Loading...

Saturday, April 10, 2010

BENTUK DAN MAKNA DALAM BAHASA INDONESIA

BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
Pada zaman sekarang, sedikit sekali masyarkat atau remaja yang mengenal bahasa Indonesia secara benar. Kebanyakan dari mereka menggunakan bahasa gaul sebagai bahasa komunikasi. Sebenarnya itu adalah kesalahan besar masyarkat kita. Masyarakat tidak bangga dengan bahasa resminya. Mereka lebih bangga dengan bahasa yang telah mereka rusak sendiri.
Seharusnya kita sebagai warga negara Indonesia yang baik lebih bangga dengan bahasa resmi kita, tidak dengan bahasa gaul yang telah kita ciptakan sendiri tanpa menggunakan kaidah EYD yang berlaku. Masalah ini telah menjadi masalah yang serius bagi kita. Dan sudah seharusnya kita sebagai warga negara yang baik, mau mempelajari dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah bentuk dan makna dalam bahasa Indonesia?
2. Apakah macam-macam bentuk dan makna itu?
3. Apakah kegunaan dari macam bentuk dan makna itu?
C. Tujuan
Makalah ini berisi penjelasan tentang bentuk dan makna yang ada dalam bahasa Indonesia, yang diharapkan bisa membantu para pembaca dalam memahami bahasa Indonesia lebih mendalam.

BAB II
Pembahasan
BENTUK DAN MAKNA
Satuan bentuk terkecil dalam bahasa adalah fonem dan yang terbesar adalah karangan. Di antara satuan bentuk terkecil dan terbesar itu terdapat deretan bentuk morfem, kata, frasa, kalimat dan alinea.
Ketujuh satuan bentuk bahasa itu diakui eksistensinya jika mempunyai makna atau dapat mempengaruhi makna. Dapat mempengaruhi makna maksudnya kehadirannya dapat mengubah makna atau menciptakan makna baru. Hubungan antara bentuk dan makna dapat diibaratkan sebagai dua sisi mata uang, yang saling melengakapi. Karena bentuk yang tidak bermakna atau tidak dapat mempengaruhi makna tidak terdapat dalam tata satuan bentuk bahasa.

 FONEM
Fonem adalah bunyi terkecil yang dapat membedakan arti (bunyi dari huruf), sedangkan huruf adalah lambang bunyi atau lambang fonem. Jadi, fonem sama denagn bunyi (untuk didengar), huruf adalah lambang ( untuk dilihat). Jumlah huruf hanya ada 26, tetapi fonem bahasa Indonesia lebih dari 26 karena beberapa huruf ternyata mempunyai lebih dari satu lafal bunyi.
Variasi pelafalan huruf e, o, dan k
Huruf Contoh pelafalan dalam kata Fonem

e jahe, karate, sate
emas, lepas, pedas
enak, engsel, elok /e /
/∂/
/ /

o
sekolah, organisasi, sosial
beo, solo (=sendiri), trio (=penyanyi) /o/
/o/
k bak (tempat air), botak, otak
anak, enak, ternak /k/
/?/



 MORFEM
Morfem adalah satuan bentuk terkecil yang dapat membedakan makna dan atau mempunyai makna. Morfem dapat berupa imbuhan (misalnya –an, me-, me-kan), klitika/partikel (misalnya –lah, -kah), dan kata dasar (misalnya bawa, makan).
Untuk membuktikan morfem sebagai pembeda makna dapat dilakukan dengan menggabungkan morfem dengan kata yang mempunyai arti leksikal. Jika penggabungan menghasilkan makna baru, unsur yang digabungkan dengan kata dasar itu adalah morfem.
Contoh:
makan + -an = makanan
me- + makan = memakan

