupakan suatu urutan dari suatu kejadian/ peristiwa.
Dalam menyusun sebuah proses diperlukan hal-hal sebagai berikut:
- Penulis harus mengetahui perincian-perincian secara menyeluruh
- Penulis harus membagi proses tersebut atas tahap-tahap kejadiannya, bila tahap-tahap kejadian ini berlangsung dalam waktu-waktu yang berlainan, maka penulis harus memisahkan dan mengurutkannya secara kronologis
- Penulis harus menjelaskan tiap tahap dalam detail yang cukup tegas sehingga pembacaan dapat melihat seluruh proses itu dengan jelas.
Sehigga proses itu menyangkut jawaban atas pertanyaan-pertanyaan bagaimana mengerjakan hal itu? Bagaimana bekerjanya? Bagaimana barang itu disusun? Bagaimana hal itu terjadi?.
g. Sebab-Akibat
Perkembangan sebuah alinea dapat juga pula dinyatakan dengan mempergunakan sebab-akibat sebagai dasar, dan hal ini sebab bisa bertindak sebagai gagasan utama, sedangkan akibat sebagai perincian pengembangannya. Tetapi daapt juga dibalik akibat dijadikan gagasan utama sedangkan untuk memahami sepenuhnya akibat itu perlu dikemukakan sejumlah sebab sebagai perinciaanya.
Persoalannya sebab akibat sebenarnya sangat dekat hubungannya dengan proses, bila proses itu dipecah-pecahkan untuk mencari hubungan antara bagian-bagianya, maka proses itu dapat dinamakan proses kausal/ proses sebab akibat
Sebuah variasi dari sebab akibat ini adalah pemecahan masalah, pemecahan maslah yang bertolak dari hubungan kausal, tetapi tidak berhenti disitu saja, ia masih berjalan lebih lanjut menunjukkan jalan-jalan keluar untuk menjauhkan sebab-sebab tersebut atau menjauhkan akibat yang dihasilkan oleh sebab-sebab.
h. Umum-Khusus Dan Khusus-Umum
Kedua cara ini, yaitu umum-khusus dan khusus-umum cara ini merupakan cara yang paling umum untuk mengembangkan gagasan-gagasan dalam sebuah alinea secara teratu. Dalam hal yang pertama gagasan utamanya di tempatkan pada awal alinwa, serta pengkhususan atau perincian-perincianya terdapat dalam kalimat berikutnya, sebaliknya dalam hal yang kedua mula-muladikemukakan perincianya, kemudian pada akhir alinea generalisasinya. Jadi yang satu bersifat deduktif, sedangkan lainnya bersifat induktif.
Sebuah variasi dalam kedua jenis alinea itu adalah semacam penggabungan. Yaitu pada awal alinea terdapat gagasan utamanya ( jadi bersifat umum-khusus). Tetapi pada akhir alinea gagasan utama tadi diulang sekali lagi ( jadi bersifat khusu-umum ).
i. Klasifikasi
Yang dimaksud dengna klasifikasi adalah sebuah proses untuk mengelompkkan barang-barang yang dianggap mempunyai kesamaan-kesamaan tertentu. Sebab itu klasifikasi bekerja kedua arah yang berlawanan.yaitu pertama, mempersatukan satuan-satuan kedalam kelompok, dan kedua, memisahkan kesatuan tadi dari kelompok yang lain. Dengan demikian klasifikasi mempunyai persamaan-persamaan tertentu baik dengan pertentangan dan perbandingan maupun dengan umum-khusus dan khusus-umum
j. Definisi luas
Yang dimaksud definisi dalam pembentukan sebuah alinea adalah usaha pengarang untuk memberikan keterangan atau arti terhadap sebuah istilah atau hal. Disini kita tidak menghadapi hanya satu kalimat ( lihat definisi dalam baggian tentang kalimat), tetapi suatu rangkaian kalimat yag membentuk sebuah alinea. Malahan kadang-kadang untuk memberi pengertian yang bulat tentang pengertian itu, satu alinea dianggap belum cukup, sehingga diperlukan rangkaian dari pada alinea-alinea. Malahan dapat pulan dalam bentuk sebuah buku. Namun prinsip-prinsip definisi tetap sama. Di sini kita lebih sering menghadapi sebuah definisi luas daripada definisi formal biasa, atau definisi dengan menerapkan etimmologi kata atau istilah tersebut.
Cara apapun yang dipergunakan untuk memperoloh kebulatan alinwa, prinsip kesatuan ide, perpaduan ( koherensi ) dan perkembangan yang baik tidak boleh dilanggar begitu saja. Pelanggaran atas prinsip-prinsip tersebut mengakibatkan tergangunya konsentrasi atas ide sentralnya.
k. Perkembangan Dan Kepaduan Antar Alinea
Kesatuan-kesatuan yang kita sebut alinea ini tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan suatu unsur yang kecil dalam sebuah unit yang lebih besar, entah berupa bab maupun untu yang berupa sebuah karangan yang lengkap. Karena alinea merupakan unit yang lebih kecil, maka harus dijaga agar hubungan antara alinwa yang satu dengan alinea yang lain, yang bersama-sama membentuk unit yang lebih besar itu terjalin dengan baik.
Tiap tulisan yang baik selalu akan berlolak dari sebuah tesis karya ilmiah. Tesis itulah yang dikembangkan dalam alinea-alinea yang mempunyai pertaliann yang jelas, baik pertalian dalam perkembangan gagasan maupun perpaduan alinea-alineanya. Karena hubungan yang jelas itulah pembaca dapat mengikuti uraian itu dengan jelas dan mudah.
Seperti halnya dengan alinea, maka perpaduan antara alinea dapat juga dijamin dengan cara-cara seperti yang telah digunakan dalam sebuah alinea yaitu: repitisi yang dinamakan anafora. Anafora adalah perulangan kata yang sama pada kalimat yang berurutan atau dalam hal ini juga pada awal alinea yang berurutan. Disamping kata-kata kunci bisa dipergunakan kata ganti.

