Loading...

Saturday, April 10, 2010

EJAAN YANG DISEMPURNAKAN (EYD)

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Adalah suatu kesalahan besar jika kita menganggap bahwa persoalan dalam pemilihan kata adalah suatu persoalan yang sederhana, tidak perlu dibicarakan atau dipelajari karena akan terjadi dengan sendirinya secara wajar pada diri manusia. Dalam kehidupan sehari-hari sering kali kita menjumpai orang-orang yang sangat sulit mengungkapkan maksud atau segala sesuatu yang ada dalam pikirannya dan sedikit sekali variasi bahasanya. Kita pun juga menjumpai orang-orang yang boros sekali dalam memakai perbendaharaan katanya, namun tidak memiliki makna yang begitu berarti. Oleh karena itu agar tidak terseret ke dalam dua hal tersebut, kita harus mengetahui betapa pentingnya peranan kata dalam kehidupan sehari-hari.
Pengertian yang tersirat dalam sebuah kata mengandung makna bahwa setiap kata mengungkapkan sebuah gagasan. Kata-kata merupakan alat penyalur gagasan yang akan disampaikan kepada orang lain. Jika kita sadar akan hal itu, berarti semakin banyak kata yang kita kuasai, semakin banyak pula ide atau gagasan yang kita kuasai dan sanggup kita ungkapkan.
Tujuan manusia berkomunikasi lewat bahasa adalah agar saling memahami antara pembicara dan pendengar, atau antara penulis dan pembaca. Dalam berkomunikasi, kata-kata disatu-padukan dalam suatu konstruksi yang lebih besar berdasarkan kaidah-kaidah sintaksis yang ada dalam suatu bahasa. Dalam hal ini, pemilihan kata yang tepat menjadi salah satu faktor penentu dalam komunikasi.
Pemilihan kata merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam hal tulis-menulis maupun berbicara dalam kehidupan sehari-hari. Pemilihan kata berhubungan erat dengan kaidah sintaksis, kaidah makna, kaidah hubungan sosial, dan kaidah mengarang. Kaidah-kaidah ini saling mendukung sehingga tulisan atau apa yang kita bicarakan menjadi lebih berbobot dan bernilai serta lebih mudah dipahami dan dimengerti oleh orang lain.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang makalah ini, permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1. Apakah pengertian dari EYD (Ejaan Yang Disempurnakan)?
2. Apa fungsi utama penggunaan EYD dalam Bahasa Indonesia?

C. Tujuan Penulisan
Agar para pembaca dapat lebih mengerti dan memahami penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan dalam Tata Bahasa Indonesia.


BAB II
PEMBAHASAN


I. Pemakaian Huruf
A. Huruf Abjad
Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas huruf yang berikut. Nama tiap huruf disertakan di sebelahnya.
Huruf Nama Huruf Nama Huruf Nama
A a a J j je S s es
B b be K k ka T t te
C c ce L l el U u u
D d de M m em V v ve
E e e N n en W w we
F f ef O o o X x eks
G g g P p pe Y y ye
H h h Q q ki Z z zet
I i i R r Er

B. Huruf Vokal
Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf a, i, u, e, dan o.
Huruf Vokal Contoh Pemakaian dalam Kata
di Awal di Tengah di Akhir
a adik pamit bursa
i ini minyak Arti
u udang bulan Itu
e* enak perak sore
elang kembali tipe
o oleh kota radio

* Dalam pengajaran lafal kata, dapat digunakan tanda aksen jika ejaan kata menimbulkan keraguan.
Contoh:
Anak-anak bermain di teras (téras).
Sidang itu dihadiri oleh pejabat teras pemerintah.
Kami menonton film seri (séri).
Pertandingan itu berakhir seri.
C. Huruf Konsonan
Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf-huruf:
Huruf Konsonan Contoh Pemakaian dalam Kata
di awal di tengah di akhir
B bentuk Abdi Adab
C cinta Macam -
D daun Andil Abad
F fana kafilah Khilaf
G garam Agung Balig
H hasil Mahal Sawah
J jatuh Haji Makhraj
K kasih Nikmat Politik
Rakyat* Tidak*
L lama Malam Amal
M minyak Sampah Ayam
N nama Anda Aman
P pasti Api Asap
Q** quran Furqan -
R rasa warna Mawar
S siswa Besi Manis
T tali Hati Pahat
V variasi Larva -
W wasiat Awan -
X** xenon - -
Y yaitu Bayi -
Z ziarah Jazirah Juz