Yang disebut partikel adalah unsur-unsur kecil dalam bahasa. Dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1998:342), partikel -kah, -lah, -tah diakui sebagai klitika. Klitika tidak sama dengan imbuhan.
Menurut bentuk dan maknanya, morfem ada dua macam:
1) Morfem bebas: morfem yang dapat berdiri sendiri dari segi makna tanpa harus dihubungkan dengan morfem yang lain. Semua kata dasar tergolong sebagai morfem bebas.
2) Morfem terikat: morfem yang tidak dapat dapat berdiri sendiri dari satu makna. Maknanya baru jelas setelah dihubungkan dengan morfem yang lain. Semua imbuhan (awalan, sisipan, akhiran, kombinasi awalan dan akhiran), partikel -ku, -lah, -kah dan bentuk bentuk lain yang tidak dapat berdiri sendiri termasuk morfem terikat.
 KATA
Kata adalah satuan bentuk terkecil (dari kalimat) yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai makna. Kata yang terbentuk dari gabungan huruf atau gabungan morfem; atau gabungan huruf dengan morfem, baru diakui sebagai kata bila bentuknya mempunyai makna.
Dari segi bentuk, kata dibagi atas dua macam:
1) Kata yang bermorfem tunggal (kata dasar).
Yaitu kata yang belum mendapat imbuhan.
2) Kata yang bermorfem banyak
Yaitu kata yang sudah mendapat imbuhan.

Pembagian kelas atau jenis kata:

1) kata benda (nomina) 6) kata bilangan (numeralia)
2) kata kerja (verba) 7) kata sambung (konjungsi)
3) kata sifat (adjektiva) 8) kata sandang (artikel)
4) kata ganti (pronomina) 9) kata seru (interjeksi)
5) kata keterangan (adverbia) 10) kata depan (preposisi)

 Kata kerja (verba)
Adalah kata yang menyatakan perbuatan atau tindakan, proses, dan keadaan yang bukan merupakan sifat. Umumnya berfungsi sebagai predikat dalam kalimat.
Ciri-ciri kata kerja:
1) Dapat diberi aspek waktu, seperti akan,sedang, dan telah.
Contoh: (akan) mandi
2) Dapat diingkari dengan kata tidak
Contoh: (tidak) makan
3) Dapat diikuti oleh gabungan kata (frasa) dengan + kata benda /kata sifat.
Contoh: tulis + dengan pena (KB) menulis + dengan cepat (KS)
Selain bentuk di atas, ada bentuk verba yang lain, yaitu:
a) Verba reduplikasi atau verba berulang dengan dengan atau tanpa pengimbuhan, misalnya makan-makan, batuk-batuk.
b) Verba majemuk, yaitu verba yang terbentuk melalui proses penggabungan kata, namun bukan berupa idiom; misalnya terjun payung, tatap muka.
c) Verba berpreposisi, yaitu verba intransitif yang selalu diikuti oleh preposisi tertentu; misalnya tahu akan, cinta pada.




 Kata sifat (adjektiva)
Adalah kata yang menerangkan sifat, keadaan, watak, tabiat orang/binatang/suatu benda. Umumnya berfungsi sebagai predikat, objek ,dan penjelas dalam kalimat. Dibedakan atas dua macam, yaitu:
1) kata sifat berbentuk tunggal, dengan ciri-ciri:
a. dapat diberi keterangan pembanding seperti lebih, kurang, dan paling: misalnya lebih baik.
b. Dapat diberi keterangan penguat seperti sangat, sekali; misalnya sangat senang, sedikit sekali.
c. Dapat diingkari dengan kata ingkar tidak, misalnya tidak benar.
2) kata sifat berimbuhan. Contoh: abadi, manusiawi, kekanak-kanakan.

 Kata keterangan (adverbia)
Adalah kata yang memberi keterangan pada verba, adjektiva, nomina predikatif, atau kalimat. Kalimat Saya ingin segera melukis, kata segera adalah adverbia yang menerangkan verba melukis.

 Rumpun kata benda (nomina)
Adalah kata yang mengacu kepada sesuatu benda (konkret maupun abstrak). Kata benda berfungsi sebagai subjek, objek, pelengkap, dan keterangan dalam kalimat.
Ciri kata benda:
1) Dapat diingkari dengan kata bukan.
Contoh: gula (bukan gula).
2) Dapat diikuti setelah gabungan kata yang + kata sifat atau yang sangat + kata sifat.
Contoh: buku + yang mahal (KS).

Ada dua jenis kata yang juga mengacu kepada benda, yaitu:
Pronomina: kata yang dipakai untuk mengacu kepada nomina lain.
Contoh: mana, kapan, Bu
Numeralia : kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya orang, binatang, atau barang.
Contoh: tiga, puluhan.
Jadi, rumpun kata benda ada: 1) kata benda (nomina), 2) kata ganti (pronomina), 3) kata bilangan (numeralia).


