Loading...

Wednesday, November 23, 2011

Rumusan Masalan Penelitian (What 'n How)

1. Apa pegertian Rumusan masalah?
Dalam setiap bidang ilmu biasanya ada istilah yang memiliki makna khusus berbeda dengan makna literalnya. Masalah dalam kegiatan penelitian bermakna pertanyaan penelitian (Ary, Jacobs, Razavieh, 1979:42) yang menggambarkan dengan jelas jawaban apa yang diharapkan dari pertanyaan tersebut. Pertanyaan yang paling jelas tentunya adalah pertanyaan penelitian yang dinyatakan dalam kalimat tanya langsung atau minimal kalimat tanya tidak lasngsung (Tuckman, 1999:28). Misalnya,Apakah semakin sering mahasiswa mendengarkan siaran radio dalam bahasa Inggris semakin tinggi prestasi belajar Listening comprehensionnya?
Kalau ada pertanyaan kepada peneliti tentang apa masalah penelitiannya, maka jawabannya adalah pertanyaan yang akan dijawab melalui kegiatan penelitiannya.  Masalah penelitian bukan berarti kesulitan dalam proses penelitian. Kalau ada seorang peneliti mengatakan bahwa masalah penelitiannya adalah, misalnya, belum bisa menemukan buku untuk rujukannya, maka dia

mencampur aduk antara masalah penelitian dengan kesulitan penelitian.

2. Apa beda pertanyaan wartawan ketika melaksanakan tugas kewartawanannya dengan pertanyaan peneliti ketika melaksanakan tugas penelitianya?
Jawaban terhadap pertanyaan wartawan berupa fakta berdasarkan apa yang dia lihat, dia dengar, atau dia rasakan. Wartawan melaporkan informasi dari fakta yang dia peroleh. Oleh karena itu hasil pekerjaan wartawan adalah berita. Sedangkan jawaban terhadap pertanyaan peneliti bukan sekedar fakta berdasarkan apa yang dia lihat, dengar, rasakan tetapi berupa inferences/kesimpulan dari hasil analisis terhadap data yang telah diakumpulkan. Jika seseorang mengajukan pertanyaan, misalnya, Bagaimana guru Bahasa Inggris di MIN Malang I mengajar Bahasa Inggris kelas 5? Maka pertanyaan ini bukanlah pertanyaan penelitian karena jawaban yang diperlukan tidak memerlukan kesimpulan. Jawaban terhadap pertanyaan ini cukup berupa informasi tentang metode yang digunakan, kegiatan yang dilakukan, buku yang dipakai, jumlah siswa dalam kelasnya, jumlah jam pelajarannya, dsb. yang semuanya tidak memerlukan kesimpulan, tetapi sekedar fakta yang bisa diperoleh melalui wawancara, pengamatan, dokumen, dsb. yang tidak perlu dianalisis. Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan pertanyaan penelitian tetapi pertanyaan untuk wartawan.

3. Apa beda pertanyaan guru ketika melaksanakan tugas mengajar dengan pertanyaan peneliti ketika melaksanakan tugas penelitianya?
Dalam melaksanakan tugas mengajarnya, guru yang baik selalu berusaha mengetahui kemajuan belajar dan hasil belajar siswanya. Informasi kemajuan dan hasil belajar siswanya akan berguna untuk memperbaiki kualitas pengajarannya. Informasi semacam itu diperoleh untuk menjawab pertanyaan yang dajukan baik selama proses pembelajaran (authentic assessment) maupun setelah pembelajaran selesai (formal test).
Pertanyaan tersebut, misalnya: 
  • Bagaimana kemampuan rata-rata Bahasa Inggris kelas saya?
  • Apa saja kesalahan grammatical yang dibuat oleh kelas saya dalam menulis
  • paragraph descriptive?
  • Berapa % siswa dalam kelas saya yang telah mencapai nilai di atas 75?
  • Bagaimana meningkatkan keberhasilan kelas saya dalam membaca literal?
Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak berkontribusi pada pengembangan teori atau pengembangan praktek pembelajaran kecuali bagi guru yang bersangkutan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan pertanyaan penelitian.