* huruf k di sini melambangkan bunyi hamzah.
** khusus untuk nama dan keperluan ilmu.
D. Huruf Diftong
Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan ai, au, dan oi.
Huruf Diftong Contoh pemakaian dalam kata
Di awal Di tengah Di akhir
Ai Ain syaitan pandai
Au Aula saudara harimau
Oi - boikat amboi
E. Gabungan Huruf Konsonan
Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang melambangkan konsonan, yaitu kh, ng, ny, dan sy. Masing-masing melambangkan satu bunyi konsonan.
Gabungan Huruf Konsonan Contoh Pemakaian dalam kata
Di awal Di tengah Di Akhir
Kh Khusus akhir tarikh
Ny Nyata hanyut -
Sy Syarat isyarat -
Ng Ngilu bangun senang

Dalam hal ini serimg kita jumpai persamaan dalam melafalkan huruf antara negara satu dengan yang lainya,persamaan ini disebabkan adanya sebuah kesepakatan diantara negara-negara yang ada,di tambah lagi adanya bahasa internasional yang pasti membuat persamaan lafal dalam pengucapan semakin terbiasa.
F. Pemenggalan Kata
1. Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut:
a. Jika di tengah kata ada vokal yang berurutan, pemenggalan itu dilakukan di antara kedua huruf vokal itu.
Contoh: ma-af, la-in, ni-at.
Huruf diftong ai,au,oi tidak pernah diceraikan sehingga pemenggalan kata tidak dilakukan di antara kedua huruf vokal itu.
Contoh:
Au-la bukan a-u-la
Am-boi bukan am-bo-i
b. Jika di tengah kata ada huruf konsonan, termasuk gabungan huruf konsonan, di antara dua buah huruf vokal, pemenggalan dilakukan sebelum huruf konsonan.
Contoh:
Le-wat, me-rah, ba-yam, mu-ta-khir, de-la-pan.
c. Jika di tengah kata ada dua huruf konsonan yang berurutan, pemenggalan dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu. Gabungan huruf konsonan tidak pernah diceraikan.
Contoh:
Sam-bal, ber-sih, pas-ti, war-ga.
d. Jika di tengah kata ada tiga buah huruf konsonan atau lebih, pemenggalan dilakukan diantara huruf konsonan yang pertama dan huruf konsonan yang kedua.
Contoh:
Bang-krut, ikh-las, ul-tra.
2. Imbuhan akhiran dan imbuhan awalan, termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk serta partikel yang biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya, dapat dipenggal pada pergantian baris.
Contoh:
Mem-beri-kan, men-caci, mem-beli.
Catatan:
a. bentuk dasar pada kata turunan sedapat-dapatnya tidak dipenggal.
b. Akhiran –i tidak dipenggal.
c. Pada kata yang berimbuhan sisipan, pemenggalan kata dilakukan sebagai berikut
Contoh: te-lun-juk, si-nam-bung, ge-ri-gi.
3. Jika suatu kata terdiri atas lebih dari satu unsur dan salah satu unsur itu dapat bergabung dengan unsure lain, pemenggalan dapat dilakukan (1) di antara unsur-unsur ituatau (2) pada unsur gabungan itu sesuai dengan kaedah 1a, 1b, 1c, 1d, di atas.
Contoh:
mili-meter, mi-li-me-ter
intro-speksi, in-tro-spek-si
bio-grafi, bi-o-gra-fi
Keterangan:
Nama orang, badan hukum, dan nama diri yang laindisesuaikan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan kecuali jika ada pertimbangan khusus.