 Rumpun kata tugas (partikel)
Adalah kumpulan kata dan partikel. Lebih tepat dinamakan rumpun kata tugas, yang terdiri atas:
1) Kata depan (preposisi)
Adalah kata tugas yang selalu berada di depan kata benda, kata sifat atau kata kerja untuk membentuk gabungan kata depan (frasa preposional).
Contoh: di kantor, sejak kecil.
2) Kata sambung (konjungsi)
Adalah kata tugas yang berfungsi menghubungkan dua kata atau dua kalimat.
Contoh: - …antara hidup dan mati (dalam kalimat)
- Situasi memang sudah membaik. Akan tetapi, kita harus selalu siaga.
3) Kata seru (interjeksi)
Adalah kata tugas yang dipakai untuk mengungkapkan seruan hati seperti rasa kagum, sedih, heran, dan jijik. Kata seru dipakai di dalam kalimat seruan atau kalimat perintah (imperatif).
Contoh: Aduh, gigiku sakit sekali!
Ayo, maju terus, pantang mundur!
4) Kata sandang (artikel)
Adalah kata tugas yang membatasi makna jumlah orang atau kata benda. Artikel ada tiga, yaitu:
(a) yang bermakna tunggal: sang putri
(b) yang bermakna jamak: para hakim
(c) yang bermakna netral: si hitam manis.
5) Partikel
Bermakna unsur-unsur kecil dari suatu benda. Partikel yang dibicarakan di sini adalah partikel yang berperan membentuk kalimat tanya (interogatif) dan pernyataan, yaitu:
-kah: Apakah Bapak Ahmadi sudah datang?
Berfungsi sebagi kalimat tanya yang membutuhkan jawaban.
-lah: Apalah dayaku tanpa bantuanmu?
Berfungsi sebagai kalimat tanya yang tidak membutuhkan jawaban tetapi tetap diberi tanda tanya.
Dialah yang Maha Kuasa, kata lah dalam kalimat ini menunjukkan partikel dan harus ditulis dengan huruf kecil.
DiaLah yang makan, kata lah dalam kalimat ini menunjukkan kata hubung dan harus ditulis dengan huruf besar.
-tah: Apatah dayaku tanpa engkau?
Kalimat pertanyaan yang tidak membutukan jawaban (kalimat retoris). Partikel ini adalah serapan dari bahasa Jawa.
pun: Karena dosen berhalangan, kuliah pun dibatalkan.
Setiap kalimat yang memerlukan jawaban harus diberi tanda tanya.
 Frasa
Adalah kelompok kata yang tidak mengandung predikat dan belum membentuk klausa atau kalimat. Berfungsi sebagai subjek, predikat, objek dan keterangan di dalam kalimat.
Ciri frasa:
(1) Kontruksinya tidak mempunyai predikat,
(2) Proses pemaknaannya berbeda dengan idiom,
(3) Susunan katanya berpola tetap.
Frasa tidak boleh mengandung predikat dan tidak sama dengan idiom, karena cakupan makna makna yang dibentuk oleh frasa masih di sekitar makna leksikal kata pembentuknya karena hakikatnya frasa adalah kata yang diperluas dengan memberi keterangan.
Contoh: jumpa pers; berjumpa dengan pers.





 Makna dan perubahannya
Ada dua macama makna yang terpenting, yaitu:
1) Makna leksikal/makna denotasi/makna lugas adalah makna kata secara lepas tanpa kaitan dengan kata yang lain dalam sebuah struktur. Leksikal berasal dari leksikon yang berarti kamus. Sehingga, makna leksikal ialah makna yang tertera dalam kamus, misalnya kata belah dapat bermakna celah, pecah menjadi dua, sisi dll. Makna ini biasanya digunakan dalam surat-surat resmi, surat-surat dagang, laporan dan tulisan ilmiah agar makna menjadi pasti, sehingga tidak terjadi salah tafsir.
2) Makna gramatikal atau makna konotasi ialah makna yang timbul akibat proses gramatikal. Disebut juga makna struktural karena makna yang timbul bergantung pada struktur tertentu sesuai dengan konteks dan situasi dimana kata itu berada.
Contoh:
(i) lembah hitam (daerah /tempat mesum)
(ii) kuhitamkan negeri ini (kutinggalkan untuk selamanya)