BAB III
PENUTUP


Alinea tidak lain dari suatu kesatuan pikiran, suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat.
Alinea bertujuan untuk memudahkan pengertian dan pemahaman dengan menceraikan suatu tema dari tema yang lain serta memisahkan dan menegaskan perkataan secara wajar dan formal
Alinea memiliki tiga macam yaitu, alinea pembuka, alinea penghubung dan alinea penutup.
Alinea ada yang bersifat deduktif, besifat induktif, bersifat deduktif dan induktif, serta bersifat diskriptif dan naratif.
Syarat pembentukan alinea adalah kesatuan, koherensi dan perkembangan alinea.

DAFTAR PUSTAKA

Ambary, Drs. Abdullah.Tanpa Tahun.Intisari Tatabahasa Indonesia, Untuk SMTP.Bandung : Djatnika Bandung.
Agustin, Risa, S.Pd. 2008. Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan. Surabaya: SERBA JAYA.

Yahya, islachuddin. 2007. teknik penulisan karangan ilmiah. surabaya: surya jaya raya.

EJAAN YANG DISEMPURNAKAN (EYD)

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Adalah suatu kesalahan besar jika kita menganggap bahwa persoalan dalam pemilihan kata adalah suatu persoalan yang sederhana, tidak perlu dibicarakan atau dipelajari karena akan terjadi dengan sendirinya secara wajar pada diri manusia. Dalam kehidupan sehari-hari sering kali kita menjumpai orang-orang yang sangat sulit mengungkapkan maksud atau segala sesuatu yang ada dalam pikirannya dan sedikit sekali variasi bahasanya. Kita pun juga menjumpai orang-orang yang boros sekali dalam memakai perbendaharaan katanya, namun tidak memiliki makna yang begitu berarti. Oleh karena itu agar tidak terseret ke dalam dua hal tersebut, kita harus mengetahui betapa pentingnya peranan kata dalam kehidupan sehari-hari.
Pengertian yang tersirat dalam sebuah kata mengandung makna bahwa setiap kata mengungkapkan sebuah gagasan. Kata-kata merupakan alat penyalur gagasan yang akan disampaikan kepada orang lain. Jika kita sadar akan hal itu, berarti semakin banyak kata yang kita kuasai, semakin banyak pula ide atau gagasan yang kita kuasai dan sanggup kita ungkapkan.
Tujuan manusia berkomunikasi lewat bahasa adalah agar saling memahami antara pembicara dan pendengar, atau antara penulis dan pembaca. Dalam berkomunikasi, kata-kata disatu-padukan dalam suatu konstruksi yang lebih besar berdasarkan kaidah-kaidah sintaksis yang ada dalam suatu bahasa. Dalam hal ini, pemilihan kata yang tepat menjadi salah satu faktor penentu dalam komunikasi.