II. Pemakaian Huruf Kapital dan Huruf Miring
A. Huruf Kapital atau Huruf Besar
1. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.
Contoh:
Ayahku pergi ke kantor.
Dia selalu menunggu temannya yang terlambat.
Bagaimana kabarnya?
2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Contoh:
Aji bertanya, “Dari mana kamu?”
“Aku dari rumah temanku,” jawab Tika.
3. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci,termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Contoh:
Allah, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang.
Quran, Injil, Islam, Kristen.
Semoga Tuhan selalu melimpahkan rahmat-Nya.
Dialah Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
4. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Contoh:
Panglima Sudirman, Sultan Hasanuddin, Nabi Muhammad, Imam Syafi’i.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.
Contoh:
Ia baru saja di angkat menjadi panglima.
5. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nam orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
Contoh:
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Gubernur Jawa Tengah, Wakil Presiden Yusuf Kalla.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, atau nama tempat.
Contoh:
Siapakah presiden yang baru dilantik kemarin?
6. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.
Contoh:
Meiko Fairuzia Adriani, Muhammad Faisal Adrianto, Agnes Monica.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.
Contoh:
5 newton, 220 volt.
7. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
Contoh:
suku Jawa, bangsa Indonesia, bahasa Indonesia.
Huruf capital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan.
Contoh:
Mengindonesiakan kata asing.
8. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.
Contoh:
tahun Masehi, hari Jum’at, hari Lebaran, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama.
Contoh:
Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsanya
9. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.
Contoh:
Jawa Tengah, Surabaya, Selat Sunda, Jazirah Arab, Dataran Tinggi Dieng.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri.
Contoh:
Menyeberangi selat, pergi ke arah barat.
10. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata seperti dan.
Contoh:
Republik Rakyat China, Dewan Perwakilan Daerah, Departemen Kesehatan.
Hururf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi Negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi.
Contoh:
Menjadi sebuah republik, menurut undang-undang yang berlaku.
11. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, aerta dokumen resmi.
Contoh:
Perserikatan Bangsa-Bangsa, Undang-Undang Dasar.
12. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
Saya sudah membaca majalah Bahasa dan Sastra.
Ia menyelesaikan makalah “Sejarah Islam Zaman Pertengahan”.
13. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.
Contoh:
S.Pd. sarjana pendidikan
S.H. sarjana hokum
S.Ag. sarjana agama
14. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan.
Contoh:
“Kapan Ibu pergi ke pasar?” tanya Meiko.
Para siswa mengunjungi Pak Hasan.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai dalam pengacuan atau penyapaan.
Contoh:
Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
15. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.
Anda harus angkat kaki dari rumah ini. Rumah Anda telah kami sita.
Apakah Anda sudah tahu?