Dalam kaitan dengan makna, ada istilah-istilah yang perlu kita pahami,
a) Sinonim atau padan makna ialah ungkapan yang maknanya hampir sama dengan
ungkapan lain. Contoh: nasib = takdir.
b) Antonim atau lawan makna ialah ungkapan yang maknanya kebalikan dari ungkapan lain.Contoh: baik >< buruk. c) Homonim terjadi jika dua kata mempunyai bentuk dan ucapan yang sama, tetapi maknanya berbeda. Contoh: mengukur (dari kukur) dan mengukur (dari ukur) Homofon terjadi jika dua kata mempunyai ucapan yang sama, tetapi makna dan bentuknya berbeda; misalnya kata sangsi = ragu-ragu dan sanksi = hukuman. Homograf terjadi jika dua kata mempunyai bentuk yang sama tetapi bunyi atau ucapan dan maknanya berbeda; misalnya beruang = nama binatang, beruang = mempunyai uang. d) Hiponim terjadi jika makna sebuah ungkapan merupakan bagian dari makna ungkapan yang lain. Misalnya merah adalah hiponim dari kata berwarna. Dan diantara perubahan makna yang penting, antara lain: 1) Meluas, jika cakupan makna sekarang lebih luas dari makna yang lama. Misalnya kata putra-putri = anak-anak raja (dahulu) = laki-laki dan wanita (sekarang) 2) Menyempit, jika cakupan makna dahulu lebih luas dari makna yang sekarang. Misalnya kata sarjana = semua cendekiawan (dahulu) = gelar akademis (sekarang) 3) Amelioratif yaitu perubahan makna yang mengakibatkan makna baru dirasakan lebih tinggi atau lebih baik nilainya dari makna lama. Kata wanita nilainya lebih tinggi dari kata perempuan. 4) Peyoratif yaitu perubahan makna yang mengakibatkan makna baru dirasa lebih rendah nilainya dari makna lama. Dalam peyoratif, arti yang baru dirasa lebih rendah nilainya dari arti yang lama. Dan bertalian erat dengan sopan santun yang dituntut dalam kehidupan bermasyarakat. Kata yang mulanya dipakai untuk menyembunyikan kata yang dianggap kurang sopan, suatu waktu dapat dianggap kurang sopan, sehingga harus diganti dengan kata lain. Kata bunting dianggap tinggi pada zaman dahulu, sekarang dirasa sebagai kata yang kasar dan kurang sopan, lalu diganti dengan kata hamil atau mengandung. 5) Sinestesia yaitu perubahan makna yang terjadi karena pertukaran tanggapan dua indera yang berlainan. Contoh: Mukanya masam. 6) Asosiasi yaitu perubahan makna yang terjadi karena persamaan sifat. Contoh: Beri dia amplop agar urusan cepat beres. 7) Metafora adalah perubahan majna karena persamaan sifat antara dua objek> Conto: putrid malam (untuk bulan).
8) Metonimi terjadi karena hubungan yang erat antara kata-kata yang terlibat dalam dalam suatu lingkungan makna yang sama dan dapat diklasifikasi menurut tempat atau waktu, hubungan isi dan kulit, hubungan antara sebab dan akibat.
Contoh: penemuan-penemuan yang sering disebut menurut penemunya, seperti: Ohm, Ampere.



BAB III
KESIMPULAN


 Satuan bentuk dalam bahasa Indonesia terdiri dari beberapa macam, yaitu :
- Fonem
- Morfem
- Kata
- Frasa
- Makna dan perubahannya

 Masing-masing dari mereka mempunyai fungsi yang berbeda, tetapi saling berkaitan dan mendukung terciptanya bahasa Indonesia yang baik

















Daftar Pustaka




- Keraf, Gorys, 1996, Diksi dan Gaya Bahasa, Jakarta : PT Gramedia
- Finoza, Lamuddin, 2006, Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta : Insan Media.



































Lampiran 1

Pertanyaan-pertanyaaan

1. Apakah maksud hubungan antara bentuk dan makna diibaratkan seperti mata uang?
2. Apakah ada aturan khusus untuk menulis kata sifat dalam bahasa Indonesia?
3. Apakah semua kata sangat dan yang bisa berubah menjadi kata benda?
4. Apakah yang dimaksud dengan klitika?
5. Apakah perbedaan dari partikel kah, lah, tah, pun?

No comments:

Post a Comment