Pemilihan kata merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam hal tulis-menulis maupun berbicara dalam kehidupan sehari-hari. Pemilihan kata berhubungan erat dengan kaidah sintaksis, kaidah makna, kaidah hubungan sosial, dan kaidah mengarang. Kaidah-kaidah ini saling mendukung sehingga tulisan atau apa yang kita bicarakan menjadi lebih berbobot dan bernilai serta lebih mudah dipahami dan dimengerti oleh orang lain.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang makalah ini, permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1. Apakah pengertian dari EYD (Ejaan Yang Disempurnakan)?
2. Apa fungsi utama penggunaan EYD dalam Bahasa Indonesia?

C. Tujuan Penulisan
Agar para pembaca dapat lebih mengerti dan memahami penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan dalam Tata Bahasa Indonesia.


BAB II
PEMBAHASAN


I. Pemakaian Huruf
A. Huruf Abjad
Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas huruf yang berikut. Nama tiap huruf disertakan di sebelahnya.
Huruf Nama Huruf Nama Huruf Nama
A a a J j je S s es
B b be K k ka T t te
C c ce L l el U u u
D d de M m em V v ve
E e e N n en W w we
F f ef O o o X x eks
G g g P p pe Y y ye
H h h Q q ki Z z zet
I i i R r Er

B. Huruf Vokal
Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf a, i, u, e, dan o.
Huruf Vokal Contoh Pemakaian dalam Kata
di Awal di Tengah di Akhir
a adik pamit bursa
i ini minyak Arti
u udang bulan Itu
e* enak perak sore
elang kembali tipe
o oleh kota radio

* Dalam pengajaran lafal kata, dapat digunakan tanda aksen jika ejaan kata menimbulkan keraguan.
Contoh:
Anak-anak bermain di teras (téras).
Sidang itu dihadiri oleh pejabat teras pemerintah.
Kami menonton film seri (séri).
Pertandingan itu berakhir seri.
C. Huruf Konsonan
Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf-huruf:
Huruf Konsonan Contoh Pemakaian dalam Kata
di awal di tengah di akhir
B bentuk Abdi Adab
C cinta Macam -
D daun Andil Abad
F fana kafilah Khilaf
G garam Agung Balig
H hasil Mahal Sawah
J jatuh Haji Makhraj
K kasih Nikmat Politik
Rakyat* Tidak*
L lama Malam Amal
M minyak Sampah Ayam
N nama Anda Aman
P pasti Api Asap
Q** quran Furqan -
R rasa warna Mawar
S siswa Besi Manis
T tali Hati Pahat
V variasi Larva -
W wasiat Awan -
X** xenon - -
Y yaitu Bayi -
Z ziarah Jazirah Juz

* huruf k di sini melambangkan bunyi hamzah.
** khusus untuk nama dan keperluan ilmu.
D. Huruf Diftong
Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan ai, au, dan oi.
Huruf Diftong Contoh pemakaian dalam kata
Di awal Di tengah Di akhir
Ai Ain syaitan pandai
Au Aula saudara harimau
Oi - boikat amboi
E. Gabungan Huruf Konsonan
Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang melambangkan konsonan, yaitu kh, ng, ny, dan sy. Masing-masing melambangkan satu bunyi konsonan.
Gabungan Huruf Konsonan Contoh Pemakaian dalam kata
Di awal Di tengah Di Akhir
Kh Khusus akhir tarikh
Ny Nyata hanyut -
Sy Syarat isyarat -
Ng Ngilu bangun senang