B. Huruf Miring
1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku,majalah,dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
Majalah Bahasa dan Kesusastraan,buku Negara-kertagama karangan Prapanca,surat kabar Suara Karya.
2. Huruf miring dalam cetakan dipakai dalam menegaskan atau mengkhususkan huruf,bagian kata,kata,atau kelompok kata.
Misalnya:
Huruf pertama kata abad ialah a.
Dia bukan menipu, tetapi ditipu.
Bab ini tidak membicarakan penulisan huruf kapital.
Buatlah kalimat dengan berlepas tangan.
3. Huruf miring dan cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.
Misalnya:
Nama ilmiah buah manggis ialah Garcinia mangostana.
Politik devite et impera pernah merajalela di negeri ini.
III. Penulisan Kata
A. Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu-kesatuan.
Contoh:
Ibu percaya bahwa engkau tahu.
Kantor pajak penuh sesak.
Buku itu sangat tebal.
B. Kata turunan
1. Imbuhan (awalan,sisipan,akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Contoh:bergeletar,dikelola,penatapan,menengok,mempermainkan.
2. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata,awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.
Misalnya:
bertepuk tangan,garis bawahi,menganak sungai,sebar luaskan.
3. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus,unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya: menggarisbawahi,menyebarluaskan,dilipatgandakan,penghancurleburan.
4. Jika salah satu unsure gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi,gabungan kata itu ditulis serangkai.
Contoh: antarkota,dasawarsa,adipati,audiogram,ekstrakurikuler,elektroteknik,introspeksi,semipropesional,dan lain-lain.
C. Gabungan Kata
1) Gabungan kata yang lazim disebut kata majemu,termasuk istilah khusus,unsure-unsurnya ditulis terpisah.
Misalnya: duta besar,kambing hitam,orang tua,rumah sakit umum.
2) Gabungan kata,termasuk istilah khusus,yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian di antara unsure yang bersangkutan.
Misalnya:
Alat pandang-dengar,anak-istri saya,buku sejarah-baru,mesin-hitung tangan.
3) Gabungan kata berikut ditulis serangkai.
Misalnya: acapkali, adakalanya, belasungkawa, halalbihalal, titimangsa, saptamarga, radioaktif.
D. Kata Ganti –ku, kau, -mu, -nya
Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya;-ku, -mu, dan –nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Contoh:
Apa yang kumiliki boleh kauambil.
Bukuku, bukumu dan bukunya tersimpan di perpustakaan.
E. Kata Depan di, ke, dari
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebgai satu kata seperti kepada dan daripada.
Misalnya:
Kain itu terletak di dalam lemari
Kesampingkan saja persoalan yang tidak penting itu.
Ia datang dari Surabaya kemarin.
Kita perlu berpikir sepuluh tahun ke depan.
Ke mana saja Hadlor selama ini?
F. Kata si dan sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya:
Harimau itu marah sekali kepada sang Kancil.
Surat itu dikirimkan kembali kepada si pengirim.
G. Partikel
a. Partikel –lah, -kah, dan –tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Siapakah gerangan Dia?
Apakah yang tersirat dalam surat itu?
Apalah gunanya bersedih hati?
b. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Jangankan dua kali,satu kali pun engkau belum pernah datang ke rumahku.
Apa pun yang dimakannya,ia tetap kurus.
Catatan: kelompok yang lazim dianggap padu,misalnya adapun, andaipun, bagaimanapun, biarpun, sekalipun, walaupun, kalaupun, kendatipun, sungguhpun ditulis serangkai.

Misalnya:
Adapun sebab-sebabnya belum diketahui.
Bagaimanapun juga akan dicobanya menyelesaikan tugas itu.
c. Partikel per yang berarti ‘mulai’, ‘demi’, dan ‘tiap’ ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahuluinya atau mengikutinya.
Misalnya:
Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 April.
Harga kain itu Rp.2.000,00 per helai.
Mereka masuk ke dalam kelas satu per satu.
H. Singkatan dan Akronim
1. Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.
a. Singkatan nama orang,nama gelar,sapaan,jabatan,atau pangkat diikuti dengan tanda titik.
A.S. Kramawijaya , Muh. Yamin , Suman Hs. , Sukanto S.A.
M.Sc. master of science
Sdr. Saudara
S.Kar. sarjana Karawitan
Kol. Colonel
b. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf capital dan tidak diikuti dengan tanda titik.
DPR Dewan Perwakilan Rakyat
SMTP Sekolah Menengah Tengah Pertama
c. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.
dll. dan lain-lain
sda. sama dengan atas
dst. dan seterusnya

Tetapi:
a.n. atas nama
u.b. untuk beliau
d.a. dengan alamat
d. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran,takaran,timbangan,dan mata uang tidak diikuti tanda titik.
Cu kuprum
kVA kilovolt-ampere
TNT trinitrotoluen
2. Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.
I. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.
IAIN Institut Agama Islam Negeri
SIM Surat Izin Mengemudi
II. Akronim nama diiri yang berupa gabungan suku kata atau huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.
Iwapi Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia.
Sespa Sekolah Staf Pimpinan Administrasi.
III. Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf,suku kata,ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.
pemilu pemilihan umum
rudal peluru kendali
I. Angka dan Lambang Bilangan
• Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor.
Angka Romawi: I,II,III,IV,….
Angka Arab: 0,1,2,3,4,5,…
• Angka yang digunakan untuk menyatakan ukuran panjang, berat, isi, satuan waktu, dan nilai barang.
11 meter persegi
Rp. 10.000,00
• Angka lazim untuk menandai nomor jalan,rumah,apartemen atau kamar pada alamat.
Jalan Pemuda No. 104 Surabaya
Hotel Sheraton, kamar 30
• Angka yang digunakan juga untuk menomori karangan atau bagiannya.
Bab VI, pasal 20, halaman 35
Surat Al-Ikhlas : 2
• Penulisan lambang bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut:
a. Bilangan utuh
27 dua puluh tujuh
b. Bilangan pecahan
100% seratus persen
• Penulisan kata bilangan tingkat.
Tingkat III
Tingkat ke-3
Tingkat ketiga
• Penulisan kata bilangan yang mendapat akhiran –an.
Tahun 1000-an atau tahun seribuan.