4. Apa yang menjadi isi dari jawaban terhadap pertanyaan penelitian?
Jawaban terhadap pertanyaan penelitian mengkaitkan antar fakta dan hanya bisa diperoleh atas dasar analisis terhadap data yang telah terkumpul. Jawaban yang diminta berisi pengetahuan tentang pola, sistim, atau keteraturan dalam objek yang diteliti. 
Misalnya:
  • model pembelajaran bahasa Inggris dalam kelas yang efektif (penelitian Descriptive Qualitative)
  • bahan ajar yang bisa meningkatkan motivasi belajar siswa (Research and Development) 
  • Strategy Pembelajaran Picture Games yang dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam belajar Speaking (Classroom Action Research) 
  • Belajar dalam kelas kecil lebih efektif dibanding dengan belajar dalam kelas belajar (Experimental Research)
  • Semakin tinggi motivasi belajar semakin inggi prestasinya (Correlational Research)
  • Kelompok siswa SMP yang lulusan SD negeri rata-rata lebih tinggi prestasinya dalam menyimak teks lesan bahasa Inggris dibanding kelompok siswa SMP yang lulusan SD swasta di Malang (Ex-post Facto)

Jawaban seperti seperti contoh tersebut hanya bisa diperoleh dari hasil analisis, karena model, pola, sistem tersebut tidak kasat mata. Jawaban seperti inilah yang akan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan tentang pembelajaran bahasa Inggris (Borg, Gall, 1983:86; Ary, Jacobs, Razavieh, 1979:47; Vockel, Asher, 1995:19; Tuckman,
1999:28).

5. Apakah setiap objek penelitian memiliki pola, sistem, aturan, rumus?
Tujuan meneliti sebuah objek penelitian (misalnya kelas pembelajaran Bahasa Inggris) adalah memahami object tersebut. Penelitiannya dikatakan sudah selesai apabila dia sudah memiliki pemahaman terhadap objek tersebut. Orang dikatakan telah memahami sebuah objek penelitian kalau dia bisa menjelaskan pola, model, rumus, atau keteraturan (regularities) yang berlaku dalam objek tersebut. Jadi orang yang mencoba menemukan sistem, pola, model yang berlaku dalam sebuah objek penelitian pasti meyakini terlebih dahulu bahwa sistem, aturan, model itu ada dalam objek tersebut. Bila
peneliti tidak meyakini adanya aturan, sistem, atau model dalam objek penelitian tersebut, pasti dia tidak akan mau menelitinya. Keyakinan inilah yang disebut asumsi penelitian.
Semua peneliti yaqin (berasumsi) bahwa setiap objek di alam ini berjalan mengikuti sebuah aturan tertentu (dalam bahasa Al Qurán disebut qadar). Hanya dengan mengikuti aturannyalah maka suatu objek berfungsi dengan baik. Begitu aturannya dilanggar, maka objek tersebut tidak berfungsi dengan baik. Tubuh manusia, misalnya, mengikuti suatu sistem tertentu, ada sistem pernafasan, sistem pencernaan makanan, cara kerja jantung, cara kerja paru-paru, dsb. Apabila sistem atau cara kerja tersebut terganggu oleh sesuatu hal sehingga tidak berjalan dengan baik, maka bagian tubuh yang sistemnya, atau cara kerjanya terganggu itu akan mengalami disfungsi atau kita menyebutnya sakit.

6. Apa pentingnya masalah dalam penelitian?
Masalah penelitian adalah bagian awal yang sangat penting dan sentral dalam kegiatan penelitian (Hatch & Farhady, 1982:1, Suyanto, 1995:20). Peneliti biasanya menghabiskan waktu relatif lebih banyak untuk mendapatkan dan kemudian memformulasikan masalah penelitian. Yang membuat lama dan sulitnya merumuskan masalah penelitian tentunya bukan hanya tentang kalimat yang harus digunakan, tetapi karena peneliti harus membaca rujukan yang cukup banyak untuk mendapatkan wawasan yang luas sehingga menemukan masalah penelitian yang berkualitas, yaitu masalah penelitian yang jawabannya akan memberikan sumbangan pada pengembangan prinsipprinsip dalam teori dan praktek, misalnya, dalam pembelajaran Bahasa Inggris (Suyanto, 1995:22, Hopkins, 1980:112). serta konsekwensi dari pemilihan masalah penelitian tersebut. Seorang peneliti Pembelajaran bahasa Inggris, misalnya, harus bisa melihat teori
tentang Pembelajaran Bahasa Inggris (PBI) yang perlu diperbaiki, kontradiksi teori PBI yang perlu dijelaskan, atau masalah PBI yang perlu dikaji kembali (Suyanto, 1995:26).

