Loading...

Wednesday, January 11, 2012

DEGRADASI MORAL; GAGALNYA PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

Konsep pendidikan Islam sudah muncul ratusan tahun yang lalu, dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Tujuan utamanya adalah menanamkan nilai nilai Islam dalam diri pendidik, atau saya lebih suka menyebutnya sebagai islamisasi karakter peserta didik. Taat kepada ajaran agama, mendekatkan diri
kepada Allah SWT, jujur, rajin, dan atau saling menghargai merupakan bebeapa harapan yang seharusnya bisa melekat pada peserta didik setelah proses pendidikan islam dilakukan.
Keberadaan konsep Pendidikan Islam diharapkan mampu menumbuhkan daya kritis dan kreatif, kecerdasan personal, sosial, dan kemanusiaan dan ini akan melahirkan ummat yang peka terhadap kondisi sosial, memahami bagaimana untuk hidup bersosial. Orientasi pendidikan Islam bukan hanya mananamkan dan menumbuhkan kekuatan ritual dan keyakinan tauhid, yang hanya akan melahirkan jiwa jiwa yang dekat dengan Allah, melainkan juga akhlak sosial dan kemanusiaan, sehingga nantinya akan lahir manusia manusia yang saleh secara personal maupun secara sosial.
Dan tentunya, karena Indonesia adalah negara dengan ummat Islam terbesar di dunia, maka logikanya jika suatu negara dihuni oleh orang orang yang berbasis pendidikan yang baik, dalam hal ini pendidikan Islam, seharunsya ia, Indonesia, menjadi negara yang baik pula, karena mayoritas rakyatnya adalah ummat muslim dengan konsep pendidikan yang berorentasi pada kesalehan individu dan sosial.
Sejauh ini, pendidikan Islam telah masukkan dalam kurikulum pendidikan Indonesia, yang salah satunya adalah materi Pendidikan Agama Islam. Tujuannya tidak lain adalah memberikan pemahaman tentang bagaimana Islam itu sendiri. Dari pemahaman ini kemudian diharapkan berimplikasi dalam kehidupan siswa dan bisa membentuk kepribadian yang Islami.
Akan tetapi, masuknya kurikulum pendidikan Islam ini tidak terlihat memberikan efek positif dalam pertumbuhan karakter bangsa. Kemerosotan akhlak terus terjadi, baik dalam kalangan siswa, guru, instansi pendidikan, ummat beragama, atau apalagi dalam masyarakat pada umumnya. Tidak sedikit kejadian kejadian yang menunjukkan hal ini.
Hari demi hari, konflik demi konflik yang beratas nama agama, terutama Islam terus bermunculan. Perbedaan pendapat dalam hal ini yang sering menjadi penyebab utamanya. Mulai dari perbedaan pendapat tentang hari raya, yang mengakibatkan pertikaian di Madura, sampai pada perbedaan aliran yang juga menimbulkan banyak kekerasan di Negeri ini, NII, Ahmadiyah, Syi’ah dan yang lainnya.
Selain konflik konflik tersebut, tidak sedikit kenyataan lain yang menunjukkan tidak berhasilnya pendidikan Islam dalam mendidik ummatnya. Misalnya saja, tidak terelakkan lagi, korupsi terjadi dimana-mana, eksploitasi orang miskin semakin menjadi. Yang miskinpun tidak sadar bahwa dirinya ditindas, kemudian “memakan” sesama kaum miskin. Dan yang paling memalukan adalah tertangkapnya salah satu anggota DPR dari fraksi partai berlabel Islam sedang asik menonton film porno. Sehingga tidak salah jika orang mnyebut Sidang Paripurna sebagai Sidang Pariporno.
Contoh lainnya yang tidak kalah mengenaskan adalah apa apa yang dilakukan oleh para guru, termasuk guru agama, yang seharusnya menjadi suri tauladan bagi anak didiknya. Kita ambil saja sertifikasi sebagai contoh. Beberapa persyaratan untuk diaggap sebagai guru yang profesional bersifat administrasi formal. Guru dituntut untuk megikuti seminar, sebenarnya tujuannya baik, agar mereka memiliki pengetahuan yang luas, tetapi, yang dijadikan bukti bahwa seorang guru telah mengikuti seminar adalaf sertifikat seminar tersebut. Dan akhirnya apa, banyak guru yang tidak ikut eminar tapi mendapatkan sertifikatnya, karena mereka cukup menitipkan sejumlah uang saja untuk membeli sertifikat tersebut, atau titip nama saja kepada peserta lain. Guru juga harus menulis karya tulis ilmiah, bukti  yang diambil adalah sebuah karya. Saya kira, sangat banyak guru yang tidak kompeten dalam hal penulisan karya ilmiah. Hingga akhirnya, mereka membayar orang lain untuk membuatnya, copas dan tempel nama saja.
Pendidikan Islam sampai saat ini hanyalah pelengkap hiasan kurikulum belaka. Sebagai negara yang mayoritas muslim, pendidikan Islam hanya menjadi formalitas saja, agar tidak meyimpang dari identitas mayoritas masyarakat di Indonesia. Pendidikan Islam sampai saat ini lebih menjadi sebuah bahan diskusi saja, tanpa implementasi dalam dunia nyata. Ia masih belum bisa membawa karakter bangsa menajdi karakter islami. Entah karena salah dipahami, salah diberikan atau salah di aturan. Tapi, degradasi moral di negara ini menjadi contoh dari gagalnya pendidikan Islam itu sendiri.

No comments:

Post a Comment