Loading...

Saturday, April 10, 2010

PERAN PENYIAR TERHADAP EKSISTENSI SEBUAH RADIO

PENDAHULUAN
Radio merupakan salah satu media massa yang jangkauannya paling luas di muka bumi. Dengan ciri khas utamanya yang bersifat auditif, radio mampu menjadi media massa yang menarik bagi siapa saja. Kepraktisan dan keanekaragaman program siarannya menjadikan radio sebagai media paling populer dalam sejarah. Popularitasnya kian kuat ketika radio memasuki wilayah jurnalistik dengan menyajikan berita.
Adapun orang-orang yang berjasa dalam membesarkan dan membuat radio bertahan dalam ketatnya persaingan antar media massa adalah mereka yang terlibat dalam dunia penyiaran radio yang disebut "orang-orang broadcast". Ujung tombaknya adalah para penyiar. Penyiarlah yang mampu menghidupkan siaran radio sehingga menarik, memukau, dan berdampak. Mereka terus bekerja dan berpikir untuk kemajuan dunia radio siaran dan memuaskan publik pendengarnya.
Oleh karena itu, pada makalah ini penulis membahas tentang peran penyiar terhadap eksistensi sebuah radio. Karena merekalah orang-orang yang mampu membuat radio lebih perkasa di antara media massa-media massa yang lain. Dengan segala kemampuan dan kecakapan yang mereka miliki, para penyiar terus berusaha menghidupkan radio di antara para pendengarnya.
.
A. Penyiar Radio (Announcer)
"Hai selamat pagi pendengar…pagi yang cerah buat memulai aktivitas…" . Kalimat di atas merupakan sapaan seorang penyiar radio "SWEET FM ROCK", yang setiap paginya para pendengar setia "SWEET FM" akan ditemani oleh suara David dengan lagu-lagu slow rock yang tengah hits. Tidak hanya menyuguhkan tembang-tembang yang disenangi penggemar, tapi juga memberikan informasi yang actual dan terkini.
Produk unggulan sebuah radio, selain lagu dan program acara adalah penyiar. Penyiar(announcer) adalah orang yang bertugas membawakan atau memandu sebuah acara di radio, misalnya acara berita, pemutaran lagu pilihan, talk show dsb. Ia menjadi ujung tombak sebuah stasiun radio dalam berkomunikasi dengan pendengar. Keberhasilan sebuah program acara (dengan parameter jumlah pendengar dan pemasukan iklan) utamanya ditentukan oleh kepiawaian penyiar dalam membawakan sekaligus "menghidupkan" acara tersebut.
Banyak orang beranggapan bahwa profesi sebagai penyiar radio itu gampang. Dengan duduk di balik meja operator dan bermodalkan suara bagus serta pandai bicara kemudian sesekali memutarkan lagu sudah bisa disebut sebagai penyiar radio. Mungkin hal itu yang selama ini orang pikirkan. Padahal bagi mereka yang sudah brtahun-tahun bergelut di dunia broadcast (penyiaran) untuk menjadi seorang penyiar itu tidaklah mudah.
Untuk itu, akan terjadi pemilihan penyiar yang punya skill lebih bagus. "Dulu aku juga punya gambaran, kalo penyiar radio itu gampang, tapi setelah aku jalani, aku mesti mengikuti pelatihan dulu sebelum resmi jadi penyiar", ungkap Winda, salah satu penyiar "MOZE FM".
Pada dasarnya, semua orang bisa menjadi penyiar radio, selama dia tidak punya kelainan dalam cara berbicara seperti gagap misalnya. Namun, untuk menjadi penyiar yang profesional, seseorang harus memiliki skill tertentu dalam hal komunikasi lisan, utamanya ia harus "lancar berbicara". Karena penyiar radio merupakan ujung tombak dalam dunia penyiaran radio. Sehingga banyak stasiun radio yang masih mempertahankan penyiar-penyiar lamanya karena sudah menjadi icon dari radio mereka.
Kenyataannya, penyiar yang sudah berhasil menjadi icon sebuah radiodan memiliki banyak pendengar, ketika dia keluar dari radio tersebut dan berpindah menjadi penyiar radio lain, maka terkadang pendengarnya pun ikut berpindah mendengarkan radio lain yang menjadi tempat siaran baru bagi penyiar kesayangannya tersebut.
Dan tidak dapat dipungkiri jika saat ini yang memiliki banyak pendengar adalah radio dengan target segmentasi pendengarnya adalah anak muda. Karena selain kemasan program yang kekinian untuk anak muda, penyiar-penyiarnya pun mampu menghidupkan radio menjadi lebih bervariasi dan menghibur. Namun bukan berarti radio yang beridentitas lain seperti radio pendidikan tidak mempunyai banyak pendengar. Radio-radio tersebut masih memiliki banyak kelebihan karena mengusung fungsi dasar radio yaitu to educate (pendidikan). Sehingga yang perlu diperhatikan disini adalah bagaimana penyiar-penyiar radio yang identitasnya berbeda tersebut bisa bersaing untuk tetap mempertahankan eksistensi radio yang ditempatinya.

B. Peran Dan Pengaruh Penyiar Bagi Eksistensi Radio
Telah dijelaskan sebelumnya, bahwa penyiar merupakan ujung tombak dalam dunia penyiaran radio. Penyiar mempunyai peran dan pengaruh yang cukup besar bagi eksistensi sebuah radio. Penyiar yang profesional akan mampu membawakan suatu program siaran dengan baik sehingga akan menarik banyak pendengar. Dan akhirnya secara tidak langsung akan berdampak pada pemasukan iklan yang terus bertambah.
Salah satu peran seorang penyiar radio adalah mampu membawakan suatu program siaran dengan baik. Sejalan dengan perkembangan dunia radio yang semakin berkembang dan menjual, maka banyak perubahan yang mesti terjadi, apalagi dalam program siarannya. Radio yang profesional dan komersil akan menuntut peraturan yang seragam sehingga akan tercipta sebuah format siaran yang mesti ditaati oleh penyiarnya.
Seorang penyiar harus mampu membawakan program siaran dengan format yang sudah ditentukan oleh pihak radio. Bahkan terkadang mereka juga harus memformat sendiri program siaran yang dibawakannya agar lebih menarik dan mampu menyedot banyak pendengar. Disinilah peran seorang penyiar berada. Semenarik apapun program acaranya jika si penyiar tidak dapat membawakannya dengan baik, maka tidak diragukan lagi bahwa pendengar akan segan untuk mendengarkannya. Sebaliknya, jika penyiar bisa mengemas sebuah program acara semenarik mungkin bagi pendengar, maka dia akan mendapat banyak sorotan.
Memang, yang paling membedakan dalam menyajikan acara siaran di radio adalah suara manusia, dalam hal ini adalah penyiarnya. Ia tampil akrab, terkadang mengharukan, marah, pilu, atau mengajak tertawa pendengarnya. Dengan suara-suara seperti itu, sebuah peristiwa akan dapat disajikan lebih hidup.informasi akan semakin jelas, menarik, dan mudah diserap bila dituturkan infleksi, lagu dan tekanan pada penuturannya. Vitalitas radio sesungguhnya terletak pada daya tarik ragam suara awak siarnya, juga ragam kosakata dan ungkapan lokalnya, nilai kepribadian radio yang manusiawi terletak di sini.
Perlu diingat juga bahwa dalam dunia penyiaran radio, keberadaan pendengar perlu mendapat banyak perhatian. Karena mereka lah yang menentukan eksis atau tidaknya sebuah radio. Namun di balik itu semua ada sosok seorang penyiar yang mampu menggiring banyak pendengar sehingga radio bisa tetap eksis. Tidak dipungkiri jika akhirnya penyiar-penyiar ini memiliki banyak fans.
Memang, salah satu yang membuat seorang penyiar bisa tetap eksis adalah penggemar. Meskipun mereka lebih dikaenal lewat suara, namun tidak mengherankan kehadiran seorang penyiar mampu membuat pendengarnya tergila-gila. Tidak jarang pendengar langsung main ke radio tersebut hanya untuk bertemu dengan penyiar favoritnya. Dan banyak pula yang pada akhirnya hubungan idola dan fans-nya ini berlanjut menjadi teman dekat atau sahabat. Berawal dari special program curhat dari sebuah radio. Penyiar yang bertugas membawakan acara tersebut akan dicap pendengar sebagai salah satu alternatif tempat curhat. Dan biasanya fans akan menghubungi penyiar, untuk meminta bertemu bisa curhat di luar jam siaran. Frekuensi bertemu yang terlalu sering bakal membuat hubungan akan nerubah menjadi teman. Tidak dapat dipungkiri juga keberadaan seorang fans sangat penting. Ada beberapa station manager mempertahankan penyiarnya yang memiliki pendengar paling banyak.
Disinilah pengaruh seorang penyiar begitu terlihat. Ketika dia mampu membawakan sebuah program acara dengan baik dan menarik banyak pendengar, maka secara otomatis dia telah membuat radio yang ditempatinya tetap eksis dengan kehadiran pendengar-pendengar tersebut. Karena besarnya pengaruh yang dimiliki seoarang penyiar, maka ketika berpindah tempat ke stasion radio lain, pendengarnya pun juga akan mengikutinya. Sehingga dengan kata lain, keberadaan penyiar sangat berpengaruh bagi eksistensi radio.
Selanjutnya, pengaruh yang lebih luas terlihat pada pemasukan iklan. Radio dengan jumlah pendengar yang banyak, kemungkinan besar dapat meraih pangsa iklan yang besar juga. Para produsen iklan tidak akan segan untuk memasung iklan jika radio tersebut terbukti memiliki banyak pendengar.
Semua itu kembali pada peran seorang penyiar. Walaupun sebenarnya bukan hanya sosok penyiar yang menentukan segalanya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa memang penyiarlah yang memberikan kontribusi lebih banyak bagi radio. Layaknya sebuah film, maka penyiarlah pemain utamanya. Karena walaupun semua itu dalam prosesnya adalah kerja tim, namun pada akhirnya yang tampil paling depan adalah penyiarnya.
Oleh karena itu, kontribusi seorang penyiar sangatlah besar. Jika dia mampu bekerja profesional, menarik banyak pendengar maka pangsa iklan pun juga akan berdatangan. Hal inilah yang menjadi modal utama bagi sebuah radio untuk bisa tetap eksis di tengah persaingan bisnis media yang semakin marak saat ini.

C. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Kinerja Seorang Penyiar
Telah dibahas sebelumnya bahwa penyiar mempunyai peran dan pengaruh yang cukup besar bagi eksistensi sebuah radio. Dan sepertinya profesi sebagai penyiar semakin banyak diminati khususnya anak muda. Apalagi di era globalisasi ini makin banyak bermunculan stasiun-stasiun radio baru yang tentunya membutuhkan banyak tenaga-tenaga baru sebagai penyiar.
Namun perlu diperhatikan bahwa ada banyak hal yang harus dilakukan atau dimiliki oleh seorang penyiar radio untuk menjadi penyiar yang profesional dan benar-benar memberikan kontribusi yang penuh bagi radionya.
Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah seorang penyiar harus memiliki skill(kecakapan). Keahlian utama yang mutlak dimiliki setiap seorang penyiar ada tiga yaitu berbicara, membaca dan menulis. Seorang penyiar harus pandai berbicara karena pekerjaan seorang penyiar adalah berbicara, mengeluarkan suara atau melakukan komunikasi secara lisan. Namun, tidak sekedar bisa "cuap-cuap". Karenanya ia harus "lancar berbicara" dengan kualitas vocal yang baik. Pelatihan vocal merupakan proses awal yang harus dijalani seorang penyiar yang ingin memiliki kualitas yang baik. Memiliki suara yang enak dan disukai adalah suatu keuntungan. Tapi kualitas suara dalam radio juga penting. Kecanggihan teknologi dapat membantu kita mendapatkan kualitas suara yang enak. Bahkan suara yang melengking sekalipun dapat mengembangkan suaranya sehingga menjadi menarik untuk didengar.
Melaksanakan siaran di radio berarti mengkreasikan banyak karakter dan situasi dalam kerangka imajinasi pendengar. Misalnya penyiar yang matang ditandai dengan suara yang penuh resonansi dan hati-hati ketika berbcara, itu yang biasanya terekam dalam imajinasi pendengar. Selain itu, pendengar tidak ada batasnya untuk berimajinasi tentang penyiar dari siaran yang didengarkannya. Oleh karena itu, seorang penyiar harus memiliki suara yang baik sebagai bunyi dasar suara dan berbicara.
Selanjutnya kecakapan yang harus dimiliki seorang penyiar adalah membaca. Dalam hal ini kemampuan spoken reading, yakni membaca naskah siaran namun terdengar seperti bertutur atau tidak membaca naskah. Satu hal lagi adalah kecakapan menulis (naskah siaran). Seringkali penyiar harus menyiapkan naskah siarannya sendiri. Karenanya ia harus memiliki kemampuan menulis naskah.
Tiga hal di atas merupakan keahlian utama yang harus dimiliki seorang penyiar. Selain harus memiliki kecakapan-kecakapan di atas, seorang penyiar juga harus memiliki wawasan yang luas. Ini adalah modal penting untuk menjadi penyiar yang profesional. Walaupun saat ini banyak bermunculan radio dengan target segmentasi adalah anak muda, yang tentu saja lebih menonjolkan acara-acara musik yang lagi hits saat ini, namun penyiarnya pun juga harus memiliki wawasan yang luas. Juga harus paham tentang jenis musik, alat musik dan artis-artisnya serta mampu berbicara dalam bahasa dan gaya anak muda.
Target segmentasi pendengar juga perlu diperhatikan. Dalam prakteknya, masing-masing radio memiliki standar tersendiri atau standar tambahan bagi para penyiarnya. Radio dengan segmen pendengar anak muda, tentu membutuhkan penyiar yang mampu berbicara dalam bahasa dan gaya anak muda. Radio dengan segmen pendengar dewasa, tentu mensyaratkan penyiarnya siaran dengan bahasa dan gaya dewasa.
Sesuai dengan sifat pribadi radio yang bisa dibawa ke mana-mana bahkan di tempat pribadi sekalipun, maka hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah seorang penyiar harus mampu menjadi sahabat yang baik bagi pendengarnya. Sebagai sahabat yang punya derajat yang setara, pendengar biasanya tidak suka penyiar yang terlalu menggurui, berpenampilan monoton, kasar, sombong, suka merendahkan bahkan menghina pendengar.jadi pendengar suka penyiar yang bisa dijadikan sahabat yang hangat, wajar dan tidak dibuat-buat.
Membangun komunikasi yang efektif dengan pendengar intinya tidak jauh berbeda, saat on air komunikasi yang efektif bisa dibangun saat sesi interaktif antara penyiar dan pendengar. Jika saat off air bisa saat pendengar datang ke studio dan penyiar harus menemuinya dan mengajaknya bicara. Dari pembicaraan tersebut dapat ditemukan apa yang sebenarnya diinginkan pendengar dari suatu radio. Tentunya dengan pembicaraan yang ramah, hangat dan bersahabat sehingga membuat pendengar nyaman, dengan begitu komunikasi akan berjalan dengan baik dan efektif.

Kesimpulan
Produk unggulan sebuah radio, selain lagu dan program acara adalah penyiar. Penyiar(announcer) adalah orang yang bertugas membawakan atau memandu sebuah acara di radio, misalnya acara berita, pemutaran lagu pilihan, talk show dsb. Ia menjadi ujung tombak sebuah stasiun radio dalam berkomunikasi dengan pendengar. Keberhasilan sebuah program acara (dengan parameter jumlah pendengar dan pemasukan iklan) utamanya ditentukan oleh kepiawaian penyiar dalam membawakan sekaligus "menghidupkan" acara tersebut
Penyiar mempunyai peran dan pengaruh yang cukup besar bagi eksistensi sebuah radio. Penyiar yang profesional akan mampu membawakan suatu program siaran dengan baik sehingga akan menarik banyak pendengar. Dan akhirnya secara tidak langsung akan berdampak pada pemasukan iklan yang terus bertambah.
Selanjutnya, dalam kinerjanya seorang penyiar harus memiliki banyak kecakapan seperti lancar berbicara, membaca naskah dan menulis naskah siaran. Penyiar juga harus berwawasan luas, bisa menjadi sahabat yang baik bagi pendengarnya serta mampu menciptakan komunikasi yang efektif dengan pendengarnya.

DAFTAR PUSTAKA


Buku:

Romli, Asep Syamsul M. 2004. Broadcast Journalism. Bandung: Nuansa

Prayudha, Harley. 2006. Radio: Penyiar, Its Not Just A Talk. Malang: Bayumedia

Internet:

http://rismata.multiplay.com/reviews/item/29
http://novithec.blogspot.com/2008/10/donna-orsha-sang-penyiar-radio- senior.html

No comments:

Post a Comment