Seorang peneliti yang telah memutuskan masalah penelitian berarti juga telah memilih bidang kajian yang menjadi landasan teori penelitiannya, daerah penelitiannya, sumber informasi yang akan dipilihnya, teknik pengumpulan data, serta analisis datanys. Dia juga secara keseluruhan telah memutuskan sumbangan apa yang akan diberikan baik
secara teoritis maupun praktis dari hari hasil kegiatan penelitiannya. Jadi penentuan masalah penelitian adalah bagian penelitian yang amat sangat penting. 
Dalam laporan penelitian atau tesis, rumusan masalah penelitian yang kurang baik menggambarkan kualitas penelitian yang kurang baik.. Dengan kata lain penelitian yang baik harus bisa dilihat dari rumusan masalah penelitian yang baik.

7. Bagaimana cara merumuskan masalah penelitian?
Hatch (1982:4) menyarankan beberapa langkah yang perlu dilakukan oleh peneliti dalam merumuskan masalah penelitian, yaitu mulai dari mengidentifikasi topik yang layak teliti, mempersempit fokus topik penelitian, mengkaji rujukan yang berkaitan dengan topik penelitian, dan menyatakan masalah penelitian dalam bentuk pertanyan. 

8. Mengapa masalah penelitian harus dirumuskan dengan jelas?
Ketidak jelasan rumusan masalah penelitian menyebabkan ketidak jelasan rencana kegiatan penelitian dan ini berarti akan mempersulit peneliti dalam melaksanakan kegiatan penelitiannya. Dan bahkan kegiatan penelitian mungkin bisa gagal di tengah jalan karena kurang baiknya rumusan masalah penelitian yang telah dirumuskan. Atau kalau dalam pelaksanaan penelitian dilakukan perubahan arah kegiatan penelitian biasanya rumusan masalahnya yang pada akhirnya dirubah meneysuaikan dengan hasil penelitiannya. Pengalaman dalam ujian tesis, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris di PPS UM beberapa kali menghadapi situasi yang memaksa memilih mengulang kembali seluruh kegiatan penelitiannya agar sesuai dengan masalah penelitian yang telah dirumuskan atau mengubah rumusan masalah penelitiannya. Dan biasanya tentu saja pilihan yang paling mudah adalah mengubah rumusan masalah penelitiannya. Hal ini tentunya tidak boleh terjadi.

9. Apa ciri rumusan masalah penelitian yang baik?
Rumusan masalah penelitian yang baik memiliki bebarapa indikator sebagai berikut.