IV. Penulisan Unsur Serapan
Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari berbagai bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing. Berdasrka taraf integrasinya, unsure pinjamam dalam bahasa Indonesia dapat di bagi atas dua golongan besar. Pertama. unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti shuttle cock, reshuffle. Unsur-unsur tersebut di pakai dalam konteks bahasa Indonesia tetapi pengucapannya Masih mengikuti cara asing. Kedua, unsur pinjaman yamg penulisan dan pengucapannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan agar ejaannya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.

V. Pemakaian Tanda Baca
A. Tanda Titik
Tanda titik dipakai pada atau untuk:
a. akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Contoh :
Roni membaca buku ceita.
Dia menanyakan siapa yang duduk disana.
b. di belakang angka atau huruf dalam suatu bagian.
Misalnya :
a. III. Departemen Dalam Negeri
A. Direktorat Jenderal
Pembangunan
Masyarakat Desa
c. memisahkan angka jam, menit dan detik yang menunjukkan jangka waktu maupun jangka waktu.
Contoh : Pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik).
d. memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.
Ia lahir pada tahun 1965 di Bandung.
Lihat halaman 2345 dan seterusnya.
e. Tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan,tabel dan seterusnya.
Contoh : Acara Kunjungan Adam Malik
(Bab I UUD’45)
f. Tidak dipakai dibelakang (1) alamat pengirim dan tanggal surat atau (2) nama dan alamat penerima surat.
B. Tanda Koma
a) Tanda koma dipakai diantara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilang.
Ibu membeli buah, sayur, dan telur
b) Dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi, melainkan.
Andi tidak pergi ke Surabaya, tetapi ke Jakarta.
c) Memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika mendahuluinya.
Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.
d) Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antar kalimat yang terdapat pada awal kalimat, termasuk didalamnya oleh karena itu,meskipun begitu, jadi, akan tetapi.
Jadi, kita harus datang tepat waktu.
e) Dipakai di belakang kata-kata seperti wah, aduh, kasihan, yang terdapat pada awal kalimat.
Wah, makanan ini enak sekali!
O, jadi begitu caranya?
f) Untuk memisahkan petikan dari bagian lain kalimat.
“jangan malas belajar!”, seru Pak Guru.
g) Dipakai diantara alamat,tempat dan tanggal,nama tempat wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Surabaya, 8 Nopember 2008.
h) Untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
i) Tanda koma dipakai diantara bagian-bagian dari catatan kaki.
j) Dipakai untuk mengapit keterangan tambahan dan keterangan aposisi.
k) Dapat dipakai untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.
l) Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian yang lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.
“Di mana Saudara tinggal?” tanya Karim.
“Berdiri lurus-lurus!” perintahnya.
C. Tanda Titik Koma (;)
1. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Malam makin larut; pekerjaan belum selesai juga.
2. Dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat setara dalam kalimat majemuk.
Ayah mengurus tanamannya di kebun itu;Ibu sibuk bekerja di dapur;Saya sendiri asyik mendengarkan siaran “Pilihan Pendengar”.
D. Tanda Titik Dua (:)
Tanda titik dua dipakai untuk :
 Pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian.
Ayah membeli bahan bangunan seperti : pasir, batu bata, semen, kayu, dan lain-lain.
 Sesudah ungkapan atau kata yang memerlukan pemerian.
Contoh:
1. Ketua : M.Hadlor
Sekretaris : Shinta Hamidah
 Dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Ibu : “Kapan kamu pergi ke Jakarta?”
Doni : “mungkin minggu depan Bu”
 Tidak dipakai kalau rangkaian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.
 Dipakai diantara jilid atau nomor dan halaman,diantara bab dan ayat dalam kitab.
Surat Al-Baqarah : 27