Dalam hal ini serimg kita jumpai persamaan dalam melafalkan huruf antara negara satu dengan yang lainya,persamaan ini disebabkan adanya sebuah kesepakatan diantara negara-negara yang ada,di tambah lagi adanya bahasa internasional yang pasti membuat persamaan lafal dalam pengucapan semakin terbiasa.
F. Pemenggalan Kata
1. Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut:
a. Jika di tengah kata ada vokal yang berurutan, pemenggalan itu dilakukan di antara kedua huruf vokal itu.
Contoh: ma-af, la-in, ni-at.
Huruf diftong ai,au,oi tidak pernah diceraikan sehingga pemenggalan kata tidak dilakukan di antara kedua huruf vokal itu.
Contoh:
Au-la bukan a-u-la
Am-boi bukan am-bo-i
b. Jika di tengah kata ada huruf konsonan, termasuk gabungan huruf konsonan, di antara dua buah huruf vokal, pemenggalan dilakukan sebelum huruf konsonan.
Contoh:
Le-wat, me-rah, ba-yam, mu-ta-khir, de-la-pan.
c. Jika di tengah kata ada dua huruf konsonan yang berurutan, pemenggalan dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu. Gabungan huruf konsonan tidak pernah diceraikan.
Contoh:
Sam-bal, ber-sih, pas-ti, war-ga.
d. Jika di tengah kata ada tiga buah huruf konsonan atau lebih, pemenggalan dilakukan diantara huruf konsonan yang pertama dan huruf konsonan yang kedua.
Contoh:
Bang-krut, ikh-las, ul-tra.
2. Imbuhan akhiran dan imbuhan awalan, termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk serta partikel yang biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya, dapat dipenggal pada pergantian baris.
Contoh:
Mem-beri-kan, men-caci, mem-beli.
Catatan:
a. bentuk dasar pada kata turunan sedapat-dapatnya tidak dipenggal.
b. Akhiran –i tidak dipenggal.
c. Pada kata yang berimbuhan sisipan, pemenggalan kata dilakukan sebagai berikut
Contoh: te-lun-juk, si-nam-bung, ge-ri-gi.
3. Jika suatu kata terdiri atas lebih dari satu unsur dan salah satu unsur itu dapat bergabung dengan unsure lain, pemenggalan dapat dilakukan (1) di antara unsur-unsur ituatau (2) pada unsur gabungan itu sesuai dengan kaedah 1a, 1b, 1c, 1d, di atas.
Contoh:
mili-meter, mi-li-me-ter
intro-speksi, in-tro-spek-si
bio-grafi, bi-o-gra-fi
Keterangan:
Nama orang, badan hukum, dan nama diri yang laindisesuaikan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan kecuali jika ada pertimbangan khusus.