1) Rumusan masalah penelitian yang baik dinyatakan dalam kalimat yang jelas, tidak memberikan pemahaman ganda, tidak menggunakan istilah-istilah teknis atau jargon yang tidak mudah difahami oleh pembaca pada umumnya (Borg & Gall, 1983:87; Ary, Jacobs, & Razavieh, 1979:50; Tuckman, 1999:28).
Misalnya, pertanyaan penelitian Bagaimana pengaruh jenis kelamin terhadap prestasi belajar bahasa Inggris mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris UM? bersifat sangat teknis sehingga perlu diubah menjadi lebih operasional sehingga lebih bisa difahami pembaca pada umumnya menjadi: Apakah mahasiswi berprestasi lebih tinggi dibanding mahasiswa jurusan Bahasa Inggris UM?
Pertanyaan teknis Bagaimana hubungan korelasional antara kemampuan membaca dengan kemampuan menulis mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris UM angkatan tahun 2006? Akan lebih baik dirubah menjadi pertanyan yang operasional Apakah semakin tinggi kemampuan membaca mahasiswa Bahasa Inggris UM angkatan 2006 cenderung semakin tinggu kemampuan menulisnya?
Pertanyaan teknis Bagaimana tingkat efektifitas pembelajaran listening dengan media laboratorium bahasa untuk siswa kelas 3 SMAN 3 Malang tahun 2009? 
Akan lebih baik dinyatakan dalam kalamat operasional Apakah siswa SMAN 3 Malangyang belajar listening memiliki prestasi lebih tinggi dibanding mereka yang belajar listening dalam kelas biasa? 
2) Jawaban yang diharapkan dari pertanyaan penelitian yang diajukan bukan sekedar berisi informasi tentang fakta atau variabel penelitian tetapi berisi informasi tentang hubungan antar fakta atau antar variabel atau tentang tatakerja, pola, rumus, atau keteraturan yang ada dalam objek penelitian. Hopkins (1980:112) menyatakan bahwa research is directed toward developing a body of scientific principles about educational concerns. Makuta (1981:1) juga memperkuat pendapat ini dengan menyatakan bahwa the game of language acquisition research can be described as the search for an appropriate level of description of the learner s system of rules.
Pertanyaan tentang, misalnya, Bagaimana pelaksanaan pembelajaran Bahasa Inggris di SMAN 1 Malang tahun 2009? hanya akan meminta fakta yang berupa rekaman hasil pengamatan tentang siapa gurunya, berapa orang gurunya, berapakali jam pelajaran bahasa Inggrisnya, berapa jumlah siswa dalam setiap kelasnya, buku apa yang dipakai, dsb. Jawaban semacam itu bukan hasil penelitian karena tidak memerlukan proses analisis.
Contoh yang baik untuk topik di atas adalah, misalnya, Praktek pembelajaran yang bagaimana yang menunjukkan hasil belajar yang efektif bagi siswa SMAN 1 Malang tahun 2009? Jawaban yang diminta oleh pertanyan ini adalah hasil analisis yang mengkaitkan kegiatan pembelajaran tertentu dengan indikator keberhasilan belajar siswa.

3) Variabel yang akan diamati dalam penelitian harus ternyatakan atau terindikasikan dalam rumusan masalah penelitian sehingga pembaca bisa melihat variabel apa saja yang terlibat dalam penelitian tersebut. Variabel tersebut harus bisa teramati dan informasi tentang variabel tersebut terjangkau oleh peneliti (Tuckman, 1999:28). Dalam penelitian yang melibatakan data kuantitaif sebagai pendukung variabelnya, datanya harus bisa terukur dengan pasti, begitu juga hubungan antar variabel yang akan diteliti harus bisa diuji secara statistik (Ary, Jacobs, Razavieh, 1979:48). Data kualitatif yang berkaitan dengan moralitas, keindahan, keyakinan, misalnya, tidak
bisa dijadikan sebagai data pendukung variabel penelitian kuantitatif karena tidak bisa diukur secara kuantitatif dan oleh karena itu hubungannya tidak bisa diuji secara statistik (Tuckman, 1999:28).
Pertanyaan Apakah mahasiswa Bahasa Inggris Universitas Negeri Malang rata-rata lebih cantik dibanding dengan mahasiswa bahasa Inggris Universitas Brawijaya tahun 2009? Bukan pertanyaan yang bisa dijawab dalam penelitian kuantitatif.
Apakah ada hubungan antara kecantikan wanita dengan keberhasilan dalam berkeluarga? Juga bukan pertanyaan yangbisa dijawab dalam penelitian kuantitatif.

