Loading...

Saturday, June 12, 2010

MENITIP HARAPAN LEWAT TUMPENG


(for my beloved, LPBA)
Tadi sore (01/06), sekitar jam 4an, saya ada acara laporan pertanggung jawaban panitia seminar internasional Lembaga Pengembangan Bahasa Asing (LPBA) IAIN Sunan Ampel di samping masjid Ulul Albab alias masjid IAIN.
Setelah menunggu beberapa saat, acara LPJpun dimulai, diawali oleh laporan ketua panitia, Mas Anam, sekretaris panitia, mbak Dewi, dan bendahara panitia, mbak Elmina dan sedikit tanya jawab. Setelah agenda utama selesai, lalu acara dilanjutkan dengan makan tumpeng. Acara makan tumpeng ini berlangsung begitu khidmat, disertai canda tawa dan jeprat-jepret kamera.
Acara ini memberikan sedikit pertanyaan dalam benak saya—sebenarnya pertanyaan ini sudah muncul ketika rapat dulu, saat teman-teman memutuskan untuk memakai tumpeng dalam acara syukuran ini. Kenapa harus tumpeng? Bukannya lebih enak makan soto ayam, sate kambing atau apalah yang lebih menggiurkan dan lebih lezat dan “elit” tentunya?
Kalau menurut mbak Istiqamah, sang ketua umum LPBA, kita milih tumpeng karena itu akan mempererat kebersamaan temen, kan makannya jamaah di satu talam? Terus itu juga melambangkan kesederhanaan (untuk kalimat terakhir ini, saya lupa apa dari mbak Iis—pangginal mbak istiqamah—atau bukan).
Sebenarnya jawaban ini sudah menjawab pertanyaan saya tadi, tapi kemudian saya menjadi penasaran tentang tumpeng, apa sih sebenarnya tumpeng itu? akhirnya sayapun tanya ke om Google, dan ces! Saya agak terkejut karena begitu banyak hasil yang muncul, dan yang paling menarik mata saya adalah sebuah judul posting berjudul “FILOSOFI TUMPENG” (lihat http://blog.unnes.ac.id)--ternyata ada filosofinya juga..? J.
Setelah mengunduh dan membolak-baliknya, tenryata tumpeng itu memiliki banyak makna. Bentuknya yang seperti kerucut menandakan hal yang tinggi, artinya kita berharap agar hidup kita bisa tinggi, bisa sukses. Lalu warnanya yang putih—karena tumpeng yang kita pake terbuat dari nasi putih—bermakna kesucian. Kita berharap jiwa dan raga kita selalu bisa menjadi putih bersih. Dan lauk pauknya, seperti kacang panjang,menandakan harapan agar umur kita panjang dan bermanfaat,lalu ikat bandeng menandakan agar rizki kita banyak seperti halnya tulang-tulang ikan bandeng yang begitu banyak, dan telur ayam yang menandakan keterstrukturan, dari kulit, putih telur, lalu kuning telur.
Makna-makna diatas kemudian menjadi harapan saya terhadap LPBA, sebagai salah satu “murid” yang mencari pengalaman dan ilmu di LPBA. Saya berharap agar LPBA bisa seperti tumpeng, yang bisa menjulang tinggi, memiliki prestasi dan pretise yang tinggi dalam pembangunan IAIN Sunan Ampel Surabaya kedepan, khususnya dalam bidang kebahasaan. Saya juga berharap agar LPBA bisa seperti tumpeng yang putih, memiliki kesucian jiwa dan raga, dan bisa menyucikan mereka yang tak suci. Dan juga, seperti kacang panjang, bisa eksis sepanjang masa dalam membangun skill kebahasaan mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya dan seperti telur yang terstrukturr, tidak amburadul dan ngalur ngidul, memiliki tata aturan dan permainan yang jelas dan terorganisir.
Surabaya, Kamar Lanceng Soengenep, 01 Juni 2010, at 19.35

4 comments:

  1. Thanks you for share and interesting ..


    ST3 Telkom

    ReplyDelete
  2. artikel anda sangat menarik,terimakasih..

    ST3 Telkom

    ReplyDelete
  3. Thanks for your post really helped me awaited other stuff ..



    ST3 Telkom

    ReplyDelete
  4. I'm really enjoying the design and layout of your website.
    Qassim & QU

    ReplyDelete