II. Pemakaian Huruf Kapital dan Huruf Miring
A. Huruf Kapital atau Huruf Besar
1. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.
Contoh:
Ayahku pergi ke kantor.
Dia selalu menunggu temannya yang terlambat.
Bagaimana kabarnya?
2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Contoh:
Aji bertanya, “Dari mana kamu?”
“Aku dari rumah temanku,” jawab Tika.
3. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci,termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Contoh:
Allah, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang.
Quran, Injil, Islam, Kristen.
Semoga Tuhan selalu melimpahkan rahmat-Nya.
Dialah Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
4. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Contoh:
Panglima Sudirman, Sultan Hasanuddin, Nabi Muhammad, Imam Syafi’i.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.
Contoh:
Ia baru saja di angkat menjadi panglima.
5. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nam orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
Contoh:
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Gubernur Jawa Tengah, Wakil Presiden Yusuf Kalla.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, atau nama tempat.
Contoh:
Siapakah presiden yang baru dilantik kemarin?
6. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.
Contoh:
Meiko Fairuzia Adriani, Muhammad Faisal Adrianto, Agnes Monica.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.
Contoh:
5 newton, 220 volt.
7. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
Contoh:
suku Jawa, bangsa Indonesia, bahasa Indonesia.
Huruf capital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan.
Contoh:
Mengindonesiakan kata asing.
8. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.
Contoh:
tahun Masehi, hari Jum’at, hari Lebaran, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama.
Contoh:
Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsanya
9. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.
Contoh:
Jawa Tengah, Surabaya, Selat Sunda, Jazirah Arab, Dataran Tinggi Dieng.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri.
Contoh:
Menyeberangi selat, pergi ke arah barat.
10. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata seperti dan.
Contoh:
Republik Rakyat China, Dewan Perwakilan Daerah, Departemen Kesehatan.
Hururf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi Negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi.
Contoh:
Menjadi sebuah republik, menurut undang-undang yang berlaku.
11. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, aerta dokumen resmi.
Contoh:
Perserikatan Bangsa-Bangsa, Undang-Undang Dasar.
12. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
Saya sudah membaca majalah Bahasa dan Sastra.
Ia menyelesaikan makalah “Sejarah Islam Zaman Pertengahan”.
13. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.
Contoh:
S.Pd. sarjana pendidikan
S.H. sarjana hokum
S.Ag. sarjana agama
14. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan.
Contoh:
“Kapan Ibu pergi ke pasar?” tanya Meiko.
Para siswa mengunjungi Pak Hasan.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai dalam pengacuan atau penyapaan.
Contoh:
Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
15. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.
Anda harus angkat kaki dari rumah ini. Rumah Anda telah kami sita.
Apakah Anda sudah tahu?

B. Huruf Miring
1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku,majalah,dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
Majalah Bahasa dan Kesusastraan,buku Negara-kertagama karangan Prapanca,surat kabar Suara Karya.
2. Huruf miring dalam cetakan dipakai dalam menegaskan atau mengkhususkan huruf,bagian kata,kata,atau kelompok kata.
Misalnya:
Huruf pertama kata abad ialah a.
Dia bukan menipu, tetapi ditipu.
Bab ini tidak membicarakan penulisan huruf kapital.
Buatlah kalimat dengan berlepas tangan.
3. Huruf miring dan cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.
Misalnya:
Nama ilmiah buah manggis ialah Garcinia mangostana.
Politik devite et impera pernah merajalela di negeri ini.
III. Penulisan Kata
A. Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu-kesatuan.
Contoh:
Ibu percaya bahwa engkau tahu.
Kantor pajak penuh sesak.
Buku itu sangat tebal.
B. Kata turunan
1. Imbuhan (awalan,sisipan,akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Contoh:bergeletar,dikelola,penatapan,menengok,mempermainkan.
2. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata,awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.
Misalnya:
bertepuk tangan,garis bawahi,menganak sungai,sebar luaskan.
3. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus,unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya: menggarisbawahi,menyebarluaskan,dilipatgandakan,penghancurleburan.
4. Jika salah satu unsure gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi,gabungan kata itu ditulis serangkai.
Contoh: antarkota,dasawarsa,adipati,audiogram,ekstrakurikuler,elektroteknik,introspeksi,semipropesional,dan lain-lain.
C. Gabungan Kata
1) Gabungan kata yang lazim disebut kata majemu,termasuk istilah khusus,unsure-unsurnya ditulis terpisah.
Misalnya: duta besar,kambing hitam,orang tua,rumah sakit umum.
2) Gabungan kata,termasuk istilah khusus,yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian di antara unsure yang bersangkutan.
Misalnya:
Alat pandang-dengar,anak-istri saya,buku sejarah-baru,mesin-hitung tangan.
3) Gabungan kata berikut ditulis serangkai.
Misalnya: acapkali, adakalanya, belasungkawa, halalbihalal, titimangsa, saptamarga, radioaktif.
D. Kata Ganti –ku, kau, -mu, -nya
Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya;-ku, -mu, dan –nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Contoh:
Apa yang kumiliki boleh kauambil.
Bukuku, bukumu dan bukunya tersimpan di perpustakaan.
E. Kata Depan di, ke, dari
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebgai satu kata seperti kepada dan daripada.
Misalnya:
Kain itu terletak di dalam lemari
Kesampingkan saja persoalan yang tidak penting itu.
Ia datang dari Surabaya kemarin.
Kita perlu berpikir sepuluh tahun ke depan.
Ke mana saja Hadlor selama ini?
F. Kata si dan sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya:
Harimau itu marah sekali kepada sang Kancil.
Surat itu dikirimkan kembali kepada si pengirim.
G. Partikel
a. Partikel –lah, -kah, dan –tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Siapakah gerangan Dia?
Apakah yang tersirat dalam surat itu?
Apalah gunanya bersedih hati?
b. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Jangankan dua kali,satu kali pun engkau belum pernah datang ke rumahku.
Apa pun yang dimakannya,ia tetap kurus.
Catatan: kelompok yang lazim dianggap padu,misalnya adapun, andaipun, bagaimanapun, biarpun, sekalipun, walaupun, kalaupun, kendatipun, sungguhpun ditulis serangkai.