E. Tanda Hubung (-)
 Untuk menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris.
 Menyambung awalan dengan bagian kata akhiran dan depannya pada pergantian baris.
 Menyambung unsur-unsur kata ulang.
 Menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.
 Memperjelas hubungan bagian-bagian ungkapan.
 Untuk merangakaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.
F. Tanda Pisah
o Untuk menyatakan suatu pikiran tambahan.
o Memperluas rangkaian bagian kalimat, sehingga menjadi lebih jelas.
o Dipakai diantara dua nilangan berarti ‘sampai dengan’ sedangkan bila dipakai antara dua tempat atau kota berarti ke atau sampai.
o Menyatakan suatu ringkasan atau gelar.
G. Tanda Elipsis (…)
 Untuk menyatakan ujaran yang terputus-putus
 Menyatakan ada bagian yang dihilangkan dalam suatu kutipan
 Digunakan pada akhir kalimat karena menghilangkan bagian tertentu sesudah kalimat itu berakhir.
 Untuk meminta kepada pembaca mengisi sendiri kelanjutan dari sebuah kalimat.
H. Tanda Tanya
 Dipakai pada akhir kalimat tanya
 Dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya
I. Tanda Seru
Tanda seru dipakai sesudah ungkapan yang berupa seruan atau erintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat.
J. Tanda Kurung
o Dipakai untuk mengapit tambahan penjelasan.
o Untuk mengapit penjelasan yang bukan bagian pokok pembicaraan.
o Mengapit huruf atau kata yang didalam kata dapat dihilangkan.
o Mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan.
K. Tanda Kurung Siku
Untuk mengapit huruf, kata, kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan bagi orang lain, serta mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.
L. Tanda Petik
1) Tanda petik untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaran dan naskah atau bahan tertulis lain.
2) Mengapit judul syair, karangan atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.
3) Mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
4) Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
5) Ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang diartikan khusus pada bagian kalimat.
M. Tanda Petik Tunggal
a) Untuk mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
b) Tanda petik tunggal digunakan untuk mengapit makna,terjemahan,atau penjelasan kata atau ungkapan asing.
N. Tanda garis miring
a) Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.
b) Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau dan tiap.
O. Tanda penyingkat atau apostrof
Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata bagian angka tahun.
Dia t’lah pergi dari kehidupanku. (t’lah = telah)

Dari semua penjelasan di atas pemakaian EYD amatlah penting dalam semua karya tulis,karena semua hal yang behubungan dengan tulisan pasti menggunakan aturan ini baik resmi maupun tidak resmi,secara tiadk langsung dengan adanya pemakaian EYD dengan benar akan memberi pengajaran pada orang awam yang kurang tau tentang aturan dalam tulis menulis.

BAB III
PENUTUP


A. KESIMPULAN
EYD (Ejaan yang Disempurnakan) adalah tata bahasa dalam Bahasa Indonesia yang mengatur penggunaan bahasa Indonesia dalam tulisan, mulai dari pemakaian dan penulisan huruf capital dan huruf miring, serta penulisan unsur serapan.
EYD disini diartikan sebagai tata bahasa yang disempurnakan. Dalam penulisan karya ilmiah perlu adanya aturan tata bahasa yang menyempurnakan sebuah karya tulis. Karena dalam sebuah karya tulis memerlukan tingkat kesempurnaan yang mendetail.
Singkatnya EYD digunakan untuk membuat tulisan dengan cara yang baik dan benar.

B. SARAN
Sudah selayaknya kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia dapat menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar khususnya dalam bahasa tulis. Dengan adanya penjabaran tentang pamakaian EYD diharapkan para pembaca dapat memahami dan menerapkan penggunaan EYD dalam pembuatan suatu karya tulis.Dan semoga penjabaran ini dapat bermanfaat bagi kita semua.










DAFTAR PUSTAKA





Agustin, Risa, S.Pd. 2008. Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan. Surabaya: SERBA JAYA.

Cisca. 2008. Ejaan yang Disempurnakan. Yogyakarta: Widyatama.

1 comment: