Loading...

Saturday, April 10, 2010

BANJIR INFORMASI DAN MASYARAKAT INDONESIA

Pendahuluan

Tak ada satupun proses yang bisa menghentikan proses komunikasi, statment inilah yang selalu dikeluarkan oleh pakar komunikasi dimanapun. Perkembangan teknologi komunikasi yang sangat pesat saat ini menimbulkan banjir informasi di seluruh belahan dunia, termasuk juga di Indonesia. Sehingga, seakan-akan tak ada batas waktu dan ruang saat ini.
Ketika kemajuan di atas bersinggungan dengan masyarakat indonesia yang mayoritas masih terbelakang dan tinggal di pedesaan, maka muncullah kondisi baru dimana ada ketidak cocokan antara “stok informasi” yang datang dengan “wadah pengetahuan” masyarakat Indonesia yang menyebabkan mereka semakin terpuruk.

Televesi misalnya, yang merupakan salah satu celah yang dialiri banjir informasi, pada awalnya berfungsi sebagai penyela kesibukan. Akan tetapi sekarang malah menjadi penambah kesibukan dan bahkan sangat menyibukkan.
Banjir apapun dan apapun yang datang pada suatu komunitas atau masyarakat akan tetapi masyarakat itu siap dengan “bendungan luas” maka tak akan ada korban yang jatuh dalam “bencana” tersebut.

A. Perkembangan Teknologi Komunikasi Sebagai Faktor Banjir Informasi

Komunikasi sebagai suatu proses yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia mengawali sejarahnya bersamaan denga awal kehidupan manusia itu sendiri. Dan teknologi proses ini berkembang dari awal kehidupan hingga sekarang. Pengguunaan simbol-simbol sebagai media mengantarkan pesan serta penggunaan alat-alat yang memungkinkan bisa dimengerti oleh orang lain merupakan awal sejarah perkembangan tekniologi komunikasi.
Kemudian dilanjutkan dengan penemuan bahasa dan tulisan serta ditemukannya alat-alat yang bisa digunakan untuk menulis. Sejak saat inilah teknologi berkembangan dengan pesat,lebih-legih setelah alat cetak manual dan elektronik ditemukan yang terus berlanjut dengan telegram, telepon hingga satelit saat ini.

Perkembangan teknologi komunikasi yang sangat cepat membuat orang-orang semakin mudah berkomunikasi antara satu tempat yang sangat jauh dengan tempat lain di belahan dunia.
Perkembangan ini menjadikan dunia semakin kecil dan waktupun semakin singkat. Sehingga, seolah-olah kita hanya hidup di satu kamar kecilo yang sangat luas.

B. Banjir Informasi vs Sosial Kultur Masyarakat Indonesia

Indonesia adalah negeri yang heterogen dengan variasi suku, ras dan budaya yang sangat banyak. Negeri yang terletak di antara samudra hindia dan samudra pasifik ini hampir 80 % masyarakatnya hidup di pedesaan, dan kebanyakan dari mereka masih awam akan teknologi komunikasi . Lingkungan mereka masih sederhana dan cara berpikir merekapun masih kemiotos-mitosan .
Masyarakat indonesia pada umumnya masih terikat kuat dengan budaya mereka masing-masing, serta kebanyakan mereka selalu mencari hal-hal baru di dalam dan di luar hidup mereka.

Era baru yang hampir seluruhnya berpaham kapitalisme ini dimana banjir informasi telah menerjang hampir seluruh belahan dunia termasuk juga “nyelonong” masuk dalam sosial budaya “ndeso” masyarakat Indonesia.
Informasi yang ada saat ini sangat tidak terbatas dan bervariasi serta membutuhkan kesiapan yang matang untuk menerimanya.

Masyarakat indonesia yang mayoiritas masih awam tentang modernisme dan globalisasi tercenggang kala dihadapkan dengan “air bah informasi” yang datang dengan tiba-tiba. Lebih-lebih ketika media mengalir derasa dengar profit orientednya. Ketidak siapan ini menimbulkan banyak prinsip salah dalamkehidupan mereka. Kita ambil dua contoh yang mungking sagat familiar di telingan kita.
Prinsip yang pertama mengatakan“Yang baru itu baik” . Prinsip ini mejadikan mereka bebek yang hanya bisa ikut-ikutan. Semua barang dan informasi baru yang mereka dapat dianut dan ditelan mentah mentah tanpa ada filtrasi terlebih dahulu.

Susu bubuk merupakan barang baru dalam budaya indonesia. Dan banyak Ibu-ibu yang menggunakannya meski dalam keadaan terpaksa, tapi karena “yang baru itu baik” akhirnya mereka tetap memberikan susu bubuk meski dalam kondisi ekonomi yang sangat memperihatinkan, sehingga prosedur susu bubuk yang seharusnya lima sendok, malah dikasihkan dua atau satu sendok. Dan akibatnya bayi mereka terkena diare dan terkadang mematikan.
Prinsip yang kedua berbunyi “say no for an innovation is a false”, jadi, menolak sebuah inovasi itu salah . Prinsip ini sebenarnya sangat berkaitan dengan prinsip yang pertama. Pemahaman ini menganggap bahwa menolak inovasi dapat dipastikan sebagai gejala keterbelakangan dan kekolotan. Mungkin kita sudah paham kenapa orang-orang risih dikatakan tidak modern, terbelakang, ataupun konservatif, karena itulah terkadang orang-orang terpakasa menerima inovasi agar mereka tidak dikatakan terbelakang dan kolot.

Munculnya prinsip-prinsipdan keadaan yang saya kira kurang benar ini salah satu penyebabnya adalah kurang eksisnya media dalam menyadarnya masyarakat. Bahwa banjir informasi saat ini membutuhkan pengetahuan tentang informasi tersebut dan mengontrol mereka dalam mendapatkan informasi yang ada.
Sehingga, informasi yang pada awalnya berfungsi sebagai sosialisasi dunia lain dengan tujuan berbagi informasi, mendidik, transmisi budaya serta integrasi dan kemakmuran bangsa berada pada tempat yang seharusnya. Bukan malah menjadi kebingungan masyarakat dan melunturkan nilai-nilai budaya yang ada.

Onong Uchjana dalam bukunya Dinamika Komunikasi menulis. Komunikasi,terutama komunikasi massa, dengan fungsinya sebagai sarana hiburan,penerangan dan pendidikan menimbulkan pengaruh positif. Akan tetapi, jika kurang keterampilan, pengetahuan dan kewaspadaan pihak yang menanganinya, pengaruhnya yang negatif juga tidak sedikit. Melihat ketidak siapan masyarakat menerima pesan-pesan yang disampaikan yang pengaruhnya dapat merusak nilai-nilai yang seharusnya dipertahankan dan dikembangkan .

Dan ketika kita berkaca pada fenomena di atas, ternyata memang benar ketika Indonesia dikatakan sebagai “negeri bebek”.


KEPUSTAKAAN
• Effendi, Unong Uchjana, Dinamika Komunikasi, Bandung : Remaja Karya, 1986
• Mawardi dan Ir. Nur HIdayati, IAD-IBD-ISD, untuk UIN, IAIN dan PTAIS,
Bandung : Pustaka Setia, 2007

• Sutaryo, Sosiologi Komunikasi, Yogyakarta : Arti Bumi Intaran, 2005
• Ranjabar, Jacobus, Sistem Sosial Budaya Indonesia, Bogor : Ghalia Indonesia, 2006
• Wardana, Veven SP, apitalisme Televisi dan Strategi Budaya, Jogjakarta : Pustaka
Pelajar, 1997
• McQuail, Denis,Teori Komunikasi Massa,Suatu Pengantar, Jakarta : Erlangga, 1989

No comments:

Post a Comment