Misalnya:
Adapun sebab-sebabnya belum diketahui.
Bagaimanapun juga akan dicobanya menyelesaikan tugas itu.
c. Partikel per yang berarti ‘mulai’, ‘demi’, dan ‘tiap’ ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahuluinya atau mengikutinya.
Misalnya:
Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 April.
Harga kain itu Rp.2.000,00 per helai.
Mereka masuk ke dalam kelas satu per satu.
H. Singkatan dan Akronim
1. Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.
a. Singkatan nama orang,nama gelar,sapaan,jabatan,atau pangkat diikuti dengan tanda titik.
A.S. Kramawijaya , Muh. Yamin , Suman Hs. , Sukanto S.A.
M.Sc. master of science
Sdr. Saudara
S.Kar. sarjana Karawitan
Kol. Colonel
b. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf capital dan tidak diikuti dengan tanda titik.
DPR Dewan Perwakilan Rakyat
SMTP Sekolah Menengah Tengah Pertama
c. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.
dll. dan lain-lain
sda. sama dengan atas
dst. dan seterusnya

Tetapi:
a.n. atas nama
u.b. untuk beliau
d.a. dengan alamat
d. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran,takaran,timbangan,dan mata uang tidak diikuti tanda titik.
Cu kuprum
kVA kilovolt-ampere
TNT trinitrotoluen
2. Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.
I. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.
IAIN Institut Agama Islam Negeri
SIM Surat Izin Mengemudi
II. Akronim nama diiri yang berupa gabungan suku kata atau huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.
Iwapi Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia.
Sespa Sekolah Staf Pimpinan Administrasi.
III. Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf,suku kata,ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.
pemilu pemilihan umum
rudal peluru kendali
I. Angka dan Lambang Bilangan
• Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor.
Angka Romawi: I,II,III,IV,….
Angka Arab: 0,1,2,3,4,5,…
• Angka yang digunakan untuk menyatakan ukuran panjang, berat, isi, satuan waktu, dan nilai barang.
11 meter persegi
Rp. 10.000,00
• Angka lazim untuk menandai nomor jalan,rumah,apartemen atau kamar pada alamat.
Jalan Pemuda No. 104 Surabaya
Hotel Sheraton, kamar 30
• Angka yang digunakan juga untuk menomori karangan atau bagiannya.
Bab VI, pasal 20, halaman 35
Surat Al-Ikhlas : 2
• Penulisan lambang bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut:
a. Bilangan utuh
27 dua puluh tujuh
b. Bilangan pecahan
100% seratus persen
• Penulisan kata bilangan tingkat.
Tingkat III
Tingkat ke-3
Tingkat ketiga
• Penulisan kata bilangan yang mendapat akhiran –an.
Tahun 1000-an atau tahun seribuan.

