Loading...

Wednesday, November 23, 2011

ENCIK (Bahasa; sistem arbitrer dan konvensional)

abiiii... encikkk!!!

ummi... encikkk!!!

ya, itulah kalimat yang sering dilontarkan ponakan kecilku setelah capek bermain atau menyambut abinya pulang kerja.

Kalau tidak terbiasa dengan dia, orang bakalan bingung ketika dia lontarkan kalimat itu. Karena saya yakin, orang itu  tidak akan paham makna kata "encik". Dicari di kamus bahasa apapun, kata itu tak akan ditemukan. Karena memang, kata itu bukan kata biasa, itu adalah kosa kata baru di keluarga kami. Kalau kita cari ekuivalennya dalam bahasa Indonesia, sama dengan gendong. jadi,
encik adalah gendong.

"abii... encikkk..." artinya "abii,,, gendongg..."

ini salah satu fenomena bahasa yang pernah saya temukan. Fenomena ini memperkuat pendapat bahwa bahasa itu adalah arbitrary  dan konvensional, sebagaimana diungkap dalam bukunya H Douglass B, Prinsip-Prinsip Pengajaran Bahasa (2007). Maksudnya, bahasa itu arbitrer(arbitrary) adalah bahwa dalam sebuah bahasa itu tidak  memiliki hubungan wajib antara antara lambang bahasa (bunyi / tulisan) dengan pengertian dari lambang yang dimaksud. Jadi, kata encik tidak bisa dijelaskan hubungannya dengan tindakan ponakan saya bergendong pada abinya. Dalam bahasa lain, tidak akan ada yang bisa menjawab kenapa ponakan saya menyebut encik ketika dia mau gendong.

Sedangkan bahasa itu konvensional atau sesuai kesepakatan adalah bahwa walaupun bahasa itu arbitrer, tapi tetap saja para pengguna bahasa harus sepakat dulu bahwa lambang tertentu mewakili makna yang diwakilinya. Dalam hal ini, keluarga saya harus sepakat bahwa lambang encik mewakili makna gendong. Sehingga, kita semua mengerti apa yang dimaksud encik oleh keponakan saya, yaitu tidak lain gendong.

Saya juga bingung bagaimana munculnya kata encik ini, tapi yang pasti, ponakan saya tidak merenung membuat keterkaitan dulu antara bunyi encik dengan makna gendong yang dia maksudkan. Dan ketika dia bilang omm.. encik... maka saya langsung menggendongnya, karena kita sudah sepakat bahwa encik mewakili makna gendong.

Ke-arbitreran dan ke-konvensionalan bahasa ini bagi saya terlihat sebagai salah satu jalan munculnya ragam bahasa yang berbeda di dunia ini (semoga saya bisa bercerita lebih tentang ini di lain waktu:-). Juga di lain hal, ia menunjukkan bahwa kapanpun dan siapapun bisa saja menciptakan bahasa baru, asalkan masyarakat bahasa-nya sepakat dengan penggunaan bahasa tersebut.

No comments:

Post a Comment