4) Rancangan penelitian yang akan digunakan untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan penelitian harus terindikasikan dalam rumusan masalah penelitian (Ary, Jacobs, Razavieh, 1979:41). Dengan kata lain, rumusan masalah penelitian yang baik harus mengindikasikan apakah penelitian akan menggunakan rancangan kuantitatif atau kualitatif, menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas, atau penelitian pengembangan. Bila akan menggunakan rancangan kuantitatif, rumusan masalah penelitian yang baik harus mengindikasikan apakah penelitian akan menguji hubungan korelasional atau kausal antar variabel. Rumusan masalah yang salah bisa terlihat dari rancangan yang digunakan. Pertanyaan penelitian Apakah semakin tinggi penguasaan kosa kata siswa SMA semakin tinggi kemampuan Reading Comprehensionya? mengindikasikan rancangan penelitian korelasional.
Pertanyaan penelitian Apakah mahsiwsa yang belajar listening dalam lab bahasa rata-rata memiliki prestasi lebih tinggi dibanding mereka yang belajar di kelas konvensional? mengindikasikan rancangan penelitian kausal.
Pertanyaan penelitian Bagaimana meningkatkan kemaampuan speaking mahasiswa Bahasa Inggris UIN Malang semester 3 tahun 2009 melalui teknik bermain games? Mengindikasikan rancangan Penelitian tindakan kelas.

5) Rumusan masalah penelitian yang baik harus terkait dengan hipotesis (prediksi teoritis terhadap jawaban yang diharapkan) yang akan digunakan dalam penelitian (Borg, 1983:87).
Misalnya pertanyaan penelitian Apakah semakin banyak mahasiswa membaca novel dalam Bahasa Inggris semakin tinggi kemampuan membacanya? sangat terkait dengan hipotesis teoritis semakin banyak mahasiswa membaca novel dalam bahasa Inggris semakin tinggi kemampuan membacanya. 
Apakah mahasiswa yang belajar speaking dalam small groups lebih tingga prestasinya dibanding mereka yang belajar dalam kelas yang tidak dibagi dalam groups? terkait dengan hipotesis mereka yang belajar speaking dalam small groups akan lebih tinggi prestasinya dibanding mereka yang belajar dalam kelas yang tidak dibagi dalam groups.

6) Rumusan masalah penelitian untuk mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Inggris harus berisi topik atau kajian tentang atau terkait dengan pembelajaran bahasa Inggris atau tentang kebahasaan (Linguistik atau Sastra) (Ary, Jacobs, Razavieh, 1979:48;). Fokus atau keterkaitan dengan bidang kajian pembelajaran Bahasa Inggris atau kebahasaan ini penting agar kontribusi dari hasil penelitian jelas yaitu memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dalam bidang pembelajaran Bahasa Inggris atau kebahasaan.
Bagaimana keberhasilan program Keluarga Berencana di jawa Timur? bukan pertenyaan penelitian dalam bidang Pembelajaran bahasa. 
Apakah semakin besar jumlah anggota kelaurga siswa SMA semakin tinggi prestasi belajar mereka disekolah? juga bukan penelitian untuk bidang Pembelajaran bahasa.

7) Rumusan masalah penelitian yang baik harus mengindikasikan batasan kajian dan ruang lingkupnya (Borg, 1983:87) seperti yang juga dikatakan oleh Hatch (1982:2) bahwa the more specific the area, the easier the question should be to formulate clearly. Rumusan masalah penelitian yang cakupannya terlalu luas akan menyulitkan bagi peneliti untuk mendapatkan jawaban penelitiannya. 

8) Rumusan masalah harus mengindikasikan variabel yang terlibat di dalamnya. Rumusan masalah Apakah mahasiswa yang belajar speaking dalam small groups lebih tingga prestasinya dibanding mereka yang belajar dalam kelas yang tidak dibagi dalam groups? mengindikasikan dua variabel, yaitu teknik pembelajaran (kelas yang dibagi menjadi small groups dan yang tidak dibagi smalll groups) dan prestasi hasil belajar speaking.
Rumusan masalah Apakah semakin banyak mahasiswa membaca novel dalam Bahasa Inggris semakin tinggi kemampuan membacanya? mengindikasikan variabel frekwensi membaca dan kemampuan membaca.
Rumusan masalah Apakah mahsiwsa yang belajar listening dalam lab bahasa rata-rata memiliki prestasi lebih tinggi dibanding mereka yang belajar di kelas konvensional? Mengindikasikan variabel strategi pembelajaran (dalam lab dan dalam kelas) dan prestasi hasil belajar listening.

(di-copy dari hasil penelitian Prof. Adnan Latif, Guru Besan Pend. B. Inggris UM)

No comments:

Post a Comment