IV. Penulisan Unsur Serapan
Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari berbagai bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing. Berdasrka taraf integrasinya, unsure pinjamam dalam bahasa Indonesia dapat di bagi atas dua golongan besar. Pertama. unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti shuttle cock, reshuffle. Unsur-unsur tersebut di pakai dalam konteks bahasa Indonesia tetapi pengucapannya Masih mengikuti cara asing. Kedua, unsur pinjaman yamg penulisan dan pengucapannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan agar ejaannya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.

V. Pemakaian Tanda Baca
A. Tanda Titik
Tanda titik dipakai pada atau untuk:
a. akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Contoh :
Roni membaca buku ceita.
Dia menanyakan siapa yang duduk disana.
b. di belakang angka atau huruf dalam suatu bagian.
Misalnya :
a. III. Departemen Dalam Negeri
A. Direktorat Jenderal
Pembangunan
Masyarakat Desa
c. memisahkan angka jam, menit dan detik yang menunjukkan jangka waktu maupun jangka waktu.
Contoh : Pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik).
d. memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.
Ia lahir pada tahun 1965 di Bandung.
Lihat halaman 2345 dan seterusnya.
e. Tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan,tabel dan seterusnya.
Contoh : Acara Kunjungan Adam Malik
(Bab I UUD’45)
f. Tidak dipakai dibelakang (1) alamat pengirim dan tanggal surat atau (2) nama dan alamat penerima surat.
B. Tanda Koma
a) Tanda koma dipakai diantara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilang.
Ibu membeli buah, sayur, dan telur
b) Dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi, melainkan.
Andi tidak pergi ke Surabaya, tetapi ke Jakarta.
c) Memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika mendahuluinya.
Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.
d) Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antar kalimat yang terdapat pada awal kalimat, termasuk didalamnya oleh karena itu,meskipun begitu, jadi, akan tetapi.
Jadi, kita harus datang tepat waktu.
e) Dipakai di belakang kata-kata seperti wah, aduh, kasihan, yang terdapat pada awal kalimat.
Wah, makanan ini enak sekali!
O, jadi begitu caranya?
f) Untuk memisahkan petikan dari bagian lain kalimat.
“jangan malas belajar!”, seru Pak Guru.
g) Dipakai diantara alamat,tempat dan tanggal,nama tempat wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Surabaya, 8 Nopember 2008.
h) Untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
i) Tanda koma dipakai diantara bagian-bagian dari catatan kaki.
j) Dipakai untuk mengapit keterangan tambahan dan keterangan aposisi.
k) Dapat dipakai untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.
l) Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian yang lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.
“Di mana Saudara tinggal?” tanya Karim.
“Berdiri lurus-lurus!” perintahnya.
C. Tanda Titik Koma (;)
1. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Malam makin larut; pekerjaan belum selesai juga.
2. Dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat setara dalam kalimat majemuk.
Ayah mengurus tanamannya di kebun itu;Ibu sibuk bekerja di dapur;Saya sendiri asyik mendengarkan siaran “Pilihan Pendengar”.
D. Tanda Titik Dua (:)
Tanda titik dua dipakai untuk :
 Pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian.
Ayah membeli bahan bangunan seperti : pasir, batu bata, semen, kayu, dan lain-lain.
 Sesudah ungkapan atau kata yang memerlukan pemerian.
Contoh:
1. Ketua : M.Hadlor
Sekretaris : Shinta Hamidah
 Dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Ibu : “Kapan kamu pergi ke Jakarta?”
Doni : “mungkin minggu depan Bu”
 Tidak dipakai kalau rangkaian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.
 Dipakai diantara jilid atau nomor dan halaman,diantara bab dan ayat dalam kitab.
Surat Al-Baqarah : 27


E. Tanda Hubung (-)
 Untuk menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris.
 Menyambung awalan dengan bagian kata akhiran dan depannya pada pergantian baris.
 Menyambung unsur-unsur kata ulang.
 Menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.
 Memperjelas hubungan bagian-bagian ungkapan.
 Untuk merangakaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.
F. Tanda Pisah
o Untuk menyatakan suatu pikiran tambahan.
o Memperluas rangkaian bagian kalimat, sehingga menjadi lebih jelas.
o Dipakai diantara dua nilangan berarti ‘sampai dengan’ sedangkan bila dipakai antara dua tempat atau kota berarti ke atau sampai.
o Menyatakan suatu ringkasan atau gelar.
G. Tanda Elipsis (…)
 Untuk menyatakan ujaran yang terputus-putus
 Menyatakan ada bagian yang dihilangkan dalam suatu kutipan
 Digunakan pada akhir kalimat karena menghilangkan bagian tertentu sesudah kalimat itu berakhir.
 Untuk meminta kepada pembaca mengisi sendiri kelanjutan dari sebuah kalimat.
H. Tanda Tanya
 Dipakai pada akhir kalimat tanya
 Dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya
I. Tanda Seru
Tanda seru dipakai sesudah ungkapan yang berupa seruan atau erintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat.
J. Tanda Kurung
o Dipakai untuk mengapit tambahan penjelasan.
o Untuk mengapit penjelasan yang bukan bagian pokok pembicaraan.
o Mengapit huruf atau kata yang didalam kata dapat dihilangkan.
o Mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan.
K. Tanda Kurung Siku
Untuk mengapit huruf, kata, kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan bagi orang lain, serta mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.
L. Tanda Petik
1) Tanda petik untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaran dan naskah atau bahan tertulis lain.
2) Mengapit judul syair, karangan atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.
3) Mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
4) Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
5) Ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang diartikan khusus pada bagian kalimat.
M. Tanda Petik Tunggal
a) Untuk mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
b) Tanda petik tunggal digunakan untuk mengapit makna,terjemahan,atau penjelasan kata atau ungkapan asing.
N. Tanda garis miring
a) Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.
b) Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau dan tiap.
O. Tanda penyingkat atau apostrof
Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata bagian angka tahun.
Dia t’lah pergi dari kehidupanku. (t’lah = telah)

Dari semua penjelasan di atas pemakaian EYD amatlah penting dalam semua karya tulis,karena semua hal yang behubungan dengan tulisan pasti menggunakan aturan ini baik resmi maupun tidak resmi,secara tiadk langsung dengan adanya pemakaian EYD dengan benar akan memberi pengajaran pada orang awam yang kurang tau tentang aturan dalam tulis menulis.

BAB III
PENUTUP


A. KESIMPULAN
EYD (Ejaan yang Disempurnakan) adalah tata bahasa dalam Bahasa Indonesia yang mengatur penggunaan bahasa Indonesia dalam tulisan, mulai dari pemakaian dan penulisan huruf capital dan huruf miring, serta penulisan unsur serapan.
EYD disini diartikan sebagai tata bahasa yang disempurnakan. Dalam penulisan karya ilmiah perlu adanya aturan tata bahasa yang menyempurnakan sebuah karya tulis. Karena dalam sebuah karya tulis memerlukan tingkat kesempurnaan yang mendetail.
Singkatnya EYD digunakan untuk membuat tulisan dengan cara yang baik dan benar.

B. SARAN
Sudah selayaknya kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia dapat menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar khususnya dalam bahasa tulis. Dengan adanya penjabaran tentang pamakaian EYD diharapkan para pembaca dapat memahami dan menerapkan penggunaan EYD dalam pembuatan suatu karya tulis.Dan semoga penjabaran ini dapat bermanfaat bagi kita semua.










DAFTAR PUSTAKA





Agustin, Risa, S.Pd. 2008. Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan. Surabaya: SERBA JAYA.

Cisca. 2008. Ejaan yang Disempurnakan. Yogyakarta: Widyatama.

About Me